logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 19 Januari 2008 WACANA
Line

Surat Pembaca

UAN Tingkatkan Mutu?

Saya kasihan jika melihat anak sekolah begitu berat beban yang harus ditanggung. Siswa SD begitu sarat kurikulumnya hingga sampai di rumah masih dibebani PR menumpuk. Akibatnya tak ada waktu bagi mereka untuk sekadar bermain melepas penat dan kejenuhan rutinitas sekolah. Akhirnya tercipta siswa yang kerdil mental dan psikologisnya.

Kecerdasan akademik yang diciptakan sekolah, seolah hanya semu belaka karena siswa hanya mengenal sistem drilling soal, bukan analisa penalaran. Siswa sekarang jauh dari kecerdasan akal dan emosinya. Ditambah lagi, pemerintah akan memberlakukan UAN bagi siswa SD. Katanya sih untuk lebih meningkatkan mutu pendidikan dan kualitas SDM.

Kualitas yang mana. Apa bisa pengukuran kualitas hanya dengan menggunakan hasil UAN. Apakah kalau sekolah dapat meluluskan 100% bisa jadi indikator sebagai sekolah berkualitas. Masyarakat yang menilai dan menyeleksi. Toh kenyataannya, setiap UAN selalu diwarnai kecurangan oleh pihak tertentu demi sebuah harga diri sekolah. Peningkatan standar kelulusan tidak signifikan dengan kualitas SDM karena standar kelulusan tersebut baru sebatas pada peningkatan kuantitas saja, belum menyentuh pada aspek kualitas. Fakta di lapangan, jumlah koruptor makin meningkat, tindak kejahatan dan pelanggaran yang pelakunya mulai kelas teri sampai kelas kakap juga naik.

Itulah hasilnya kalau selama ini pemerintah hanya sekadar mengejar kuantitas kelulusan dan proyek semata. Arti dan peran pendidikan yang esensial tidak tersentuh sedikit pun yaitu mencetak generasi penerus yang cerdas dan bermoral. Kapan negeri ini akan bangkit dari jahiliyah, kalau para pejabat di negeri ini berhati mati.

Dyah Listyorini

Jl Galar XI/3 Tlogosari, Semarang

India, Kita dan Jatidiri

Saya gemar nonton film sejak SMP di Cepiring Kendal dan menjadi-jadi selama di SMAN Pati. Waktu itu selain film Indonesia, gedung bioskop juga memutar pula film luar misal koboi Amerika, kungfu China, karate dan samurai Jepang serta melodrama India. Biasanya saya dan sejumlah kawan menonton film apa saja, asal jangan India. Ya, asal jangan India.

Apa pasal, karena pada masa itu film India jadi cemoohan sehingga jika menontonnya berarti esok pagi di sekolah menjadi ledekan teman. Mengapa film India pamali ditonton, karena terasa aneh, lucu dalam arti menggelikan dan rendah citra. Menjadi penonton film itu berarti memosisikan diri menjadi orang rendahan juga, setidaknya rendah selera. Tidak branded-lah.

Film Indonesia masih disukai karena lebih modern, lagu popnya juga bagus. Namun dengan berjalannya waktu, semua yang khas Indonesia makin jarang ditemui, di film maupun di luar film. Jatidiri Indonesia telah terkikis. Kita kayaknya malu-malu menjadi pelaku seni diri sendiri. Sebaliknya India selalu pede, filmnya tetap saja mempertahankan nyanyian dan tarian.

Diketawain nggak peduli karena memang itulah seni budaya asli mereka, jatidirinya. Bahkan tarian yang semula dianggap kampungan tetap dimainkan dan kini makin hebat, rapi, gagah, energik dan kolosal. Tetap dalam jatidirinya dan itu luar biasa. Kita yang mungkin kebingungan, kemudian asal tangkap dengan meniru tarian negeri orang bahkan menjiplak mentah-mentah tarian India yang dulu diledek.

Bersamaan dengan itu, budaya asli sendiri banyak yang terpinggirkan, merana dan menguap. Kita seolah merasa ndesa jika harus mementaskan Tari Piring, merasa jadul jika menarikan Gatutkoco Gandrung atau Bambangan-Cakil. Atau khawatir disebut tidak gaul jika masih menyanyi keroncong.

Sampai kini seakan kita menjadi tak berdaya mencegah budaya asing yang masuk bak air bah atau bahkan malah bangga paling duluan menjadi pemain budaya asing. Tengok, betapa tari Salsa pesat mewabah dan poco-poco kita yang gagah itu cepat menjauh dan sunyi di pojok.

Kita bukan membabibuta menangkal budaya asing, tapi juga bukan berarti harus membabibuta menelan semua budaya asing mentah-mentah. Padahal kita pernah bangga punya Ngesti Pandowo, Nartosabdho, Bagong Koesoediardjo, Sampan Hismanto. Banyak, tapi itu dulu.

Drs H Adji Nuswantoro BSc MM

Jl Kaliwiru II/27, Semarang

***

KPPP Semarang Barat

Pemerintah mengejar target untuk mendapat pemasukan dari sektor pajak semaksimal mungkin. Ini ditandai dengan dibentuknya KPP Madya maupun Pratama yang diharapkan melayani wajib pajak pada satu titik. KPP Pratama Semarang Barat di Johar pada mulanya mampu melayani wajib pajak dengan baik, memberlakukan sistem antrean secara rapi dan wajib pajak nyaman menunggu.

Tetapi akhir-akhir ini,pelayanannya mengalami kemunduran. Renovasi bangunan yang dilakukan tentunya tidak perlu mengganggu kinerja yang ada, karena sudah menggunakan komputer sehingga pindah tempat seharusnya seperti memindah colokan kabel saja. Yang saya alami 11 Januari 2008 meski sudah menempati kantor baru, antrean tidak berlaku lagi.

Banyak wajib pajak yang menunggu giliran, tapi pegawai yang mengurus laporan tidak segera menjalankan tugasnya. Banyak di antara wajib pajak yang menggerutu, masihkah cara pelayanan seperti ini diteruskan. Di saat negara mengharap pemasukan maksimal, bukankah pelayanan prima yang harus dikedepankan. Saya mengharap KPPP Semarang Barat bisa melayani wajib pajaknya seperti dulu lagi. Antre rapi dan memberi kenyamanan.

AB Kusuma

Beringin Putih D2/ 14 Ngaliyan Semarang

***

Persil Tawangmangu

Pelepasan tanah persil Tawangmangu dengan harga jual untuk biayai perusda melanggar hukum. Berita di harian ini beberapa waktu lalu mengenai pelepasan tanah persil Tawangmangu menyebutkan, Pemprov Jateng/Gubernur mengharapkan masyarakat pemilik tanah bersedia menyepakati proses pelepasan tanah dengan harga yang ditawarkan.

Gubernur H Ali Mufiz MPA mengatakan lahan yang dilepas seluas 682.220 M2 senilai Rp 369.078 miliar, direncanakan sebagian untuk membiayai penutupan perusda milik pemprop yang sudah tidak sehat. Hal tersebut disampaikan lagi dan dimuat di harian ini 7 Januari 2008 dengan judul "PHK karyawan Perusda Jateng, pesangon Saripetojo tak sesusai ketentuan".

Saya beranggapan Pemprov tidak memahami bahwa tanah tersebut bukanlah aset/miliknya. Juga tidak memahami bahwa pelepasan bukan penjualan serta hak yang dimiliki Perusda Jateng hanyalah hak pengelolaan lahan (HPL) saja. Itu pun kalau tidak cacat hukum.

Seperti adanya surat keterangan untuk mendapatkan HPL dari Kelurahan Tawangmangu, Kalisoro dan Blumbang tertanggal 2-11-1987 yang saya anggap penuh manipulasi dan rekayasa. Di antaranya menerangkan tidak adanya pethuk Leter C/D. Padahal semua tanah yang diaku Pemprov mempunyai pethuk Leter C/D sesuai peta Tawangmangu sebelum ada perusda. (kopi terlampir).

Masalah ini juga dibenarkan oleh BPN pusat sehingga diadakan pertemuan antara Himpunan Pemilik Tanah Persil Tawangmangu (HPTPT) dengan pihak terkait, termasuk gubernur juga diundang. Akhirnya lahir Berita Acara Kesepakatan 11 April 2001 yang menyebutkan bahwa tanah yang disengketakan diserahkan kepada yang menguasai (pemilik) dengan konpensasi yang arif (kopi terlampir).

Dengan adanya Bidang Pengkajian dan Penanganan Sengketa dan Konflik Pertanahan, saya berharap BPN segera bertindak sesuai aturan dan Perundang-undangan yang berlaku seperti ketentuan dalam SK Pemberian HPL yaitu penerima wajib mengembalikan hak tersebut bila tidak digunakan sebagaimana maksud pemberian.

Lebih lagi waga mengacu peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional No 9 Tahun 1999, tentang Tata Cara Pemberian dan Pembatalan Hak atas Tanah Negara dan Tanah Pengelolaan. (kopi terlampir). Jika Pemprov tidak meingkari kesepakatan 11 April 2001 dan tidak melanggar hukum maka masalah tanah persil Tawangmangu akan selesai.

Sarsito

Jl Sukoreno 17 Notodiningratan, Solo.

***

Jakgung dan Korupsi

Awal tahun 2008 Kejaksaan Agung mengumumkan kasus korupsi yang ditangani mencapai Rp 2,3 triliun dan 216,3 juta dolar. Dari total kerugian negara sebanyak itu, terselamatkan "baru" Rp 16,4 miliar dan 176,7 juta dolar. Lumayan, daripada tidak sama sekali. Bisa untuk tambah kas negara yang APBN-nya selalu defisit.

Yang membanggakan, Kejaksaan Agung memberi target penyelesaian kasus bagi kajati seluruh Indonesia minimal menyelesaikan 5 perkara, kajari 3 perkara dan kacab kajari 1 perkara. Yang membanggakan lagi, kasus jaksa Medan yang menuntut pembalak kelas kakap Adelin Lis ditindak/diturunkan pangkatnya.

Bila telah banyak oknum polisi dan jaksa ditindak atasannya, kini giliran korps kehakiman juga menindak anak buahnya yang nakal demi penegakkan hukum di negeri yang sudah carut marut ini, Tanpa ada tindakan tegas para petinggi MA dan Depkumham. Sebab hakim nakal akan terus bertambah.

H Erlangga Chandra (EI)

Bantulan RT1/RW1 Banyudono, Boyolali

***

Misteri Monster

Danau dan Lautan

Di berbagai belahan dunia selalu ada misteri yang abadi. Berikut ini misteri tentang monster danau dan lautan yang saya ambil dari berbagi sumber. Cerita mengenai makhluk misterius sejenis naga dari danau Loch Ness di Skotlandia dan monster danau Tianchi China, membuat penasaran tidak saja masyarakat awam tetapi juga ilmuwan.

Begitu pula di sebuah danau di Norwegia Selatan. Naga itu disebut-sebut sebagai sepupu monster Loch Ness. Ketiga monster tersebut diduga jenis elasmosaurus, reptil laut raksasa sepanjang lebih dari 20 meter dengan tubuh besar dan leher panjang seperti brontosaurus. Binatang itu sering melongokkan lehernya ke permukaan danau sehingga menarik perhatian sejarawan dan ilmuan.

Beberapa tahun lalu, "Nessie" nama monster Loch Ness telah diklaim 2 orang di Texas bisa disaksikan melalui kamera yang disambungkan ke internet. Nora dan Mike Jones tersebut mengatakan, mereka memata-matai hewan legenda melalui rekaman kamera langsung yang ditransmisikan melalui jaringan web (www. lochness scotland .net).

Misteri monster lautan lebih ngeri lagi. Salah satu anggota ISC (International Society of Cryptazoology) atau ilmu yang mempelajari binatang yang tersembunyi adalah Prof LeBlond. Dia ahli kelautan sekaligus pakar spesialisasi dalam bidang monster laut. Bersama temannya John Sibert seorang biolog, dia membahas sekitar 33 peristiwa penampakan binatang aneh di lautan.

Di antaranya munculnya seekor makhluk berwarna hijau kelabu sepanjang 40 kaki dengan duri-duri di sepanjang punggungnya setinggi 1 kaki. Makhluk ini terlihat menyeberagi pantai Heriot Columbia. Ada lagi monster raksasa yang tiba-tiba muncul dari dasar lautan dan diamati dari Dugeness Spit, Washington.

Lehernya sepanjang enam kaki, tiga punuk dan bulu yang panjang masuk dalam penelitian. LeBlond dan Sibert membagi temuan hasil laut (lewat wawancara dengan saksi mata) dalam tiga kelas. Binatang ular seperti monster di pantai Heriot, binatang raksasa yang mirip kuda laut serta makhluk bermata kecil yang kadang nongol seperti tanduk jerapah.

Menurut LeBlond, sepanjang pesisir pantai dari Oregon hingga Alaska adalah tempat yang bagus untuk berburu monster laut. Pada abad ke-19 ada lukisan yang menggambarkan binatang cumi-cumi raksasa yang menenggelamkan kapal yang kebetulan lewat di daerah Segitiga Bermuda. Belalainya yang sangat panjang itu bisa merengkuh sampai ke tiang kapal layar.

Legenda monster cumi-cumi raksasa tersebut akhirnya benar-benar ada. Bulan Juli 2002 ribuan cumi-cumi raksasa terdampar di pantai California. Tanggal 19 Agustus 2002 Suara Merdeka juga memuat gambar binatang bobot 550 pound, panjang 15 meter yang ditemukan di sebuah pantai Australia.

Bulan Desember 2006 cumi-cumi raksasa di laut es Antartika, berhasil direkam untuk dokumenter. Terakhir 23 Februari 2007 harian ini memuat lagi gambar binatang yang sama berbobot setengah ton yang berhasil ditangkap awak kapal Selandia Baru. Hewan tersebut dapat menyelam sampai kedalaman 2000 meter dan sangat aktif serta tergolong pemangsa yang agressif.

Menurut para ilmuwan, fenomena ini kian banyak muncul ke perairan dangkal, diduga karena efek dari pemanasan global atau habitat asli mereka di kedalaman laut mulai tercemar. Barangkali suatu ketika masyarakat atau ilmuwan berhasil merekam dengan kamera atau menangkap monster danau dan lautan misterius itu.

Hari Yudhotomo

Gentan Kidul RT 2/RW 4 Boja, Kendal

***

Tim Voli Putra Magelang

Intensitas turnamen bola voli (putra) di Magelang terbilang cukup tinggi hingga para ofisial bahkan pemain sering kerepotan menyusun jadwal dan memilih turnamen yang harus diikuti. Kendati turnamennya berskala lokal, namun tidak sedikit klub luar yang ambil bagian bahkan pemainnya pun boleh dibilang berkelas dan usianya masih tergolong muda.

Memperhatikan beberapa gelaran turnamen yang memunculkan jawara baru dengan prestasi gemilang, sebetulnya ada bakat terpendam anak-anak muda Magelang. Karenanya bukan tidak mungkin tim ini dapat meraih prestasi dalam kancah olahraga bola voli nasional semacam Proliga.

Kendati saya tidak pandai bermain voli, namun merasa punya perhatian dan kepedulian cukup terhadap terangkatnya prestasi olahraga ini di Magelang. Namun saya menyadari, hanya dengan perhatian dan kepedulian saja tidak cukup tanpa dukungan dana memadai.

Saya berharap para pejabat dan pengusaha Magelang baik secara pribadi maupun kelompok bersedia secara sukarela mendanai dan memanajeri olahraga ini. Dengan andilnya tim ini ke kancah Proliga, berarti Magelang bakal menjadi tuan rumah pada babak penyisihan dan itu berarti pula masyarakat bakal mendapatkan tontonan yang menarik.

RB Ilsyantoro

Bumi Prayudan Blok F15, Magelang.

***

Kurangi Kecepatan KA

Berita kecelakaan yang menyedihkan dan mengerikan sering terjadi di perlintasan kereta api tanpa palang pintu, di antaranya pernah terjadi di Kedungbener Kebumen. Banyak masukan baik lewat wacana maupun seminar, jajak pendapat dan lainnya namun kenyataannya belum mampu mengatasi masalah ini.

Saya usul pihak PT KA sebelum mampu menyediakan sarana palang pintu, alangkah baiknya memasang rambu lalu lintas kereta api yang fungsinya mengurangi kecepatan kereta yang akan melintas perlintasan tersebut. Rambu ini terpasang lebih-kurang 500 meter sebelum lintasan, selanjutnya bunyikan aba-aba. Dengan demikian kemungkinan kecelakaan bisa dihindari.

Ambijo

Jl HM Sarbini 40, Kebumen

***

Lain Sri Langka

Lain Indonesia

Menyimak acara National Geography yang ditayangkan baru-baru ini oleh stasiun TV swasta telah menggambarkan situasi pascabencana tsunami di Sri Lanka yang meluluhlantakkan pantai timur dan selatan negara tersebut. Kejadian tragis diderita angkutan kereta api (KA)-nya yang melintasi sepanjang tepi pantai selatan.

Rangkaian KA yang penuh sesak penumpang telah diterjang gelombang pasang hingga dua kali hempasan, yang mengakibatkan seluruh gerbong penumpang dan lokomotifnya ke luar rel. Dalam peristiwa tersebut merenggut banyak korban jiwa yang diperkirakan sekitar 1.500 orang tewas baik penumpang KA serta penduduk sekitarnya. Di samping kerusakan jalur rel sepanjang 160 km yang rusak berantakan.

Akibat kerusakan jalur transportasi KA tersebut maka pemerintah Sri Lanka segera menugaskan para teknisi KA yang dibantu masyarakat membenahi jalur yang porak-poranda. Kurang dari 3 bulan (Februari 2005) jalur KA sepanjang 160 km yang rusak parah telah kembali normal. Demikian hebatnya rasa saling memiliki dan tanggung jawab mereka dalam menyelesaikan pembangunan kembali aset bangsanya.

Bagaimana dengan para pengelola angkutan KA di Indonesia, khususnya di Jateng yang pernah mendapat tawaran dari investor Jepang, China, serta Korea Selatan yang hendak membangun sarana transportasi KA di wilayah ini.

MS Rifai

Ujungrusi RT 24/RW 3 Adiwerna, Tegal


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA