| Kamis, 17 Januari 2008 | BUDAYA |
Cinta yang Bodoh
CERITA cinta tidak akan pernah ada matinya. Dalam film drama romantis Radit dan Jani produksi Investasi Film Indonesia (IFI), kisah cinta kembali dihadirkan lewat versi lamanya. Cinta yang buta dan bodoh. Selebihnya, adalah bumbu yang memperkaya sekaligus mencederai keberadaan cinta itu sendiri. Film besutan Upi yang pernah menghasilkan 30 Hari Mencari Cinta dan Realita, Cinta dan Rock n' Roll ini sekilas mengingatkan pada kisah cinta Bonnie and Clyde. Sepasang kekasih yang memadu cinta dan bahu membahu meluluskan segala cara untuk mempertahankan hidup dan cinta mereka, bahkan berbuat kejahatan seperti mencuri pun mereka lakoni bersama. Dalam tataran yang lain, meski belum severbal, seliar, dan seganas kisah cinta sepasang kekasih yang menjalani hidup bomemian nan penuh kejahatan dalam film Natural Born Killers, kisah Radit dan Jani sedikit banyak beranjak dari dua film Hollywood itu. Sebagaimana kelemahan mendasar para film maker tanah air, alur cerita film yang akan beredar mulai 24 Januari itu compang-camping. Upi yang juga bertindak sebagi penulis skenario, bukan hanya terlalu berlarat-larat dengan durasi film sepanjang 115 menit ini. Dengan kompleksitas cerita yang sebenarnya banal, naif dan rata-rata, dalam 90 menit terakhir sebenarnya film sudah rampung kisahnya. Sosok sepasang kekasih "berani mati" yang dicitrakan lewat tokoh liar, kasar, namun hero, yaitu Radit (Vino G Bastian), dan Jani, kependekan dari Anjani (Fahrani), tidak menyisakan kepelikan tema apa-apa. Kecuali pernikahan mereka tidak direstui kedua orang tua Jani yang diperankan Nungki Kusumastuti dan Joshua Pandelaki, serta adik Jani. Kisah selebihnya, karena Radit tidak mempunyai penghasilan apa-apa sebagai seorang suami, maka bersama Jani, kerjanya menjadi pencuri kecil-kecilan untuk mempertahankan biduk rumah tangga mereka. Yang Terbaik Payahnya, Radit yang sudah kere, temperamental, kemudian didepak teman bandnya karena terlalu banyak teler, dan menjadi pemadat kelas berat serta pencemburu berat itu, tak ubahnya matahari dalam hidup Jani. "Karena Radit adalah yang terbaik yang pernah gue peroleh dalam hidup ini," pekik Jani kepada adiknya. Namun, atas nama cinta buta dan bodohnya kepada lelaki yang tidak bisa apa-apa kecuali lihai mengumbar umpatan bodoh kepada istrinya sendiri, Jani tetap bertahan dalam penderitaan dan kemiskinan. Sebuah ikhwal yang muskil dan tidak masuk akal yang lucunya coba dilogikan oleh pembuat cerita. Hal yang membanggakan dari film ini adalah ide menyempal menghadirkan drama percintaan dari tilikan sudut pandang yang berani berbeda, dengan semangat menghadirkan cinta yang buta, bodoh, kasar, tanpa tedeng aling-aling dan brutal. (45) |