| Senin, 21 Januari 2008 | BANYUMAS |
Kurang Modal, Petani Enggan Tanam KedelaiPURWOREJO - Stok kedelai yang minim ditengarai menjadi salah satu penyebab harga komoditas tersebut melambung dalam minggu terakhir ini. Namun di sisi lain, mayoritas petani mengaku enggan menanam kedelai. Akibatnya, ketergantungan pada impor pun jadi cukup tinggi. Kondisi serupa juga terjadi di Kabupaten Purworejo, dari 30.200 hektare lahan, baru 2.500 hektare yang ditanami kedelai. Kasie Pengembangan Produksi Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Peternakan Ir Eko Anang SW mengatakan, belum banyak petani di wilayahnya yang tertarik untuk menanam kedelai. Hingga kini baru dua kecamatan yang tercatat sebagai sentra penghasil kedelai, yaitu Pituruh dan Kemiri. Dia memaparkan, pada tahun ini pihaknya akan memprioritaskan program yang berorientasi pada pemanfaatan lahan bero. ''Kami akan lebih mengintensifkan pada tanaman jagung dan kedelai,'' ujar Eko di kantornya, belum lama ini. Dia menambahkan, keengganan untuk bertanam kedelai lebih karena masih banyak petani yang belum memiliki modal. Pasalnya, untuk mendapatkan produksi yang maksimal, petani harus menggunakan pola tanam tertentu. Yakni begitu panen padi, lahan harus langsung ditanami dengan bibit kedelai. ''Jika diberi selang waktu sehari saja bisa berpengaruh pada hasil,'' jelasnya. Penerapan pola seperti itu tentu akan lebih membutuhkan banyak tenaga kerja, sehingga lebih banyak pula modalnya. Kedelai yang ditanam oleh petani di daerah ini mayoritas adalah varietas umur pendek, yang memiliki rata-rata usia 75-80 hari.(J1-66) |