logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 17 Januari 2008 BUDAYA
Line

Tontonan yang Juga Tuntunan

DALANG ini tak sekadar memenuhi unsur tuntunan, namun dalam membeber pakeliran, dia juga tak melupakan tuntunan. Salah satu kepentingan dari pertunjukkan wayang yang dewasa ini sepertinya sudah banyak ditinggalkan.

Ki Mas Demang Edy Sulistiono belum lama ini menggelar pakeliran dengan lakon ''Wisanggeni Gugat''. Pergelaran wayang yang diprakarsai Yayasan Sangga Buana tersebut diselenggarakan di pendapa Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Surakarta.

Jangan bayangkan pakeliran yang tersaji malam itu seperti pertunjukkan wayang pada umumnya. Sangatlah tidak sama. Sebab di sana, unsur tontonan menjadi terasa berimbang dengan unsur tuntunannya. Itulah yang kemudian menjadikan pertunjukan terasa menarik.

"Selama ini ada kecenderungan wayang hanya terus menuruti kehendak pasar. Padahal karena alasan tersebut, terkadang pakeliran menjadi melenceng dari jalurnya," ujar Edy.

Mas Demang, demikian dalang tersebut biasa disapa, sudah sepantasnya mengambil sikap yang seperti itu jika mengingat latar belakangnya sebagai seorang Dosen Jurusan Pedalangan di Akademi Seni Mangkunegaran. Dalam kapasitasnya itu, dia harus menjaga batas-batas tradisi pakeliran.

Tak Menyakiti

Meski tetap patuh dalam lajur konvensi wayang, toh pakeliran Mas Demang juga masih tersasa menarik karena dalang yang dikenal vokal tersebut tak ingin terjebak dengan pakem. Ada usaha pengembangan yang dilakukannya agar pakelirannya lebih dekat dengan penonton.

"Tapi yang perlu diingat, dalam berkreasi saya berusaha tak menyakiti wayang. Artinya, masih dalam batas-batas konvensi wayang."

Memberi tanpa menyakiti tampak ketika ada banyak sanggit baru yang ditonjolkan di balik babaran kisah Wisanggeni sejak lahir hingga dewasa. Simak semisal ketika dalam jejeran pertama sang dalang cukup hanya menghadirkan sebuah gunungan dan aneka satwa. Ini jelas berbeda, karena biasanya jejer pertama itu selalu menghadirkan banyak tokoh wayang.

Contoh lain, adalah ketika sang dalang menggunakan unsur flashback lazimnya yang ditemui dalam dunia film. Lewat cara tersebut, cerita lakon terasa tak menjadi monoton. "Saya berharap, penonton tak sekadar mendapat hiburan namun juga tak melupakan nilai hitam putih kemanusiaan yang terkandung di dalamnya. Inilah adi luhungnya wayang itu." (Wisnu Kisawa-45)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA