| Senin, 14 Januari 2008 | SALA |
Minimalkan Kekerasan terhadap AnakBANJARSARI - Anak yang sering menerima kekerasan dalam rumah tangga akan mempengaruhi perkembangan jiwanya. Karena masih dalam proses meniru (imitasi) dikhawatirkan anak juga melakukan kekerasan saudara atau temannya. Pernyataan tersebut dilontarkan psikolog anak dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Moordiningsih MSi Psi ketika berbicara dalam talkshow ''Stop Kekerasan Terhadap Anak'' di aula SD Islam Internasional (SDII) Al Abidin, Sabtu (12/1). Dosen Fakultas Psikologi tersebut juga tak memungkiri, kekerasan yang dilakukan orang tua biasanya berdalih untuk mendisiplinkan anak. Padahal menurutnya, ada dua bentuk perlakukan fisik terhadap anak, yaitu yang bersifat agresi dan mendidik. "Agresi maksudnya melakukan kekerasan fisik yang bersifat menekan dan melukai. Orang tua sering menyalurkan emosi kemarahannya dengan cara itu," jelasnya. Perlakuan yang diterimanya akan terekam dan kemungkinan dipraktekkan pada saudara atau teman. "Karena itu nanti yang akan dipraktikkan anak dalam kehidupan sosialnya. Berperilaku kasar, atau malah menjadi penakut." Sementara perlakuan fisik yang mendidik artinya gerakan yang tidak menyakiti. Menurutnya, apabila ada sifat atau kelakuan anak yang dirasa menyimpang, yang perlu dilakukan adalah memahamkan nilai apa yang bisa diambil dari peristiwa itu. Selain itu, dirinya juga mengingatkan para orang tua yang bekerja harus tahu betul dengan siapa buah hatinya menghabiskan waktu. "Artinya harus tahu teman mainnya siapa, atau apa saja tayangan TV yang dinikmatinya. Seperti ada kasus meninggalnya seorang anak di Semarang karena meniru tokoh film kartun asal Jepang, Naruto," tuturnya. Karenanya, pertemuan meskipun waktunya singkat harus diisi dengan motivasi dan kegiatan kreatif. Sementara Wakasek Kesiswaan, Farida Nur Aini, yang juga menjadi pembicara mengatakan dalam membimbing anak, pihak sekolah harus mampu menmpatkan diri sebagai sahabat. "Karena kalau saya hitung anak lebih banyak menghabiskan waktu di sekolah ketimbang di rumah. Jadi mereka perlu dibuat nyaman, sehingga bisa berbagi apa yang menjadi kecemasannya atau masalahnya." Dia juga menyebutkan kerjasama yang harus dijalin antara sekolah dan orang tua agar bisa mengawal perkembangan anak. (J6-50) |