| Selasa, 15 Januari 2008 | WACANA |
Bencana Bangkitkan Modal Sosial
Jepang menurut Fukuyama memiliki modal sosial yang sangat tinggi karena masih memegang banyak budaya tradisional di tengah kemajuan.BENCANA silih berganti dalam beberapa tahun ini. Dari tsunami di Aceh, muncul gempa, tanah longsor, sampai banjir dll di berbagai. Harian ini,7 Januari 2008, merilis nominal kerugian akibat banjir di Jateng dan Jatim mencapai ratusan miliar rupiah. Perkiraan awal, di kota Solo saja kerugian mencapai Rp 22 miliar, sementara di Sukoharrjo rp 31,2 miliar. Di kabupaten Sragen kerugian bisa lebih besar lagi yaitu Rp 192 miliar. Kerugian di Bojonegoro dan Lamongan mencapai lebih Rp 100 miliar. Belum lagi kerugian di Kabupaten Kudus, Pati dan sekitarnya tentunya mencapai angka yang besar juga. Dalam waktu yang pendek kerugian mencapai miliar rupiah akibat bencana banjir. Kata-kata bijak menyatakan bahwa di balik suatu musibah bisa jadi ada hikmahnya. Hikmah yang nyata, bahwa kita mesti belajar dari bencana yang terjadi. Pertama, bisa jadi berbagai bencana terjadi karena ulah manusia yang tidak bersahabat dengan alam, lingkungan dan sang Pencipta. Kedua, sudah waktunya direncanakan suatu manajemen untuk mengatasi krisis yang mendadak terjadi, yang disebut dengan manajemen bencana (disaster management). Ketiga, hal positif yang terjadi adalah ramainya berbagai pertolongan untuk mengatasi bencana tersebut. Berkelanjutan Paling tidak ketiga pelajaran yang bisa dipetik dari kasus terjadinya bencana, sebenarnya merupakan suatu yang sebenarnya saling mengkait . Tetapi dalam bidang ekonomi yang berfikir secara positif dan itu akan begitu nampak dalam aliran Neoklasik, masalah ekonomi dibatasi hanya pada variabel-variabel ekonomi saja, sedang variabel lain dianggapnya tetap. Umumnya ilmu ekonomi hanya mempelajari tiga bidang, yaitu pertama alokasi sumber daya, kedua, tingkat pertumbuhan tenaga kerja, pendapatan, produksi dan harga, dan ketiga distribusi pendapatan. Sebaliknya, aliran kelembagaan sebagai salah satu aliran yang bersifat kritis dan mengoposisi aliran ortodoks (termasuk Neoklasik) memasukkan misalnya satu masalah lagi yaitu struktur kekuasaan. Karena aliran ini dalam menyoroti masalah ekonomi tidak bisa melepaskan diri dalam kaitannya dengan berbagai masalah lainnya, seperti masalah politik, sosial hukum, psikologi dan budaya, maka aliran ini pendekatnya bersifat holistik. Veblen yang dikenal sebagai bapak aliran ekonomi Kelembagaan, dengan telah baik menggunakan pendekatan holistik pada masyarakat industri di Amerika Serikat. Masyarakat kelas atas pada masyarakat industri tersebut dikenalnya dengan masyarakat pemalas (leisure) akan tetapi kaya sekali dengan kekuasaan yang besar sekali, konsumsi yang teramat mewah dan begitu boros, dan juga senang sekali pamer akan status kekayaannya. Bagi Veblenian kemajuan ekonomi suatu bangsa tergantung kepada kemajuan teknologi dan kelembagaan. Kemajuan teknologi tentunya berkaitan dengan keberhasilan instrumental dalam rangka memecahkan masalah ekonomi seperti tercermin dalam tiga bidang studi ekonomi (aliran ortodoks), sedangkan kelembagaan merujuk perilaku seremonial yang tergantung kepada status seseorang. Dari bencana yang terjadi tersebut, kalau dari segi teknologi memang kita harus banyak belajar dari pihak lain dan negara lain, yang begitu sigap kalau terjadi bencana sehingga kerugian material dan non-material bisa segera diminimalkan. Dari segi kelembagaan, dengan adanya bantuan yang segera dilakukan oleh para warga sebenarnya mengingatkan akan pentingnya modal sosial yang bisa dipergunakan untuk pembangunan. Aliran ekonomi Kelembagaan dengan titik tumpu modal sosial dikembangkan oleh Putman dan Coleman. Kalau kita bertitik tolak kepada faktor non ekonomi tersebut maka peranan modal sosial menjadi begitu menonjol. Bank Dunia (1999) mendifinisikan modal sosial sebagai sesuatu yang merujuk kepada dimensi kelembagaan (institusional), hubungan-hubungan yang tercipta, dan norma-norma yang membentuk kualitas dan kuantitas hubungan sosial dalam masyarakat. Budaya gotong royong yang dilakukan oleh para warga untuk mengatasi saudaranya yang sedang terkena bencana adalah sebagai modal sosial yang sebenarnya bisa lebih ditingkatkan lagi nilainya untuk pembangunan. Bung Karno sebagai salah satu proklamator juga menunjukkan pentingnya budaya gotong royong, hal ini terbukti karena Pancasila kalau diringkas menjadi satu sila namanya gotong royong. Sayangnya sudah lama mengendap dalam pikiran kita semua akibat pengaruh budaya Barat yang demikian masif, bahwa seolah-olah yang unggul adalah Barat dan segala tradisi kuno yang ada pada kita ketinggalan dan perlu ditanggalkan. Tetapi justru Jepang menurut Fukuyama memiliki modal sosial yang sangat tinggi karena masih memegang banyak budaya tradisional di tengah kemajuan. Contohnya, meskipun Jepang kalah dalam PD II dengan luluh-lantaknya Hirosima dan Nagasaki, akan tetapi dengan modal sosial yang dipunyai segera bangkit dan sekarang menjadi salah satu negara yang terkemuka dan terpandang di dunia. Amerika Serikat terakhir terdongkrak modal sosialnya karena ancaman teoris. Bangsa Indonesia yang terancam berbagai bencana, musibah maupun masalah yang demikian kronis, seperti korupsi, kemiskinan dan pengangguran, harus segera bangkit sepertinya bangsa lain untuk mengatasi masalahnya dengan bertumpu secara maksimal pada diri kita sendiri. Kita harus saling bergandengan tangan gotong royong disertai keteladanan pimpinan yang prima dan tidak lupa meminta rahmat-Nya, semoga masalah yang berat tersebut bisa kita atasi dan dapat menyongsong masa depan yang lebih baik.(11) -- Dr Purbayu Budi Santosa dosen FE Undip dan anggota "Investku" relawan korban banjir di Kudus. |