logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 19 Januari 2008 MURIA
Line

Memulung untuk Mengisi Liburan Sekolah

MATAHARI di ufuk timur masih terpendam mendung yang cukup tebal. Hawa cukup dingin menusuk kulit, ketika Giono berjalan ke luar dari sebuah rumah berdinding kayu di Desa Kuangsan, Kecamatan Kaliori.

Sebuah karung usang ada di genggaman tangan kiri siswa kelas 2 SMP Negeri 2 Kaliori itu. Sedang di tangan kanannya, mengenggam sebuah gancu yang terbuat dari kayu dan kawat baja.

Di halaman depan rumah, Giono memasangkan kaus oblong di mukanya sehingga hanya kedua bola matanya yang tidak tertutup kaus oblong itu. Kemudian, dua kaki kecilnya itu melangkah menyusuri jalanan becek sisa hujan.

Gresek-gresek (memulung, Red) itu yang dilakukan Giono di pagi itu. Selain Giono, 15 anak lainnya dari Desa Kuangsan yang juga gresek-gresek mencari barang bekas di tumpukan-tumpukan sampah.

Anak-anak ini ikut memulung karena ingin membantu meringankan beban orang tua, terutama dalam membiayai pendidikan. Uang hasil gresek-gresek itu akan dibelikan peralatan dan membayar uang sekolah.

Beli Kambing

Sisanya ditabung untuk dibelikan kambing atau sapi. Mereka gresek-gresek hanya selama liburan sekolah. ''Kadang kalau tidak libur juga gresek-gresek. Tapi pada sore hari yang tidak menganggu jam pelajaran,'' tutur Giono.

Anak-anak ini biasanya mulai bekerja menyusuri desa-desa selepas subuh hingga menjelang pukul 09.00. Kemudian, mereka yang rata-rata sekolah di SMP Negeri 2 Kaliori ini berkumpul di tempat pengepulan barang bekas milik Menying, di Desa Sumberrejo, Kecamatan Kota. Barang-barang hasil gresek-gresek itu mereka pilah-pilah dan ditimbang beratnya.

Hasil timbangan barang sesuai dengan jenisnya itu kemudian dicatat oleh Menying dalam sebuah buku yang sudah sangat lusuh. ''Biasanya setelah dicatat oleh Kang Menying, kami juga langsung mendapatkan bayaran. Kadang dari gresek-gresek itu dapat uang Rp 15.000. Kadang juga hanya Rp 9.000. Tergantung banyak sedikitnya barang yang didapat,'' tutur Sunari, anak lainnya.

Sebagai remaja, awalnya anak-anak ini mengaku malu ketika harus gresek-gresek di tempat-tempat sampah. ''Apalagi kalau ketemu teman. Karena itu, kami siasati menutup wajah kami dengan kaus seperti ini agar tidak ketahuan teman,'' tutur Harjito sembari tertawa.

Waktu beranjak mendekati pukul 11.00. Anak-anak ini langsung membenahi karung dan gancu mereka. Senyum dan canda menghiasi wajah saat beranjak meninggalkan tempat pengepulan barang bekas milik Menying itu.

''Maaf, kami tinggal dulu ya, mas. Soalnya kami juga harus mencari rumput,'' ujar Rumanto sembari berlari menyusul teman-temannya yang sudah berlalu lebih dahulu. (Mulyanto Ari Wibowo-76)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA