| Selasa, 15 Januari 2008 | BANYUMAS |
Di Tangan Hasyim, Aren Jadi BerkhasiatPOHON aren yang melimpah di Majenang dan sekitarnya menjadi lebih bernilai di tangan Hasyim, warga RT4 RW1 Cigaru, Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, Cilacap. Dengan keuletannya, dia membuat berbagai minuman tradisional berkhasiat memakai gula aren sebagai bahan utamanya. Hasilnya, berbagai produk minuman baru kini tercipta. Sebut saja, jahe aren, kopi jebug, teh aren, hingga temu aren asem. Pihaknya juga membuat gula aren dalam bentuk bubuk yang dikemas agar lebih menarik dan tahan lama. Inovasi produk ini bermula dari keprihatinannya terhadap gula aren yang melimpah namun tidak memberi nilai ekonomi tinggi pada produsennya. "Produksi gula aren sangat banyak, tapi masyarakat tidak bisa menarik keuntungan besar karena tidak bisa mengolahnya," kata Hasyim. Bahkan ketika musim hujan tiba, banyak gula aren yang rusak karena tidak diolah dengan baik. Hal itu juga terjadi pada buah pinang yang kini dia jadikan bahan baku kopi jebug. Komoditi tersebut hampir tidak dilirik sama sekali oleh masyarakat. "Jebug (buah pinang) banyak yang dibuang, padahal khasiatnya luar biasa," katanya. Menurutnya, jebug berkhasiat menjadi obat kuat. Nilai ekonominya semakin bertambah tatkala diolah dan dikemas dengan baik. Meramu Pria yang mengajar di SMP Negeri Lakbok, Kota Banjar (Jabar) ini berinisiatif menyulap gula aren menjadi minuman tradisional berkhasiat dan bernilai tinggi. Caranya, bongkahan gula aren dari penyadap nira aren dilebur dan dibentuk menjadi butiran bubuk aren. Dari bubuk aren itulah dia meracik dan meramu minuman sehat penghangat badan. Jahe, kopi, temu lawak, jebug hingga susu menjadi salah satu bahan racikannya. Dalam sebulan, Hasyim bersama empat orang karyawannya mampu mengolah 1,5 ton gula aren menjadi minuman tradisional berkhasiat. Minuman tersebut dikemas rapi dan dipasarkan di wilayah Cilacap hingga Kota Banjar (Jabar). Pria yang telah menekuni bisnis gula aren selama tiga tahun ini menjual gula aren bubuknya seharga Rp 15.000 hingga Rp 18.000 per kilogram. Sedangkan minuman lain, seperti jahe aren dihargai Rp 8.000 per dus. Namun, seperti yang dialami pengusaha kecil lainnya, permodalan dan pemasaran menjadi kendala utamanya. Akibat keterbatasan modal, dia mengalami kesulitan mengembangkan usahanya. "Padahal peluangnya sangat besar dan diminati pelanggan. Terbukti tingkat pengembalian produknya (retur) mencapai 0%." katanya. (Khalid Yogi-75) |