| Sabtu, 19 Januari 2008 | NASIONAL |
Dampak Kenaikan Harga Kedelai (3-Habis)Stres, Ingin Sekadar Bertahan atau Banting Setir?
SUBIYATI tertunduk lesu. Wanita itu tak lagi bersemangat membicarakan kondisi usahanya yang kini sedang dirundung masalah, setelah harga kedelai melambung. Ketua Kelompok Tani Damai, Desa Kenteng, Kecamatan Bandungan itu hanya bisa pasrah dengan kondisi saat ini. Sejak dua bulan terakhir harga kedelai memukul industri rumah tangga produsen tahu-tempe di Kabupaten Semarang. Para perajin sudah ancang-ancang banting setir untuk beralih usaha baru. Dia yang perajin tahu Serasi Bandungan itu seolah sudah tak berdaya menghadapi iklim usaha saat ini. Sepuluh dari lima belas karyawannya terpaksa di-PHK sejak dua bulan lalu. Tingginya biaya produksi tak sebanding dengan pendapatan yang didapat. ''Jika dalam sebulan ke depan harga kedelai tak kunjung membaik, saya terpaksa menutup usaha ini dulu,'' kata Subiyati Ketua Kelompok Tani Damai, Desa Kenteng, Kecamatan Bandungan, kemarin. Ia mengatakan, saat ini pihaknya sudah bersiap banting setir. Subiyati kini mengoptimalkan usaha bunga potong. Beruntung, dia memiliki lahan untuk usaha ini. ''Sekarang saya sedang mengembangkan 18.000 pohon untuk bunga potong. Tapi untuk pembuatan tahu juga masih jalan,'' terangnya. Dia juga telah mencoba beternak kelinci. Sudah lima ekor kelinci dia pelihara. Meski usaha tahu masih berjalan, kini dalam sebulan dia hanya menghabiskan setengah ton kedelai. ''Saya harus bisa baca peluang usaha,'' imbuhnya. Sebelum harga kedelai naik, dua bulan lalu dia bisa menghabiskan 2 ton untuk membuat tahu dan susu kedelai. ''Saya terpaksa masih memproduksi tahu karena tak tega melihat lima karyawan saya. Mereka ingin tetap bisa bekerja untuk sekadar membeli bumbu dapur,'' ungkap Subiyati. Kebertahanan Subiyati tetap membuat makanan khas Kabupaten Semarang ini karena hanya ingin menjaga tahu Serasi tetap ada di pasaran. Meski dalam situasi sulit, pihaknya masih agak bisa bernafas karena konsumennya mayoritas kalangan menengah ke atas yang berwisata di Bandungan. Berbagai cara sudah dicobanya untuk menyiasati kenaikan harga kedelai. Misalnya ukuran tahu dan ukuran plastik dikecilkan. Selain itu sablon plastik yang semula dua warna menjadi satu warna. Ini untuk mengurangi biaya produksi. Kepada bakul, dalam sebungkus plastik berisi sepuluh tahu, dia jual Rp 8.500 padahal dulu hanya Rp 6.500/ bungkus. Selain itu harga tahu goreng yang semula satu porsi Rp 9.000 menjadi Rp 12.000. ''Bakul juga tidak ingin rugi. Dia minimal harus dapat untung. Ini berisiko karena tahu Serasi tanpa pengawet tahan tiga hari saja. Kalau di kulkas bisa seminggu,'' papar Subiyati. Gulung Tikar Selain bakul di kios-kios Desa Kenteng, Bandungan, empat pedagang keliling yang mengambil di rumahnya ikut gulung tikar. Biasanya empat pedagang kelilingnya itu bisa membawa 80 bungkus tahu dan 100 liter susu kedelai setiap hari. Selain tahu, susu kedelai juga terpuruk. Harga susu ini dulunya Rp 4 ribu/ liter. Kini mencapai Rp 6 ribu/ liter. ''Pada hari Minggu biasanya bisa laku 300 liter. Kini untuk menjual 100 liter saja susah,'' tegas Subiyati. Menurutnya 1 kg kedelai bisa menjadi 7 liter susu. Jika diencerkan konsumen protes karena rasanya kurang enak. Subiyati menjelaskan, harga kedelai hingga kemarin masih mencapai Rp 7.500 per kilogram. Sebelum naik, harganya hanya Rp 3.500/ kilogram. ''Saya sampai stres masak harga naik setiap hari dari Rp 100 hingga Rp 200 per kilogram per hari?'' ungkapnya. Wanita pengusaha itu menuturkan, perajin tempe home industri di Sumowono sudah banyak yang tutup. Sementara perajin tempe Bandungan sudah mengurangi jumlah produksi. Ia berharap pemerintah segera meredakan badai harga bahan baku tahu-tempe tersebut. (Rony Yuwono-77) | ||||