logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 17 Januari 2008 SEMARANG
Line

Konversi Tak Tepat Sasaran

  • Dua RT di Mangunsari Mengundurkan Diri

SALATIGA- Sejumlah lurah dan camat di Kota Salatiga kecewa dengan pelaksanaan program konversi minyak tanah ke elpiji yang dilaksanakan sejak Desember lalu. Sebab, banyak temuan program tersebut tidak tepat sasaran, sehingga membuat warga kecewa, mereka yang berhak mendapatkan justru tidak menerima.

Lurah Mangunsari Kecamatan Sidomukti Dra Siti Sulami mengatakan, tidak tepatnya penyaluran perlengkapan masak seperti tabung gas, kompor, dan perlengkapannya, membuat keributan di antara warga dengan perangkat RT/RW. Sebenarnya mereka mendukung program tersebut, tetapi ada warga miskin yang seharusnya menerima, tidak mendapatkan.

''Yang kami tanyakan, bagaimana proses survei yang dilakukan petugas. Kok banyak yang tidak melibatkan perangkat kelurahan hingga RT/RW. Sementara perangkat menjadi sasaran kemarahan warga,'' kata Siti Sulami.

Akibatnya, muncul protes warga kepada RT/RW yang berujung pada protes hingga kelurahan. Bahkan, ada warga yang berhak menerima, tetapi tidak mendapatkan tabung dan kompor, kemudian menuding RT pilih kasih. Namun, ada pula di sebuah RT baik kaya dan miskin mendapatkan semuanya.

''Ada dua ketua RT di wilayah saya yang mengundurkan diri, karena diprotes warga dan dituding pilih kasih. Yakni, RT 5 dan RT 8 Dukuh Ngawen,'' jelasnya.

Lurah Tingkir Lor Kecamatan Tingkir Bambang Setiaji SH mengaku kecewa terhadap pelaksana pembagian tabung gas elpiji dan kompor.

Sebab, jumlah yang disalurkan sangat kurang. Bahkan, ketika pembagian perlengkapan tersebut, petugas tidak berani menyerahkan dan memasrahkan kepada kelurahan.

''Petugas Pertamina takut mendapat protes dari warga yang berhak, tetapi tidak mendapatkan. Karena yang menyerahkan kelurahan, akhirnya kami yang dianggap pilih kasih,'' terang Bambang dengan nada jengkel.

Dia menjelaskan, di wilayahnya terdapat lebih dari 1.150 keluarga yang umumnya merupakan warga pedesaan, karena dulu daerah tersebut adalah wilayah pengembangan. Ada sekitar 900 keluarga yang berhak menerima kompor dan perlengkapannya. Tetapi, kenyataannya yang mendapat jatah hanya 647 keluarga. ''Sekitar 300 keluarga protes kepada kami. Jatah kompor 647 itu sangat sedikit dibandingkan dengan kelurahan lainnya.''

Tak Sesuai Harapan

Hal senada disampaikan Lurah Kauman Kidul, Kecamatan Sidorejo, Agung Nugroho SSos, yang menyayangkan proses survei tidak seperti yang diharapkan. Sebab, masih ada warga yang berhak, justru tidak menerima. Tetapi, diakuinya ada perlengkapan tabung gas dan kompor yang diterima warga, tepat sasaran.

Bukti pembagian kompor dan tabung gas tiga kilogram yang tidak tepat sasaran juga disampaikan Camat Argomulyo Dra Siti Nur Solikhah. Menurutnya, ada orang yang seharusnya tidak berhak menerima, tetapi malah mendapat.

''Saya tahu sendiri kalau ada keluarga mampu bertitel SH MHum mendapatkan jatah kompor dan tabung,'' ungkapnya. (H2-37)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA