logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 18 Januari 2008 NASIONAL
Line

Dampak Kenaikan Harga Kedelai (2)

Buat Tempe dengan Campuran Ampas Ketela


Sony Wibisono MEMBUAT TEMPE : Seorang perajin tempe di Desa Jati Kulon, Kudus memasukkan kedelai ke tempat cetakan. Akibat naiknya harga kedelai, perajin terpaksa mengurangi ukuran tempe.(30)

MAHALNYA harga kedelai impor sebagai bahan baku utama pembuat tempe memaksa sejumlah perajin tempe di Kabupaten Kudus memutar otak. Beberapa perajin ada yang mencampur ampas tahu dengan tujuan penggunaan lebih irit, tapi ukuran sama. Namun banyak konsumen yang protes karena rasanya tidak seenak tempe yang terbuat dari kedelai murni.

Akibatnya beberapa perajin kembali membuat tempe hanya dengan bahan kedelai murni. Namun ukurannya dikurangi. Ada juga yang mengurangi jumlahnya. Misalnya satu ikat yang biasanya berisi sepuluh, dikurangi menjadi tujuh atau delapan buah tempe.

Informasi lain, ada juga yang mencampurnya dengan ampas ketela pohon. "Harga jualnya memang lebih murah, dan hasil produksinya juga lebih banyak dibanding membuat tempe dari kedelai murni," kata Harti (50) perajin sekaligus pedagang tempe di Pasar Kliwon, Kamis (17/1).

Ia mengaku, sejak harga kedelai menembus angka Rp 7.000 per kilogram, dirinya memang mengurangi kapasitas produksinya. "Semula mencapai 150 kilogram kedelai, kini berkurang hingga setengahnya. Apalagi harga kedelai saat ini melonjak menjadi Rp 8.000," katanya.

Konsekuensi dengan bahan murni kedelai, kata dia, harga jual tempenya naik dari Rp 1.500 menjadi Rp 2.000 per potong. Namun, sejak ada campuran kedelai dengan ampas ketela pohon, harga jualnya bisa lebih murah, yakni Rp 1.500 per potong, ukurannya juga lebih besar dibanding tempe murni menggunakan kedelai.

Sejumlah penjual tempe di Pasar Kliwon yang ditemui mengakui, tempe campuran ampas ketela pohon tersebut sudah beredar di pasaran sejak Desember 2007. "Hanya saja, pembelinya masih sedikit, mengingat kualitasnya lebih rendah, nilai gizinya kurang, dan tidak tahan lama," kata penjual tempe campuran ampas ketela pohon, Jamiah (55).

Untuk itu, tempe murni dari bahan kedelai tetap disediakan, mengingat konsumen tidak dapat dipaksa membeli sesuai keinginan penjual. "Sebagian besar pembeli cenderung memilih tempe dari kedelai murni, meskipun selisih Rp 500 per potong," katanya.

Ngatinah (45), warga Desa Loram, Kecamatan Jati, yang ditemui saat berbelanja, mengakui tidak tertarik dengan tempe dari bahan campuran, mengingat tidak tahan lama dan kandungan gizinya juga kurang.

"Saat disimpan di lemari pendingin, tempe dari bahan campuran cepat membusuk, mengingat tempenya lebih gembur dibanding tempe dari bahan kedelai murni," katanya. (G7,ant-62)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA