| Senin, 21 Januari 2008 | BUDAYA |
Membaca PerempuanSEJAK kapan perempuan bisa dibaca? Tak bakal pernah! Itulah simpulan yang bisa diperoleh dari pameran lukisan "Empathy In Art" Donovan Phity. Ya, lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta 1988 yang berpameran di Phoenix Art Center, Darmawangsa Square, Jakarta, itu bahkan menegaskan keberadaan perempuan dengan segala kemisteriusannya makin dibaca kian kabur. Berdasar pemahaman terhadap sosok perempuan itulah, Donovan memaerkan puluhan karya berbagai ukuran dengan cat minyak di atas kanvas pada 18-28 Januari. Apa yang patut dicatat dari pameran mantan pelukis poster film bioskop di Jakarta itu? Kurator Merwan Yusuf menuturkan keistimewan pelukis yang menekuni teori lukis Walter Foster sejak umur 13 tahun itu terletak pada kemampuan mengekplorasi garis dan warna. Selain, tentu saja, yang utama menempatkan perempuan ke tempat terhormat. "Perempuan adalah sosok ibu yang protektif, melindungi, mengasihi, siap berkorban, mandiri, keibuan sekaligus kuat," ujar Merwan. Juru Selamat Pada titik puncak, kreator meletakkan perempuan sebagai sosok juru selamat. Itu terlihat lewat bahasa semiotik dalam beberapa karya, seperti Love Letter, Saya Kuat Menggapai Masa Depan, Anugerah, Kasih Sayang, Buah Hati, Kasih untuk Anak-anak, Karunia, Cinta Ibu, hingga Happy Birthday. Semua berkisah tentang aktivitas perempuan di pantai, kafe, ruang tidur, di atas bukit, panggung, ruang keluarga, sampai lantai dansa. Cara ungkap Donovan yang menetap di Batam tidak realis. Dia ekpresif lewat tarikan garis dan torehan warna. Namun semua bahasa simbol itu cukup terpancar. Penilaian Merwan dalam "membaca" lukisan Donovan masih bisa diperdebatkan. Sebab, betapapun lukisan itu mempunyai beribu makna sesuai dengan intepretasi sang pembaca. Namun ikhtiar itu, kata Donovan, sedikit-banyak menjadi jembatan dengan penikmat. "Sedikit-banyak apa yang saya inginkan sudah diungkap Merwan. Namun akhirnya pemahaman saya kembalikan secara merdeka kepada penikmat lukisan saya, tanpa saya harus menerang-nerangkannya," ujar Donovan. Penikmat seni Melanie Setiawan menuturkan tak semua pelukis mampu menyelaraskan garis dan warna menjadi sesuatu yang ekpresif. Dan Donvan, ujar dia, mampu membuat seni berubah menjadi bagian yang membanggakan. "Itulah seni yang mencerahkan hati," katanya. (Benny Benke-53) |