logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 18 Januari 2008 SEMARANG
Line

Jejak Spiritual Pak Harto di Semarang (1)

Kungkum Bersama Sudjono Humardani

  • Oleh Rukardi

NAMA Tugu Suharto amat populer di Kota Semarang. Ia menengarai kawasan pertemuan (tempuran) Kali Kreo dan Kali Garang, tempat yang biasa digunakan untuk kungkum masyarakat pada malam 1 Sura. Sebagai sebuah nama, Tugu Suharto tak lahir dari ruang hampa. Sebaliknya, terpapar sempalan kisah perjalanan hidup mantan orang terkuat di Indonesia.

Sebuah tugu, senyatanya ada di tempuran itu. Menurut penuturan warga sekitar, tugu bercat putih dengan tinggi sekitar 20 m tersebut dibangun pada tahun 1978. Ia menjadi semacam petilasan bagi mantan Presiden Soeharto yang kerap menjalankan ritual kungkum di tempuran Kali Kreo dan Kali Garang.

Prasasti

Pembangunan tugu sekaligus untuk memperingati penumpasan Gerakan 30 September 1965. Hal itu dapat dilihat dari prasasti bertuliskan ''Jum'at Legi 30-9-65/1-10-65'' di kaki tugu. Adapun tiga aksara Jawa ''sa'' di bawah jajaran angka itu, konon merupakan inisial dari Soeharto, Soedjono Humardani, dan Sudiyat.

Soedjono Humardani adalah asisten pribadi mantan Presiden Soeharto, sedangkan Sudiyat atau lebih dikenal dengan sapaan Romo Diyat adalah guru spiritual sang Jenderal Besar. Di Semarang, nama Romo Diyat berjalin rapat dengan nama Soeharto. Artinya, ketika nama Romo Diyat disebut, orang langsung merujuk sebagai guru spiritual Soeharto. Hubungan keduanya terjalin, saat Pak Harto berdinas di Kodam VII/Diponegoro. Dia yang penghayat kejawen tertarik dengan Romo Diyat.

Di Tengah Kali

Sukesy (72)- murid Romo Diyat- menegaskan tesis itu. Ia masih ingat, suatu kali pernah melakukan ritual kungkum bersama Pak Harto. Itu terjadi pada awal 1960-an, saat lelaki kelahiran Kemusuk, Argomulyo, Yogyakarta, itu sudah pindah tugas ke Jakarta. Pak Harto datang bersama Sudjono Humardani dan beberapa ajudannya. Seperti belasan murid lain yang turut dalam ritual itu, Pak Harto turun dan berendam di tengah kali.

''Dipimpin Romo, kami kungkum menghadap ke arah datangnya arus. Awalnya melakukan sembah, kemudian kedua tangan disedekapkan. Masing-masing mengucapkan Nyuwun ngunjuk ngarsa dalem Gusti Ingkang Murbing Dumadi. Baru setelah itu menyampaikan permohonan kepada Tuhan,'' kisah Sukesy.

Permohonan itu bersifat personal, tergantung maksud dan tujuan masing-masing. Ada yang ingin mendapat kemuliaan hidup, pangkat, jabatan. Ada yang memohon kelancaran rejeki. Ada juga yang meminta ketenangan batin. Ritual kungkum berlangsung sekitar 30 menit. Setelah itu, mereka beristirahat di dalam pesanggrahan Romo Diyat di sebelah timur tempuran, sebelum pulang ke rumah masing-masing.

Sukesy yang kini pengusaha SPBU itu terhitung adik seperguruan Pak Harto. Dia mulai menimba ilmu kepada Romo Diyat mulai tahun 1961. Sedangkan Pak Harto telah bergabung sejak tahun 1950-an.

''Setelah dinas di Jakarta, frekuensi Pak Harto mengikuti ritual-ritual Romo Diyat banyak berkurang. Kalau ada waktu senggang, dia sempatkan datang ke Semarang. Waktu itu belum naik pesawat, tapi kereta malam. Paling sering diantar Sudjono Humardani. Setelah menjadi presiden, Pak Harto hampir-hampir tidak pernah datang lagi. Kalau ada perlu, paling-paling cuma mengirim utusan.''(41)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA