| Kamis, 17 Januari 2008 | KEDU & DIY |
Hanya 1,7% Pengguna Motor Mau Beralih ke Bus Trans YogyaYOGYAKARTA - Berdasarkan survei yang dilakukan Jurusan Teknik Sipil dan Lingkungan UGM, bila sistem yang ditawarkan seperti akan dioperasikannya bus AC yang berhenti di halte saja serta harga tiket Rp 3.000 untuk umum dan Rp 2.000 untuk pelajar, maka hanya 1,7% dari pengguna sepeda motor (yang dilalui lintasan tersebut) akan beralih menggunakan bus Trans Yogya (BTY). Survei tersebut dilakukan dengan dibantu mahasiswa Magister Sistem dan Teknik Transportasi UGM melalui dana proyek HiLink (kerja sama dengan JICA dan Kyushu University Jepang). Menurut Ketua Tim Studi ''Improving Bus Ticketing System in Yogyakarta Province, HiLink Project'', Prof Dr Ing Ir Ahmad Munawar MSc, kemarin, jumlah pengguna motor yang akan beralih menggunakan BTY akan bertambah menjadi 5% jika disertai dengan kenaikan tarif parkir sepeda motor (misalnya di pusat kota Malioboro) menjadi minimal Rp 3.000. Alternatif lain untuk perpindahan dari pengguna motor menjadi penumpang BTY secara langsung adalah menggunakan sistem tiket terusan, tiket harian, dan bulanan. Tiket terusan adalah tiket yang dapat digunakan dengan berganti bus tanpa membayar lagi, asalkan pada saat turun masih belum ke luar dari halte. Sehari Penuh Adapun yang dimaksud dengan sistem tiket harian, dikatakan oleh dosen Manajemen Lalu Lintas Magister Sistem dan Teknik Transportasi UGM itu adalah satu tiket yang dapat digunakan sehari penuh tidak memandang berapa kali penumpang tersebut naik dan turun. ''Demikian pula dengan tiket bulanan adalah tiket yang dapat digunakan sebulan penuh tanpa memandang jumlah penggunaan tiket,'' tambahnya. Dikemukakan oleh Prof Ahmad Munawar, sistem tiket smart card yang akan digunakan oleh BTY memungkinkan adanya tiket harian dan bulanan. Karena itu, disarankan agar segera dioperasikan sistem tiket harian dan bulanan yang akan menarik bagi pengguna angkutan umum tersebut. (P12-70) |