| Selasa, 15 Januari 2008 | WACANA |
Surat PembacaKhawatirkan Data di CitibankSebagai pengguna kartu Hallo, beberapa waktu lalu saya mendapat telepon dari orang yang mengaku karyawan Citibank. Dia menawarkan promosi kartu kredit, kerja sama Telkomsel dengan Citibank. Karena saya termasuk orang yang anti kartu kredit, maka saya langsung tolak dengan halus, tanpa mendengar penjelasan lebih lanjut. Tak lama setelah itu, ayah saya juga ditawari hal sama. Bedanya, ada sales yang datang ke kantor ayah untuk menjelaskan. Karena tertarik maka ayah melengkapi syarat yang diminta. Tapi lama tidak ada berita, beliau melupakan penawaran tersebut. Beberapa waktu kemudian, datang sales lain lagi menawarkan promosi yang sama. Sekali lagi ayah melengkapi persyaratan yang diminta. Kali ini berhasil mendapat kartu kredit. Beberapa minggu kemudian, datang kurir membawa kartu kredit yang disetujui, lengkap dengan buku keterangan tentang syarat pemakian dan petunjuk manfaatnya. Ayah meminta saya membaca dan menerangkan cara penggunaan kartu itu. Setelah membaca, saya pun tertarik memiliki kartu tersebut. Tetapi saya ragu-ragu juga karena banyaknya surat pembaca yang berisi komplain bahwa sering kali terjadi penyalahgunaan kartu kredit atau pun aksi premanisme yang dilakukan debt collector kepada ''orang yang salah''. Akhirnya saya putuskan tidak perlu memproses permohonan kartu itu. Ketika berbelanja di mal, sales Citibank membujuk saya untuk membuat kartu kredit dan akhirnya setuju. Saat itu juga KTP dan SIM saya di scan. Saya hanya diminta menandatangani formulir pengajuan kredit, selebihnya sales yang mengurus semuanya. Siangnya, ada orang mengaku dari Citibank, menelepon saya. Dia menanyakan apakah saya Sri Lestariningsih dan saya jawab bukan. Tapi orang tersebut mendesak agar saya mengaku bernama itu dan mengatakan bahwa Sri Lestariningsih adalah nasabah Citibank yang menunggak pembayaran. Saya menjelaskan, hal itu salah atau mungkin nomornya tertukar dengan nomor saya yang baru malam sebelumnya mengajukan aplikasi permohonan kartu kredit. Orang tersebut meminta kesediaan saya bekerja sama untuk dimintai keterangan polisi, jika diperlukan mengenai nomor selular yang saya gunakan dan saya menyanggupi. Seminggu kemudian, datang orang lain lagi yang mengaku agen Citibank ke kantor saya, ingin menyurvey. Yang saya heran, di lembar survey yang dia bawa, terselip juga lembar kartu kredit dari bank lain. Selesai proses survey, orang tersebut meminta izin untuk memotret rumah. Lalu dia minta saya menunggu proses kartu kreditnya. Tanggal 18 Desember 2007 saya mendapat SMS dari Citibank yang mengatakan permohonan kartu kredit ditolak dan saya tidak keberatan. Yang saya khawatirkan, data, tanda tangan dan scan KTP serta SIM saya ada pada orang yang menawari kartu kredit. Siapa yang harus bertanggung jawab jika data dan scan KTP/SIM disalahgunakan sales atau pihak lain karena banyak kasus penipuan dengan menggunakan identitas orang lain. Yulia Dwimulyani Jl Kelud Utara II/2, Semarang. Dunia Kelab Malam Sebagian masyarakat mengatakan dunia kelab malam sangat menyenangkan dan menyegarkan. Hal ini terutama dirasakan para remaja baik sekadar ber-enjoy maupun berpacaran. Tetapi di balik itu ada orang yang berpendapat bahwa dunia kelab malam sangat mengkhawatirkan, membahayakan kesehatan bahkan mengarah kepada kemerosotan moral, terutama bagi wanita. Mereka mengunjungi kafe sampai jauh malam, bercinta, minum rokok, minum-minuman beralkohol, bahkan dimungkinkan pakai narkoba. Ini jelas menyebabkan ketagihan, membuat moral bejat (rusak) dan akhirnya tidak bersekolah karena pengaruh minuman yang berbahaya tersebut. Bisa terjadi mereka berbuat intim yang merugikan bagi wanita. Ada sebuah keluarga yang mengeluh, akhir-akhir ini putrinya yang baru berumur 15 tahun siswa kelas satu SMA, sering pamitan dengan berbagai alasan seperti ultah teman, besuk teman, ke mall dan lainnya. Tetapi nyatanya dia pulang sampai larut malam atau bahkan tidak pulang. Orang tua bingung dan tanpa bantuan teman dekat, sulit diketahui ke mana dia berada. Sesudah tidak pulang selama dua hari akhirnya dia mengakui, menikmati dan tidak akan melupakan dugem (dunia kelab malam). Akibat dari perbuatan tersebut dia tidak bersekolah. Dugem bisa membahayakan para remaja yang masih di bawah umur. Suatu pertanyaan, apakah di kafe tidak ada larangan bagi remaja di bawah umur ?. Saya usul, di SMA atau universitas pada waktu tertentu diadakan ceramah oleh aparat khusus mengenai dunia kelab malam. Apa positif dan apa negatifnya. Kalau para pengunjung diketahui mengidap narkoba, apa dasar hukum yang dilanggar dan berapa tahun vonis hukumannya. Dengan demikian para remaja harapan bangsa akan memahami dan tidak lagi berbuat sesuatu di kafe. Saya kira tidak semua kafe menyediakan minuman keras yang membahayakan, kecuali hanya sekadar ada hiburan dengan menggunakan organ dan para penyanyi yang suaranya bisa dinikmati pengunjung. Moeljono HP Jl Banteng Utara VII/1, Semarang *** Pembodohan Tanpa Tanggung Jawab Betapa rakyat dipermainkan dan dibodohi oleh para elite dan petinggi negara serta wakil rakyat. Di antaranya wali kota, bupati dan sebagainya yang belum masa jabatannya, sudah mencoba sibuk untuk meraih jabatan lain. Bagaimana pertanggungjawaban mereka semasa kampanye dan janjinya yang begitu aduhai. Ternyata mereka hanya berpikir untuk diri sendiri. Mereka lupa jabatan yang diemban dan tugas yang harus diselesaikan. Mereka asyik sibuk mempersiapkan jenjang jabatan karier berikutnya. Alamak negeriku. Memang sah saja seseorang mencalonkan diri, tapi tolong pikir tugas yang masih harus diembannya. Saya pikir mereka bukan pemimpin sejati karena pemimpin sejati tidak akan melihat besar-kecilnya jabatan, tapi bisakah memimpin rakyat agar hidup sejahtera dalam arti sebenarnya. Kalau yang terjadi seperti sekarang, mereka tidak lebih dari kepala kantor yang mengejar karier di jajaran birokrasi. Bila memang begitu kenyataannya, buat apa ada pilihan. Percuma saja bila akhirnya yang didapat hanya kepala kantor, bukan pemimpin. Lebih baik pejabat karier saja yang diangkat, ongkosnya lebih murah. Memang menjadi tidak demokratis, tapi mungkin lebih baik daripada pakai istilah demokrasi namun hanya alat permainan para elite yang kelakuannya sama saja. Rakyat Indonesia yang sadar dan sesadar-sadarnya, waspadalah terhadap pemimpin yang model mengejar kekuasaan, bukan berbuat untuk kemaslahatan rakyat banyak. Pemimpin seperti ini cenderung menggunakan kekuasaan semaunya, mudah menyalahgunakan kemenangan tanpa menghiraukan suara hati atau kepentingan masyarakat banyak. Sudjarwo Jl Padangsari 20, Semarang *** RSU Soewondo Jorok Tanggal 30 Desember 2007 dari Yogya saya berangkat ke Pati untuk menjenguk sahabat yang dirawat di ruang Paviliun RSU Soewondo Pati. Karena perjalanan jauh, saya meminta izin untuk sekadar membersihkan diri dan karena ruangan perawatan di Paviliun, jadi pasti tempatnya pribadi. Tapi setelah masuk ke kamar mandinya, sungguh di luar dugaan sangat jorok dan sepertinya tidak pernah dibersihkan. Lantainya berlumut, bak mandi tidak memadai, kloset kotor serta keadaan lain yang tidak bisa saya bayangkan untuk sebuah kamar mandi ruang Paviliun. Melihat kondisi tersebut saya mengira sahabat saya saja yang kurang beruntung mendapat ruangan yang kurang bersih. Saya penasaran ingin mencari kamar mandi di luar, tapi ternyata kondisinya bahkan lebih jorok. Saya berpikir di ruangan Paviliun saja seperti itu, lalu bagaimana dengan ruangan di bangsal umum. Apa tidak lebih "mengerikan". Keadaan seperti itu saya ceritakan di luar ruangan kamar kepada saudara yang menunggui. Dia juga agak syok melihat kondisi ruangan secara umum yang kurang terawat. Dalam perjalanan pulang saya sebagai orang awam masih membayangkan bagaimana kondisi tempat pelayanan kesehatan masyarakat yang memprihatinkan tersebut. Seharusnya pengelola RSU Soewondo bersungguh-sungguh menangani masalah kebersihan agar pasien merasa lebih nyaman. Theresia Evi Yanuatri Botton Margoharjo 26, Magelang *** Soal Belanja di Carrefour Sehubungan tulisan Ibu Irene M Turnami di Surat Pembaca 20 Desember 2007 berjudul "Belanja di Carrefour", kami telah menghubungi beliau untuk mengklarifikasi. Kami sampaikan mengenai prosedur pembatalan pembelian barang yang menggunakan kartu kredit. Untuk itu kami mohon maaf atas ketidaknyamanan yang telah dialami. Pelayanan yang maksimal akan terus kami tingkatkan untuk kepuasan pelanggan. Retha A Dotulong Com & Community Relations Manager *** Parkir di Kota Salatiga Perda tentang tarif parkir di jalan/tempat umum yang berlaku di Kota Salatiga tahun 2008 sbb: Untuk roda dua Rp 500, roda empar Rp 1.000. Yang menjadi uneg-uneg saya, pihak terkait agar memberikan penjelasan pada masyarakat umum antara lain bagaimana kalau parkir di RSUD tarifnya Rp 1.000 untuk roda dua. Apakah Perda tersebut tidak berlaku di tempat yang jelas milik Pemkot atau memang ada aturan khusus tentang penentuan tarif parkir di tempat tersebut. Juga ketika parkir di Jl Pemotongan Salatiga tepatnya di depan toko makanan kecil "Putro Joyo", petugas parkirnya malah menawarka karcisnya mau minta dua atau saat saya minta bukti parkir. Dalam hati saya bertanya apa ini risiko terkecil untuk mengurangi angka korupsi dengan nominal terkecil? Padahal pada harian ini beberapa waktu lalu ada pejabat Pemkot yang menyarankan untuk meminta karcis kepada petugas. Demikian uneg-uneg yang saya dan mohon maaf bila kurang berkenan. Rohid Hamdani Gedangan RT 2/RW 7, Tuntang *** Klub Stroke RS Elisabeth Saya ingin berbagi informasi kesehatan kepada pembaca bahwa di RS Elisabeth Semarang kini sudah ada klub stroke yang didirikan dan dikelola dokter setempat. Anggotanya terdiri dari penderita stroke, bekas penderita stroke atau disebut Insan Paska Stroke (IPS). Pada tahun 2007 sudah diadakan kegiatan dua kali berupa ceramah oleh dokter spesialis dan seorang profesor. Juga diadakan sharing dan hiburan. Kegiatan dilaksanakan rutin dua bulan sekali yang kemudian menjadi 3 bulan sekali. Materinya berganti-ganti dan penyajinya para dokter spesialis. Peserta mendapatkan fotokoip materi, snack dan makan siang dan juga ada doorprize. Menurut dokter yang mengelola, pesertanya tidak terbatas dari RS Elisabeth saja melainkan boleh dari luar. Keuntungan yang saya peroleh selama mengikuti kegiatan : Pengetahuan saya bertambah tentang penyakit stroke, punya perbendaharaan fotokopi materi ini, tambah kenalan, meningkatkan semangat hidup dan lainnya. Yang pernah mengalami serangan hilang atau disebut TIA (Tranfient Ischemuic Attack) misalnya gringgingen sebelah badan, anggota badan lemes dan pelo sebentar kemudian pulih kembali dan yang peduli terhadap penyakit stroke, serta penderita hipertensi serta gula darah yang berpotensi kena serangan stroke, saya sarankan mengikuti kegiatan tersebut yang diadakan di gedung pertemuan Katharina. Jl Kawi 13 Semarang (sebelah RS Elisabeth). Hari Kartiyono Jl Batur I/3, Semarang. *** Refleksi Kota Ungaran Sudah 4 tahun saya melepas KTP Bedagan Semarang dan mutasi ke Ungaran. Namun sampai sekarang masih saja susah mencari ikon yang dapat saya banggakan di kota baru ini selain udara sejuk dan bebas banjirnya. Sarana dan prasarana fisiknya masih awet belum banyak berubah. Yang banyak berubah hanya lalu lintasnya yang sering macet dan ruwet. Yang bikin agak nelangsa; banyak orang lebih mengenal Ambarawa daripada Kabupaten Semarang. Padahal Ambarawa hanyalah kecamatan atau subbagian dari Kabupaten Semarang. Apa renungan refleksi terkait 20 Desember sebagai tanggal keramat Kota Ungaran. Berdasar PP No 29/1983 tanggal 20 Desember 1983 tentang Penetapan Status Kota Ungaran sebagai Ibu Kota Pemerintah Kabupaten Semarang, usia Ungaran masih gaul 24 tahun. Tapi dalam babad sejarah. Kabupaten Semarang dan Kota Semarang pernah tergabung ke dalam satu wadah yaitu Kadipaten Semarang. Hal ini bertepatan dengan dilantiknya Ki Ageng Pandan Arang II sebagai Bupati I oleh Hadiwijaya, Sultan Pajang pada 12 Rabiul Awal 1954 H atau 2 Mei 1547. Jadi secara historis sebenarnya 460 tahun lalu sudah lahir Kota Ungaran, meski akhirnya tanggal itu dipakai Kota Semarang sebagai hari lahirnya. Pada perkembangan berikutnya, kedua saudara kandung itu mengalami nasib yang berbeda. Kota Semarang menjadi ibukota Provinsi Jateng dan mengalarni percepatan pembangunan yang luar biasa sementara saudaranya, Kabupaten Semarang terasa tertatih-tatih. Mari tunggu PR yang lagi digarap para penguasa soal lahan kritis 27.000-an hektare, 40-an desa tertinggal, sekitar 9 kecamatan rawan longsor, gap timur - barat, pendidikan dan lainnyal. Anggap saja memori angka 31 7uli 2005, 28 September 2005, SK No 18 tahun 2005 dan SK No 58 tahun 2005 telah lewat dan sekarang saatnya bersungguh-sungguh. Noor Rofiq Jl Wamena V/228-229, Ungaran *** "Terjebak" di Curugsewu Saya bersama rekan kantor baru-baru ini berkunjung ke objek wisata Curugsewu di Patean Kendal. Di pintu masuk tertera tiket @ Rp 5.200. Setelah gapura pintu masuk, terdapat sebuah taman dengan pendopo besar, serta gardu pandang. Mengikuti petunjuk yang mengarah ke lokasi air terjun, kami pun turun untuk menikmati objek tersebut. Namun sesampai di tangga menuju lokasi air terjun, terdapat sebuah pos peristirahatan yang menarik kembali tiket untuk turun ke dalam kawasan air terjun dengan tarif @ Rp 3.000. Saya pun bertanya-tanya? Terus apa gunanya tiket di gapura pintu masuk seharga Rp 5.200 tadi. Dengan kecewa saya segera meninggalkan lokasi; Apakah benar begini pengelolaan Objek Wisata Curugsewu dan untuk menjawab rasa penasaran itu, segera saya menanyakan ke loket ticketing, kenapa masih ada tiket lain untuk melihat air terjun. Padahal di pintu masuk utama sudah ditarik tiket masuk. Jawaban petugas, karena lokasi air terjun masuk dalam kawasan Perhutani. Dengan jawaban itu muncul pertanyaan lain sebab menurut pemikiran saya terdapat 2 objek wisata di dalam kawasan ini. Pertama menuju Curugsewu dengan gardu pandangnya serta kedua air terjun Curugsewu sendiri. Kalau memang demikian, seharusnya di tiket masuk pada gerbang utama tidak tertulis "Objek Wisata Curugsewu". Saya maklum kalau penarikan tiket di dalam objek diperuntukkan bagi sarana tambahan seperti kolam renang atau wahana bermain misalnya. Namun untuk objek wisata utama, saya kira tidak begitu. Semoga kejadian ini bukan karena banyak pelancong. Sebenarnya bukan masalah berapa rupiah yang harus dikeluarkan pengunjung, namun konsistensi dan pengelolaannya. Saya kira pengunjung akan merasa "tidak terjebak" jika terdapat informasi yang jelas tentang tarif masuk dan ticket objek di dalamnya. Karena menurut saya jika tertulis Objek Wisata Curugsewu maka yang diharapkan pengunjung adalah mereka dapat menikmati pemandangan air terjun Curugsewu. Mohon penjelasan dari pihak terkait demi kemajuan pariwisata di Kabupaten Kendal. Dadang Hendrawan Kedungpane RT 5/RW 3, Semarang. *** Mohon Petunjuk Saya pegawai honorer daerah, mulai kerja tahun 1994 s.d sekarang. Pada saat pemberkasan kebetulan saya sedang sakit padahal berkasnya sudah lengkap tinggal mengirim. Karena tempat tinggal saya terpencil jauh dari jangkauan teman, sehingga saya tidak bisa mengumpulkan berkas. Sekarang teman-teman saya sudah diangkat PNS. Mohon petunjuk pihak yang berwenang agar nasib saya tertolong sedangkan umur sudah 41 tahun. Rosidi Sidorejo RT 3/RW 4 Bandongan, Magelang |