logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 17 Januari 2008 EKONOMI
Line

Harga Barang Diperkirakan Naik

JAKARTA-Kenaikan harga BBM industri dipastikan bakal menyebabkan membengkaknya biaya produksi, sehingga otomatis harga barang naik. Dampak lain, inflasi juga akan meningkat. Diperparah kenaikan harga pangan, inflasi tahun 2008 bisa mencapai 6,5 sampai dengan 7 persen.

Pendapat itu dilontarkan pengamat ekonomi asal CIDES, Umar Juoro dan pengamat keuangan Ryan Kiryanto kepada Suara Merdeka di Jakarta Rabu kemarin. Menurut Ryan, kenaikan harga BBM industri berdampak inflatoir, karena industri akan menaikkan harga barang, sehingga terjadi cost push inflation.

Hal ini, kata dia, akan mendorong laju inflasi ( bulanan dan tahunan) yang berpotensi menahan, bahkan menaikkan suku bunga moneter acuan (BI rate) oleh Bank Indonesia.

Untuk itu, menurut Ryan, dampak kenaikan BBM hanya bisa ditangkal, apabila dunia usaha melakukan efisiensi, sekaligus inovasi bisnis, sehingga tidak perlu menaikkan harga barang.

Sebelumnya diberitakan kenaikan BBM industri diumumkan Pertamina, Selasa (15/1) lalu.

Sejumlah kalangan, seperti API (Asosiasi Pertekstilan Indonesia) juga sepakat kenaikan harga BBM industri bakal menurunkan daya saing produksi. Salah satu industri yang terkena dampak kenaikan BBM adalah industri baja dan tekstil. Pasalnya, peranan struktur biaya industri baja dan tekstil sangat besar. Akibatnya, kenaikan BBM dipastikan akan menurunkan produktivitas pabrik. Mengingat struktur biaya kedua industri baja 22-23 persen dan tekstil sekitar 13 persen.

Dengan komponen biaya tinggi, maka itu akan menaikan biaya produksi dan mengakibatkan penurunan daya saing produk.

Akibat kenaikan harga BBM untuk industri dan tarif PLN, biaya produksi akan naik 25 persen. Biaya energi menempati urutan kedua setelah biaya bahan baku. Proporsinya beragam sesuai jenis industri tekstilnya. Untuk serat buatan, energi menyumbang 30 persen biaya produksi. Pemintalan 18,67 persen ongkos produksinya untuk biaya energi. Di sektor pertenunan menyumbang 14,37 persen, dan garmen 1,33 persen. (bn-33)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA