logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 14 Januari 2008 SALA
Line

Lihat Kirabnya, Datangi Kandangnya

PESONA ritual kirab pusaka di malam 1 Sura yang digelar Keraton Surakarta hingga kini belum juga pudar. Sekalipun sudah berada di zaman modern, arak-arakan ribuan manusia berpakaian adat yang membawa aneka macam bentuk dan jenis pusaka itu, masih saja memiliki daya pikat tinggi bagi masyarakat eks Karesidenan Surakarta dan sekitarnya.

Tak terkecuali kawanan kerbau bule yang selalu hadir menjadi cucuk lampah dalam prosesi kirab jalan kaki sejauh 6,4 km itu. Kehadiran satwa jinak yang biasa untuk membajak sawah di desa-desa ini, selalu saja menjadi pusat perhatian penonton yang memadati sepanjang rute kirab, keliling lingkar luar kawasan keraton yang membentang dari Gladag hingga Gading itu.

Dalam suasana berdesak-desak ketika kirab berlangsung Rabu (9/1) malam hingga Kamis (10/1) dini hari, memang banyak di antara pengunjung yang sudah melihat sosok empat ekor kerbau yang selalu gontai berjalan bersama beberapa abdi dalem srati atau pawang mereka. Namun, masih saja ada yang merasa kurang bisa menikmati bentuk fisik kerbau bule itu.

Bahkan, banyak warga yang lain memilih langsung menyaksikan keturunan Kiai Slamet di dekat kandangnya, di kawasan Alun-alun Kidul. Apalagi yang tidak sempat menyaksikan di malam itu, merasa lebih leluasa kalau mendatangi Kiai Slamet di kompleks Sitinggil Kidul maupun di kandang selatan kawasan alun-alun, agar bisa memberi pakan dan berfoto bersama.

Itulah antara lain pengalaman yang dimiliki keluarga Supardi Lukman (43) dan keluarga Suratman (50), yang datang dengan dua mobil dari Lampung dan Palembang. Rombongan keluarga besar transmigran asal Wonogiri 30 tahun lalu, itu merasa lepas kangennya ketika bisa menyaksikan kirab pusaka dan datang di kandang Kiai Slamet, bahkan berfoto bersama.

''Ya, waktu kecil saya pernah sekali diajak bapak dan simbok (ibu-Red) melihat kirab. Tetapi tidak bisa jelas dan sudah lupa. Sekarang rasanya kepengin menunjukkan kepada anak-anak dan istri, tradisi peninggalan leluhur di Jawa ini,'' tutur Supardi.

Ungkapan dua keluarga itu memang dibenarkan Gunadi Babe (51), salah seorang abdi dalem srati yang siang kemarin sedang merawat empat ekor kerbau yang habis bertugas ''memimpin'' kirab. Pawang yang satu ini memang telaten sekali menyeka muka, membasuh badan dan mengelap tanduk empat kerbau itu hingga tampak bersih.

Gunadi juga menuturkan, sejak dua kelompok kawanan kerbau Kiai Slamet dirawat di dua kandang sekitar 3 tahun lalu, justru banyak warga berdatangan. Banyak di antara mereka yang mengajak anak-anak balitanya, untuk memberi pakan dari balik pagar.(Won Poerwono-50)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA