logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 17 Januari 2008 EKONOMI
Line

Econit: Ekonomi 2008 Suram

JAKARTA-Econit Advisory Group memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2008 akan melambat 0,2 persen dari tahun 2007 lalu sebesar 6,2 persen menjadi 6 persen atau lebih rendah 0,8 persen dari target pemerintah.

Namun, pelambatan ini bukan disebabkan faktor internal, tetapi lebih dipicu faktor eksternal.

Perkiraan itu diungkapkan pengamat ekonomi yang juga mantan menteri perekonomian dari Econit Advisory Group, Rizal Ramli, dalam acara Econit's Economic Outlook 2008 di Jakarta, Rabu (16/1).

Rizal memperkirakan, ekonomi dunia akan mengalami koreksi dari 5,1 persen tahun lalu menjadi 4,7 tahun ini. Hal yang sama juga berlaku bagi perekonomian Amerika Serikat yang diperkirakan turun dari 1,9 persen tahun lalu menjadi 1,2 persen pada 2008, yang mengarah pada resesi.

Selain itu, rekam jejak pemerintah yang buruk dalam meredam gejolak harga kebutuhan bahan pokok bisa menimbulkan persoalan besar di 2008. ''Kalau saya lihat semua faktor, sekaligus dibandingkan kondisi 1997-1998, bukan tidak mungkin meledak dan Indonesia kembali mengalami hard landing,'' jelasnya.

Financial bubble (gelembung keuangan) yang mulai terbentuk sejak 2007, lanjut dia, akan semakin menggelembung pada 2008. Derasnya aliran hot money yang masuk ke sektor finansial Indonesia, ditambah missing link antara makro ekonomi dan sektor riil menyebabkan gelembung itu semakin besar.

Pecah Mendadak

Penggelembungan itu, lanjut dia, dikhawatirkan pecah mendadak, sehingga Indonesia akan mengalami hard landing. Karena itu, Econit menyimpulkan 2008 sebagai tahun balon. Berbagai balon finansial, ancaman kenaikan harga pangan, dan gejala subprime landing dalam kasus Indonesia akan semakin menggelembung pada 2008.

Pembentukan balon finansial itu, menurut Rizal, sudah terjadi sejak 2007. Ditandai peningkatan ekspor yang dipicu kenaikan harga komoditas di pasar dunia dan besarnya aliran masuk hot money yang menjadi faktor pendorong pertumbuhan indeks Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga 52 persen pada 2007.

Di sisi lain, kenaikan nilai aset finansial yang sangat tinggi justru memperlambat perkembangan sektor riil. Pasalnya, tingkat return yang lebih tinggi di sektor finansial ketimbang sektor riil menyebabkan pemilik modal cenderung melakukan investasi di sektor finansial.

Akibatnya, kesenjangan antara sektor finansial dan sektor riil makin lebar. Ini disebabkan sektor finansial terus menggelembung, sementara sektor riil semakin terpuruk. Sementara kelangkaan pangan dan kenaikan harga kebutuhan pokok akan terus berlanjut pada 2008. ''Ancaman kelangkaan dan kenaikan harga pangan itu dapat memicu masalah sosial politik serius, seperti kejatuhan Soekarno dan Soeharto. Gelembung yang makin besar itu dapat pecah sewaktu-waktu. Namanya balon, pada satu titik akan kempes atau meledak,'' kilahnya.

Di pihak lain, guncangan baik eksternal maupun internal dapat berakibat pada terjadinya arus balik hot money dan terkoreksinya balon finansial. Sebab Indonesia sangat rentan terhadap shock.

Dia melihat ada sejumlah faktor yang bisa menyebabkan gelembung itu pecah mendadak. Antara lain, peningkatan ekspor dan cadangan devisa hanya ditopang kenaikan harga komoditas internasional dan aliran hot money. (bn-33)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA