logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 17 Januari 2008 EKONOMI
Line

RI Bisa Jadi Pusat Ekonomi Syariah Dunia

JAKARTA-Dengan potensi ekonomi yang dimiliki, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yakin Indonesia bisa menjadi pusat ekonomi syariah di Asia, bahkan dunia. Hal itu disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pembukaan Festival Ekonomi Syariah (FES) di Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta, Rabu (16/1).

Dengan demikian, Indonesia dapat memanfaatkan sumber-sumber keuangan syariah dari pasar internasional yang dimungkinkan untuk mendukung kemakmuran dan pertumbuhan ekonomi nasional yang lebih cepat."Untuk lebih mempercepat pengembangannya, saya minta Menhuk dan HAM, Menteri Agama, Menneg BUMN, Menkeu, untuk menjadikan pengembangan perbankan syariah dan keuangan syariah menjadi agenda nasional," ujarnya.

Apalagi, sistem ekonomi syariah terbukti menjadi solusi untuk menyelamatkan ekonomi dari krisis. Krisis ekonomi tahun 1998 telah membuktikannya. "Pengalaman membuktikan di tengah krisis ekonomi 1998, ketika bank konvensional berguguran, ekonomi syariah bertahan," ujarnya.

Perbankan syariah juga berhasil mempertahankan kualitas aset yang cukup meningkat. Hal ini terlihat dari NPF gross yang terkendali sebesar 6 persen, FDR dan pembiayaan yang cukup tinggi masing-masing Rp 24,64 triliun dan Rp 23,31 triliun.

Memulai Akselerasi

Sementara itu, Bank Indonesia memulai akselerasi industri keuangan syariah untuk mengoptimalkan potensi pertumbuhan sistem ekonomi syariah. Sejak 2005 lalu, BI menargetkan penguasaan pasar perbankan syariah sebesar 5 persen dari total indutri perbankan pada 2008.

Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah saat menyampaikan pesan dalam pembukaan Festival Syariah di Jakarta kemarin mengatakan, penggiat ekonomi syariah harus lebih keras mengembangkan industri keuangan syariah agar lebih optimal menggarap potensi pasar.

"Pada 2007 perkembangan perbankan syariah menunjukkan pertumbuhan positif. Tahun ini dan seterusnya kami akan mengakselerasi pertumbuhannya," kata dia.

Dia menyebutkan, momentum akselerasi industri keuangan syariah ditandai dengan penandatanganan dua pembiayaan sindikasi bank syariah. Sindikasi pertama dipimpin Bank Muamalat untuk pembiayaan PT Indonesia Air Transport sebesar 31 juta dolar AS. Kemudian sindikasi kedua yang dipimpin Bank Syariah Mandiri mengucurkan pembiayaan senilai Rp 525 miliar ke PT Citra Sari Makmur.

Selain itu, ditandatangani pula nota kesepahaman antara PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) dengan anak usaha Asia Development Bank, Islamic Corporation for the Development of Private Sector untuk membentuk bank syariah baru.

Empat bank syariah bersindikasi membiayai sektor transportasi udara senilai 30 juta dolar AS. Ke empat bank itu adalah Bank Muamalat, Bank Syariah Mandiri, Al-Ijarah Indonesia Finance, dan The International Leasing and Investment Company-Kuwait.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Siti Fadjrijah mengatakan sindikasi akan membiayai pembelian helikopter untuk memperkuat bisnis transportasi udara grup Bimantara. "Bank Indonesia akan dorong perbankan syariah lebih banyak membiayai korporasi untuk mengembangkan usaha," ujarnya.

Siti menjelaskan, sindikasi merupakan solusi alternatif bagi perbankan syariah untuk mengatasi masalah permodalan. Hingga saat ini aset perbankan syariah masih rendah. Akibatnya, porsi yang bisa digunakan untuk pembiayaan sangat kecil dibanding bank konvensional. (bn-33)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA