| Kamis, 17 Januari 2008 | SEMARANG |
Belum Ada Perempuan Nyalon RektorSEMARANG- Memperjuangkan kesetaraan gender bukan pekerjaan mudah. Mengingat di Indonesia, diskriminasi gender sudah berlangsung sejak ratusan tahun silam di mana budaya patriarki sangat kental. Kendati demikian, bukan berarti kaum perempuan Indonesia tidak mengalami kemajuan saat ini. Nyatanya, wanita yang sukses dalam berbagai bidang tidak sedikit jumlahnya. Namun demikian harus diakui bahwa ada imbas negatif dari kemajuan kaum perempuan. Hal itu diungkapkan Rektor Unnes Prof Dr Sudijono Sastroatmodjo MSi pada Diskusi Terfokus Pengarusutamaan Gender Pendidikan Tahun 2008 di Gedung Lemlit Unnes Sekaran (16/1). Karena itulah, kata Rektor, Unnes mengajak para peserta yang terdiri atas para peneliti, mahasiswa, stake holders, pengelola lembaga pendidikan, dan birokrat untuk memperjuangkan kesetaraan gender. ''Keleluasaan harus dibarengi dengan sikap berpikir dan tindakan yang benar.'' Unnes sendiri, tandasnya, membebaskan warganya untuk menduduki jabatan yang ada di perguruan tinggi tersebut. Diakuinya sampai saat ini belum ada Rektor Unnes yang perempuan. ''Bagaimana mau milih, wong nyalon saja tidak.'' Ia menambahkan, jumlah civitas akademika perempuan di Unnes lebih banyak dari laki-laki. Menurut Rektor, peluang para perempuan untuk maju sangat besar. Hambatan yang ada merupakan hal yang biasa. ''Untuk sampai tujuan tentunya butuh perjuangan.'' Sensitif Gender Pada acara yang digelar oleh Pusat Penelitian Gender Lemlit Unnes itu, pembicara lain PR III Unnes Drs Masrukhi MPd berpendapat, guru merupakan kunci keberhasilan pembelajaran sensitif gender di sekolah. Pemberian pembelajaran sensitif gender, harus diberikan sejak dini. Masrukhi dalam penelitianya menemukan 34 titik bias gender pada buku PKn SD. Dalam buku itu, sambung dia, kesetaraan gender juga belum tersentuh. ''Hal itu akan bisa teratasi jika si guru memiliki pemahaman yang baik tentang kesetaraan gender.'' Pada acara yang juga dihadiri oleh PR IV Unnes Prof Dr Fathur Rokhman MHum itu, Masrukhi menjelaskan, beberapa model pembelajaran dapat disetting sensitif gender yakni dengan value clarification technique, role playing, sosiodrama, dan inquiry social. Pembicara lain, Kasi Kerja Sama Antar Lembaga dan Perguruan Tinggi Dinas P & K Jateng Drs Djasman Indratno MSi menegaskan, gender bukanlah pembedaan antara perempuan terhadap laki-laki. Oleh karena itulah, kata dia, meski membutuhkan waktu yang lama, membangun mind set berpikir yang responsif gender harus terus diperjuangkan. Adapun Kepala Biro Pemberdayaan Perempuan Pemprov Jateng Dra Sri Mulyanah Rch menekankan pentingnya pihak-pihak yang peduli pada masalah gender untuk memperkuat jaringan dan saling memberi informasi. Pasalnya, tidak semua kegiatan yang berembel-embel perempuan otomatis sudah berprespektif gender.(H11-41) |