logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 21 Januari 2008 BANYUMAS
Line

JALUR SELATAN

65 Ribu Calon Pemilih Tak Terdanai

WONOSOBO - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jateng hanya menyetujui dana penyelenggaraan pemilihan gubernur (pilgub) di Kabupaten Wonosobo Rp 10.907.550.430. Akibatnya, 65.692 calon pemilih terancam tak terdanai.

Besaran dana yang disetujui KPU tersebut bardasar daftar penduduk potensi pemilih pemilu (DP4) yang diajukan Kapendukcapil, November lalu. Dalam daftar tersebut, tercatat 512.964 warga di 1310 TPS yang memiliki hak pilih. Padahal berdasar DP4 milik KPU Kabupaten Wonosobo, terdapat 578.656 orang yang memiliki hak pilih.

"Data Kapendukcapil belum menyertakan jumlah pemilih dari dua kecamatan," ujar Ketua KPU Wonosobo Drs Arifin Shiddiq MPdI melalui Ketua Divisi Logistik dan Keuangan Shofia Nugrahani SP, kemarin.

Menurut dia, selisih jumlah TPS tak akan menimbulkan masalah. Namun permasalahan akan muncul terkait indeks variabel pemilih.

Saat ini, lanjut dia, pihaknya akan terus berkoordinasi dengan KPU Jateng agar data DP4 bisa direvisi. Sebab, data itulah yang menjadi acuan untuk penyusunan anggaran. Terlebih, dana APBD I akan dipakai untuk membiayai teknis pelaksanaan pilgub, yang meliputi honorarium petugas dan pengadaan barang/jasa. Dengan asumsi, pilgub berlangsung dalam dua putaran. (J9-72)

Rumah WR Soepratman Akan Jadi Museum

PURWOREJO-Rumah kelahiran WR Soepratman di Dusun Trembeleng, Desa Sumongari, Kecamatan Kaligesing, Purworejo, akan dijadikan museum sejumlah tokoh pahlawan Indonesia. Acara peluncurannya sekaligus sosialisasi akan diadakan sekitar akhir Februari mendatang atau bertepatan dengan kegiatan Jolenan.

Meskipun termasuk sebagai salah satu peninggalan sejarah, respons Pemkab pada keberadaan rumah tersebut tampaknya masih kurang. Padahal, tempat itu memiliki makna penting dalam perjalanan sejarah hidup WR Soepratman, salah satu tokoh nasional bangsa Indonesia.

Pada tahun lalu Pemkab memang merenovasi dengan anggaran pembiayaan sekitar Rp 170 juta, yang diambilkan dari APBD II. Namun, ketika disinggung ada atau tidak anggaran khusus untuk tahap pemeliharaan tahun ini, Pemkab melalui Disbudpar mengaku belum mengajukannya.

Kepala Disbudpar Ir Rachmadi Setiawan MT menjelaskan, pihaknya lupa mencantumkan situs WR Soepratman saat menyusun rencana anggaran beberapa waktu lalu. ''Tapi nanti akan kami ajukan melalui APBD Perubahan,'' tandasnya, kemarin, di rumahnya.

Dia menambahkan, bidang kesenian dan kebudayaan memang lebih dijadikan prioritas oleh dinas yang dibawahinya. (J1-66)

Harga Bahan Pokok Melambung

BANJARNEGARA-Harga berbagai bahan pokok seperti telur, minyak goreng,tepung terigu dan kedelai kini mulai melambung.

Berdasar pantauan kemarin di Pasar Kota Banjarnegara, harga terigu cap segitiga yang semula per kantong (25 kg) Rp 100 ribu, kini menjadi Rp 200 ribu atau sekitar Rp 8.000/kg. Padahal, sebelumnya harga per kilogramnya pada berkisar Rp 4.000.

Harga telur naik dari Rp 6.500/kg menjadi Rp 10.300/kg. Kedelai juga turut melambung harganya dari semula Rp 3.500/kg kini pada kisaran Rp 7.500/kg. Adapun minyak goreng naik menjadi Rp 10 ribu/kg dari harga sebelumnya Rp 8.600/kg.

Beras juga turut mengalami kenaikan cukup mencolok. Untuk jenis C4 naik dari Rp 4.500/kg menjadi Rp Rp 5.300/kg. Sedangkan jenis IR terus merangkak naik dari harga semula Rp 4.000/kg menjadi Rp 4.600/kg.

Naiknya harga kebutuhan pokok tersebut, menjadi pukulan berat bagi masyarakat dengan penghasilan minim. Muslimin (55) warga Desa Winong, Kecamatan Bawang yang setiap harinya bekerja sebagai seorang buruh mengaku saat ini kehidupannya lebih susah. (H25-29)

Warga Kejebur Blokir Jalan

BANYUMAS-Warga Dusun Kejebur, Desa Karangtengah, Kecamatan Kemangkon melakukan aksi pemblokiran jalan dengan cara menanam batang pohon di jalan. Aksi ini dimaksudkan, agar truk tidak bisa lewat. Mereka juga menuntut pemerintah kabupaten segera melakukan pengaspalan jalan.

Jalan ini hampir tiap hari dilewati truk membawa hasil-hasil pertanian dan material sungai. Alasannya dengan melewati jalan ini, jarak yang ditempuh akan lebih dekat. Biasanya, kendaraan yang lewat berasal dari wilayah sekitar Kemangkon menuju wilayah Banyumas dengan melewati Dusun Kejebur, Kalialang dan Kalicupak ataupun sebaliknya.

Dengan memakai jalan pintas melewati Dusun Kejebur, pengemudi truk mampu memangkas jarak sekitar 8 km. ''Kalau tidak menggunakan jalan ini, kendaraan harus berjalan memutar sepanjang 8 km,'' kata Rohiman (38), warga Kejebur, kemarin.

Ia menjelaskan, akibat seringnya dilewati truk, kondisi jalan menjadi rusak. Apalagi jika hujan kerusakan jalan bertambah parah. (H48-29)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA