| Kamis, 17 Januari 2008 | INTERNASIONAL |
Bus Sekolah Dibom di Sri Lanka, 25 TewasKOLOMBO - Ledakan sebuah bom mengoyak bus sekolah di Sri Lanka dan menewaskan 25 orang. Sebagian besar penumpang bus itu adalah anak-anak siswa sekolah. Belasan lainnya mengalami luka-luka. Kementerian Pertahanan mengatakan, serangan itu terjadi di distrik Moneragala, sekitar 150 km sebelah timur ibu kota Sri Lanka, Kolombo. Menyusul serangan itu, sekolah-sekolah yang berada di sekitar provinsi itu diliburkan untuk sementara waktu. Militer menuding Macan Pembebasan Tamil Eelam sebagai pelaku serangan itu. Serangan bom kedua ditujukan ke sebuah kendaraan pengangkut personel militer, sekitar 20 km jauhnya dari lokasi serangan pertama. Serangan itu melukai tiga orang prajurit. ''Sebanyak 25 orang tewas dan 67 orang luka-luka dalam serangan di bus itu,'' kata juru bicara militer Brigadir Udaya Nanayakkara. ''Para korban semuanya adalah warga sipil. Teroris saat ini sedang mengincar warga sipil.'' Macan Tamil belum mengeluarkan pernyataan seputar serangan itu. Militer yakin, serangan itu memiliki modus dan pola seperti serangan-serangan Macan Tamil sebelumnya. Namun, kelompok tersebut biasanya membantah tudingan sebagai pelaku serangan. Makin Pudar Gencatan senjata yang diteken pada 2002 telah dicabut secara resmi, Rabu kemarin. Presiden Mahinda Rajapaksa Selasa malam lalu mengumumkan soal pencabutan pakta itu. Berhentinya masa gencatan senjata mencemaskan banyak pihak bahwa pertempuran akan semakin mendalam. Pemerintah berpendapat, kelompok pemberontak itu sengaja memanfaatkan pakta gencatan senjata supaya mereka punya waktu untuk mengkonsolidasikan kelompok dan persenjataan. Menurut pemerintah, Macan Tamil tidak tulus membicarakan perdamaian. Tim pemantau gencatan dari Norwegia menyatakan, kedua pihak yang bertikai berulang kali melanggar kesepakatan yang tertuang dalam pakta gencatan senjata. Sekitar 70.000 orang tewas sejak perang meletus pada 1983. Jumlah korban tewas terus meningkat setiap hari. Pencabutan status gencatan itu bagaimanapun telah mengejutkan komunitas internasional. Harapan untuk menghidupkan lagi pembicaraan perdamaian makin pudar dengan pencabutan gencatan senjata. Tim pemantau internasional harus menghentikan misi mereka dan meninggalkan pulau itu. Hal itu dikhawatirkan akan membuat pelanggaran hak asasi manusia makin marak. Jepang selaku negara donor terpenting Sri Lanka memperingatkan pekan lalu, Tokyo akan mengkaji ulang jutaan dolar bantuan yang diberikan.(rtr-gn-25) |