logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 16 Januari 2008 KEDU & DIY
Line

Tertekan Negara Penghasil Kedelai

YOGYAKARTA - Makanan tradisional tempe dan tahu merupakan makanan penting bagi masyarakat kelas bawah karena selama ini harganya terjangkau. Selain itu mudah diperoleh di mana saja dan kandungan proteinnya sangat tinggi. Namun akhir-akhir ini harga kedelai naik sangat tinggi sehingga membuat pengusaha tempe kelabakan.

Mereka tak mampu menjangkau bahan baku kedelai yang masih impor. Kondisi demikian menurut pakar tempe dan juga guru besar Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Mary Astuti, karena Indonesia tak bisa lepas dari tekanan negara-negara pengekspor yang menginginkan negeri ini menjadi pasar.

''Kondisi tersebut tak lepas dari tekanan negara-negara pengekspor kedelai, mereka ingin Indonesia tetap menjadi pasar mereka. Kenaikan harga merupakan upaya negara penghasil kedelai mengganggu program swasembada pangan,'' tandasnya, kemarin.

Dia menilai, pemerintah juga kurang cepat mengantisipasi kenaikan harga kedelai. Karena itu, pemerintah harus segera mengambil langkah darurat agar harga kedelai kembali terjangkau.

Banyak produsen tempe dan tahu beberapa hari ini mengurangi volume produk bahkan ada yang berhenti.

Menurutnya, program swasembada kedelai dapat dilakukan secara cepat dan bertahap asal pemerintah serius melakukan implementasi seperti penambahan lahan kedelai.

Saat ini lahan tersedia hanya 700.000 hektare padahal untuk mencapai swasembada minimal harus ada 1,7 juta hektar. Lebih luas bakal lebih baik.

Dia menggambarkan potensi swasembada cukup tinggi berdasarkan hasil uji coba Fakultas Teknologi Pertanian UGM. Produksi kedelai dapat mencapai tiga ton/hektare. Itu jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Brasil yang hanya mampu memproduksi 2,5 ton/hektare. (D19-70)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA