| Senin, 21 Januari 2008 | EKONOMI |
Industri Perlu DiproteksiJAKARTA-Krisis di Amerika Serikat diyakini belum berdampak langsung terhadap laju perekonomian nasional. Begitu pun dengan iklim investasi yang dinilai masih cukup prospektif. Hal itu diungkapkan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Muhammad Luthfi kepada wartawan usai rakor di Kantor Kementerian Perekonomian, Lapangan Banteng, Jakarta Pusat akhir pekan lalu. ''Kita dengan AS tidak berkonotasi terlalu banyak, ekspor nonmigas kita tidak lebih dari 2 miliar dolar. Yang jadi masalah, ketika konsumsi AS melemah. Eksporter terbesar AS, yakni China, berarti barang China bisa dilempar ke luar AS,'' jelasnya. Untuk itu, lanjutnya, selain menumbuhkan iklim investasi yang komparatif, Indonesia juga harus memproteksi industri dalam negeri terhadap produk-produk asing yang membanjir. Pola Investasi Sebagaimana terjadi pada industri tekstil dan produk tekstil (TPT) yang tergerus barang-barang TPT China. Ditambah lagi, kapasitas mesin pertekstilan dalam tiga tahun terakhir menurun. Luthfi mengatakan, hal itulah yang akan berdampak langsung pada pola investasi ke depan. ''Kita akan menjadi negara yang justru lemah dalam kapasitas industri, tapi tetap bagus dari sisi sumber daya alam,'' tambahnya. Terobosan yang dapat diambil pemerintah untuk memperbaiki iklim investasi, kata dia, pemberian insentif dan proteksi industri dalam negeri. Pemerintah harus menjaga agar pasar dalam negeri tidak menjadi arena dumping produk-produk tidak kompetitif yang dilempar asing. ''Kalau ini sampai terjadi, investasi akan melemah,'' ungkapnya. Luthfi meyakini, hal yang mengundang investor berinvestasi, yakni sumber daya alam, seperti kelapa sawit, nikel, batubara, dan mineral. Dengan situasi eksternal yang melambat, pertumbuhan investasi pun terkoreksi dari target 15,2 persen menjadi 10 persen. Menko Perekonomian Boediono menyatakan, pemerintah telah melakukan pertahanan terhadap resesi global. ''Misalnya, masalah kekuatan di bidang fiskal, jangan sampai itu menimbulkan suatu kerapuhan,'' katanya. Dampak kasus subprime morgage di AS terhadap perbankan dalam negeri juga dinilai masih baik. Sedangkan pertumbuhan ekonomi, saat ini tergantung pada dinamika internal, yaitu pembangunan infrastruktur dan peningkatan APBN.(J10-33) |