logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 17 Januari 2008 BUDAYA
Line

Temui Pak Harto, Ikhlaskan Lukisan

KONDISI kesehatan mantan Presiden Soeharto yang kritis akhir-akhir ini memantik empati banyak orang, tak terkecuali Antock Adi Krisdianto, pelukis asal Semarang. Empati itu ia wujudkan dengan mengikhlaskan lukisannya berjudul "Ibu Tien" yang sejak 1996 telah menjadi koleksi Museum Purna Bhakti Pertiwi, Jakarta, tanpa kejelasan proses administrasi.

"Melihat kondisi beliau yang sakit parah, saya merasa prihatin. Untuk itu saya putuskan mengikhlaskan lukisan 'Ibu Tien' untuk beliau," kata Antock, di Semarang, Selasa (15/1).

Sebelumnya, bukan persoalan mudah bagi dia melupakan persoalan lukisan bercorak surealis itu. Bertahun-tahun, dia memperjuangkan hak atas lukisan "Ibu Tien" .

Kisahnya bermula ketika pada 1996 Antock kerentek untuk melukis Ibu Tien yang baru saja meninggal dunia, tepat pada Hari Raya Idul Adha. Setelah lukisan jadi, pelukis gondrong bertopi baret yang menggeluti corak surealis tersebut, berniat menawarkannya kepada Presiden Soeharto atau Mbak Tutut di Jakarta. Untuk itu ia meminta bantuan koleganya, seorang menteri.

Sesampai di Jakarta, Antock tak berjumpa dengan sang menteri. Ia malah ditemui menantu menteri itu yang seorang jenderal. Kepadanya, sang jenderal menyatakan kesediaan untuk mengantarkan menemui Pak Harto di kediamannya di Jalan Cendana, seminggu kemudian, pada hari ulang tahun (alm) Ibu Tien, 24 Agustus. Sementara, lukisan dititipkan kepada sang Jenderal.

Tepat pada hari itu, Antock kembali menemui sang jenderal, namun dikatakan bahwa lukisan itu telah diserahkan ke Cendana. Untuk memastikannya, dia mengecek langsung kepada kepala rumah tangga Cencana saat itu, Darmadi. Namun anehnya, tanda terima yang dikeluarkan atas nama sang menteri, bukan sang jenderal.

Antock lalu menghubungi sang jenderal dan kepadanya dia meminta sekadar biaya produksi dan operasional lukisan sebesar Rp 15 juta. Tapi sang jenderal menolak. Tak kurang akal, dia kemudian meminta pertanggungjawaban sang menteri.

Somasi

Tahun 2004 Antock meminta bantuan seorang pengacara untuk menyomasi jenderal tersebut. Empat kali somasi diajukan namun tak beroleh tanggapan. Tak berapa lama kemudian, seorang sekretaris pribadi Soeharto bernama Maliki memanggil Antock. Kepadanya, ia mengatakan bahwa Presiden Soeharto sudah mengetahui masalah lukisan itu. Jika Antock mengikhlaskannya, presiden akan memberi kompensasi yang nilainya kurang dari harga lukisan Affandi atau Basuki Abdullah.

Sampai 2006, Antock masih mengupayakan hak atas lukisannya menggunakan jasa pengacara. Namun, pada awal 2008, ketika kondisi kesehatan Soeharto menurun drastis sampai tahap kritis, dia berubah pendirian. "Dengan penuh kesadaran, saya ikhlaskan lukisan 'Ibu Tien' untuk Pak Harto.''

Minggu (13/1) lalu, Antock menjenguk Pak Harto di RSPP Jakarta sekaligus menyerahkan surat pengikhlasan itu. Namun karena penjagaan amat ketat, niat baiknya tidak kesampaian.

Lelaki yang tinggal di Perum Gombel Asri Semarang itu kemudian mendatangi kediaman di Jalan Cendana untuk menyerahkan surat tersebut kepada Maliki, tapi setali tiga uang. "Tidak ada maksud lain, saya hanya ingin menyerahkan surat itu kepada Pak Harto, agar semua masalah selesai," tandas Antock. (Rukardi, Adi Prianggoro-45)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA