logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 19 Januari 2008 SALA
Line

Subo Suko Wonosraten

Kritis, Stok Darah PMI

SOLO- Stok darah di Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Kota Surakarta benar-benar kritis. Stok darah diperkirakan hanya mampu bertahan selama tiga hari ke depan. Bahkan pada Jumat (18/1) stok darah di PMI tinggal beberapa kantung. Golongan darah A tinggal 109 kantung, B tinggal 184, O tinggal 40, sedangkan golongan darah AB tinggal 35 kantung.

''Padahal kebutuhan setiap harinya tidak ada pengurangan. Rata-rata per hari, PMI Cabang Surakarta mengeluarkan 175 kantung untuk setiap golongan darahnya,'' kata Kepala Unit Transfusi Darah (UTD) PMI Cabang Surakarta, Drs H Titis Wahyuono.

Dia menambahkan, jika kondisi ini terus berjalan akan sangat berbahaya. Sebab, dikhawatirkan akan terjadi peningkatan permintaan atau kebutuhan darah di masyarakat, khususnya di Surakarta. Apalagi saat ini musim hujan sehingga kondisi tanah lembab. Padahal, kondisi seperti ini bisa menjadi pemicu merebaknya penyakit demam berdarah. (H46-50)

Isu Uang Diskon Diselidiki

BOYOLALI - Diskon bermasalah dalam proyek pengadaan buku dan komputer 68 SD/MI - dengan dana alokasi khusus (DAK) - mendapat perhatian dari Bupati Boyolali Sri Moeljanto.

Dikatakan, pada prinsipnya apabila ada ketentuan yang mengharuskan uang komisi harus masuk kas negara, maka diskon pun harus masuk kas negara.

''Saya berjanji akan mempelajari lebih detail terkait dugaan adanya uang komisi dari distributor kepaa SD/MI penerima DAK tahun 2007,'' ujarnya, Jumat (18/1) kemarin.

Menurut bupati, menurut ketentuan setiap uang komisi, rabat, atau pun potongan harga harus kembali ke kas negara. Maka, otomatis diskon yang diterima SD/MI itu pun harus dikembalikan ke kas negara.(G10-58)

Kalitan Masih Tertutup

SOLO - Hingga Jumat (18/1) kediaman pribadi mantan Presiden Soeharto di Solo, atau lebih dikenal dengan sebutan Ndalem Kalitan, masih tertutup untuk umum. Dengan demikian sudah tujuh hari rumah tersebut tertutup.

Menurut Totok, satpam Ndalem Kalitan, belum ada kepastian kapan Kalitan akan kembali dibuka. Sebab, dia belum menerima instruksi dari Kepala Rumah Tangga Ndalem Kalitan Sriyanto. Sejak Soeharto dikabarkan kritis di RSPP Jakarta, animo masyarakat yang datang ke Ndalem Kalitan sangat tinggi.

Meski demikian, para jurnalis baik dari media cetak dan elektronik yang sejak tanggal 11 Januari lalu berada di Kalitan diperbolehkan masuk. Para jurnalis dari media nasional dan lokal, hingga kemarin masih terus memantau Ndalem Kalitan.

Situasi secara umum di Ndalem Kalitan relatif sepi. Namun, masih ada sejumlah kerabat Kalitan yang datang menemui Kepala Rumah Tangga. Entah apa yang dibicarakan, sebab pertemuan tersebut tertutup. (H46-50)

Ruwatan Sura Dirusak Massa

KARANGANYAR- Ratusan massa sekitar pukul 02.00 Kamis dini hari, menyerbu Dusun Pancot, Desa Kalisoro, Kecamatan Tawangmangu. Mereka merusak punden di dusun itu, yang rencananya digunakan untuk ajang kegiatan sedekah bumi dan ruwatan suran, memperingati bulan Sura.

Patung Ganesha yang ada dipunden, dan juga batu gilang yang selama ini diyakini sebagai tempat petilasan Prabu Boko dirusak. Patung dan batu itu sempat dibawa pergi oleh massa, namun kemudian diminta lagi oleh aparat keamanan, dan dikembalikan ke lokasi semula.

Tak hanya merusak tempat yang dikeramatkan warga, massa juga menganiaya warga, sehingga tujuh orang terpaksa dibawa ke rumah sakit. Dua warga masih harus dirawat karena lukanya cukup parah, lima lainnya diperbolehkan pulang karena hanya terluka ringan.(an-42)

Tertipu Lewat Telepon

WONOGIRI - Modus penipuannya sama dan bukan hal baru, yakni pemberitahuan lewat telepon bahwa seseorang telah memenangi suatu hadiah, namun masih saja ada warga masyarakat yang percaya dan akhirnya menjadi korban. Antonius Purwani (45), seorang guru di Batu, Kecamatan Baturetno, Kabupaten Wonogiri, adalah contohnya. Dia diperdayai penjahat yang minta uang Rp 18,4 juta lewat telepon.

Menurut si penelepon, uang tersebut untuk biaya perawatan Anastasia, anak Antonius, yang katanya mengalami kecelakaan lalu lintas di Solo, Kamis (17/1) lalu.

Orang yang menelepon itu mengaku polisi. Katanya, Anastasia yang sekolah di SMA Ursulin Solo mengalami kecelakaan dan kini dirawat oleh dokter Handoko di Solo. ''Untuk perawatannya diperlukan alat bantu seharga Rp 18,4 juta. Alat itu dipesan dari dokter Sulistyanto,'' kata si penelepon, seperti diungkapkan korban penipuan.

Karen panik, Antonius langsung saja mentransfer uang Rp 18,4 juta yang diminta ''sang polisi'' ke rekening bank yang disebutkan lewat telepon. (P27-58)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA