| Sabtu, 19 Januari 2008 | SALA |
Harga Kedelai Terus Naik"Tiga dari Sepuluh Karyawan Saya Rumahkan"SRAGEN- Melambungnya harga kedelai sebagai bahan baku untuk pembuatan tahu dan tempe, memukul para perajin. Sejumlah perajin tahun tempe di Kampung Teguhan, Sragen, banyak yang tidak memproduksi makanan kesukaan masyarakat itu. Sejumlah perajin di Kampung Teguhjajar, Sragen, yakni Sumirah, Sukendar, dan Subarno juga mengurangi produksinya. ''Karena tidak mampu membayar, tiga dari sepuluh karyawan saya rumahkan dulu,'' tutur Sanyoto, perajin tahu di Kampung Teguhjajar. Tidak hanya itu, Sanyoto juga mengurangi produksi tahu dari enam kuintal per hari menjadi sekitar tiga kuintal produk tahu. Produk tahu miliknya dilempar di pasar hasil bumi Pasar Bunder Sragen. Kenaikan kedelai tidak hanya berdampak terhadap perajin, namun juga konsumen. Sebab untuk menutup biaya produksi, perajin harus menaikkan harga tahu. ''Repotnya kalau harga dinaikkan, konsumen yang protes,'' kata Sanyoto. Karena itu pedagang harus pendai menyiasati dengan cara menjual dengan harga yang sama, tapi mengurangi ukuran tahu yang dijual. ''Kalau ukuran tahu terlalu kecil, malah tidak laku,'' tutur Edy Purnomo, perajin tahu yang lain. Dia mengatakan, mengurangi ukuran tahu pun berisiko. Kalau mengurangi ukuran terlalu banyak, malah tidak laku. Hanya sebagian saja tahu yang dikurangi agar tidak mencolok. Produksi Turun Dia mengatakan, harga kedelai lokal saat ini Rp 6.500 hingga Rp 6.800 per kilogram. Naiknya harga kedelai sebagai bahan baku untuk pembuatan tahu dan tempe itu sungguh memberatkan perajin. Sanyoto mengatakan, idealnya harga kedelai pada kiasaran Rp 3.500 hingga Rp 4.000 per kilogram. ''Kami berharap, pemerintah campur tangan dalam pengadaan dan menstabilkan harga kedelai,'' tambah Sanyoto. Jika harga kedelai tidak bisa turun sampai beberapa bulan ke depan, puluhan perajin tahu dan tempe di Sragen dipastikan gulung tikar. Jika hal itu terjadi, maka kelak tahu dan tempe yang menjadi makanan yang digemari rakyat akan menjadi barang langka dan sangat mahal. Kepala Indagkop dan UKM Sragen, Joko Purwanto mengakui saat ini produksi tahu dan tempe masih berjalan, namun produksinya berkurang banyak. Dia sudah berkoordinasi dengan Dinas Perdagangan Provinsi untuk mencari daerah yang lagi panen kedelai agar bisa di pasok ke Sragen. Sedangkan upaya operasi pasar kedelai, nampaknya mustahil dilakukan karena soal kedelai itu menjadi masalah nasional. Diperkirakan, sekitar 70 persen bahan kedelai masih impor. (nin-42) |