logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 21 Januari 2008 BANYUMAS
Line

PSPA Satria Baturraden

Setelah Sebulan Anak Binaan Berubah

CAKUPAN layanan yang meliputi tiga puluh kabupaten di Jateng membuat Panti Sosial Petirahan Anak (PSPA) Satria Banyumas kesulitan menampung anak yang mengalami masalah dalam penyesuaian diri.

Saat ini daya tampungnya hanya bisa untuk membina 100 hingga 110 anak dari tiap kabupaten selama satu bulan. Dalam setahun cuma mampu melayani dua belas kabupaten, sehingga daerah yang belum mendapat giliran harus masuk daftar tunggu.

Kepala PSPA Drs Baihaki Natsir mengatakan jika daya tampung bisa ditambah menjadi 150 anak, akan lebih banyak lagi anak yang bisa segera ditangani karena dalam satu bulan dimungkinkan melayani lebih dari satu kabupaten.

Selain daya tampung, sumber daya manusia (SDM) mesti dioptimalkan. Dari 15 pekerja sosial belum ada satupun psikolog. Kini tiga orang baru menempuh pendidikan ilmu psikologi di UGM. Akibatnya kalau ada anak memerlukan tenaga ahli, didampingi psikolog dari RSUD Banyumas.

''Masalah anak harus segera ditangani. Jika tidak, tak menutup kemungkinan akan berkembang ke arah yang tidak baik. Anak yang suka mencuri, misalnya, kalau tidak cepat ditangani, besar kemungkinan akan menjadi pelaku kriminal saat dewasa,'' tutur Baihaki.

Anak yang mengalami masalah penyesuaian diri biasanya dikategorikan menjadi anak pranakal dengan sifat kurang bertanggung jawab, pemalas, dan tidak mandiri. Lebih parah lagi disebut nakal dan biasanya susah diatur, serta suka memalak teman dan merokok.

Lebih Baik

Staf fungsional perencana muda pada PSPA, Wiwit Widiansyah, menuturkan anak perkotaan biasanya masuk kategori nakal, sedangkan anak pedesaan lebih pada pranakal atau tidak bisa menyesuaikan diri terhadap lingkungan karena minder.

Pembinaan terhadap mereka dilakukan selama satu bulan. Materinya tidak hanya bimbingan belajar, namun juga mental spiritual, bakat dan kreativitas, fisik dan kesehatan lingkungan, serta sosial serta kepribadian.

''Berdasarkan pengalaman setelah sebulan dibina sifat mereka menjadi lebih baik. Namun setelah dikembalikan ke daerahnya tetap harus dipantau oleh guru dan keluarga, paling tidak dalam tiga bulan,'' tutur Wiwit.

Rubiyanti (45) yang menengok cucunya, Dani Rizki Aji (11), salah seorang anak yang dibina di PSPA Satria menuturkan siswa kelas V SD itu menampakkan perubahan besar setelah dibina dua minggu.

''Ia langsung mencium dan menjabat tangan saya ketika datang. Padahal sebelumnya tidak pernah begitu sopan. Biasanya marah-marah kalau keinginannya tak dituruti,'' ujarnya.

Dani mengatakan ia akan berusaha menjadi anak yang lebih patuh dan rajin sekolah. Ia mengakui sebelumnya malas belajar. (Anik HP-27)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA