logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 14 Januari 2008 RAGAM
Line

Menikmati Kecerewetan Burung Cendet

BAGI awam, burung cendet (Lanius schach) mungkin masih terdengar asing di telinga. Tetapi tidaklah demikian dengan para penggemar burung berkicau. Cendet sudah lama menjadi salah satu jenis burung ocehan yang dilombakan. Bahkan lomba di kelas ini selalu dibanjiri peserta, kendati akhir-akhir ini lomba ocehan mulai jarang digelar. Dulu, cendet hanya dikenal sebagai burung rumahan saja. Bahkan nilai jualnya sangat rendah, sekitar Rp 15.000/ ekor. Pedagang mendapatkan cendet dari pencari burung di alam bebas.

Di habitat aslinya, burung ini sering mukim di tepi hutan, pepohonan rindang, sawah dan ladang, serta tempat-tempat terbuka lainnya di Jawa, Bali, Sumatera, Kalimantan, dan Maluku. Kini harga cendet meroket menjadi sekitar Rp 50.000 - Rp 75.000. Bahkan kalau sudah jadi, dan siap dilombakan, harganya bisa mencapai Rp 250.000.

Petarung Sejati

Sebagaimana cucak hijau, cendet merupakan petarung (fighter) sejati. Ia tak pernah diam jika ada sesama cendet di dekatnya. Selain menikmati kecerewetannya, Anda juga bisa menikmati berbagai gerakannya yang energik dan atraktif. Misalnya gerakan salto, lompat ke sana-ke mari, dan sebagainya.

Sebagai petarung sejati, cendet memiliki fisik yang kuat. Ia tahan dijemur selama berjam-jam, dan tak kehilangan semangat untuk berkicau. Ketika berkicau, ekor panjangnya sering digerakkan naik-turun, seperti mengikuti irama ocehannya.

Cendet ini mempunyai beberapa ciri yang mudah dikenali. Ekornya berwarna cokelat, hitam dan putih. Bulu di bagian sayap, tengkuk, dan kepalanya berwarna hitam, dengan bintik-bintik putih pada bagian sayap. Sedangkan bulu di bagian punggungnya cokelat kemerahan. Warna ini sangat kontras dengan perut (tengah), dagu, dan kerongkongan yang berwarna putih.

Mudah Dimaster

Suara alami cendet sebenarnya hanya terdengar ''tet.. tet.. tet.. tet..''. Karena suara inilah, dia juga sering disebut pentet. Tapi burung ini mudah dimaster, sehingga khazanah suaranya bisa variatif dan terdengar merdu.

Master ideal untuk cendet adalah suara burung gereja, terutama yang sedang bertarung atau kawin. Burung gereja memiliki suara ''trecet.. trecet.. trecet..'' dengan speed rapat. Diharapkan pemasteran ini menghasilkan cendet dengan variasi suara trecetan, speed rapat, dan volume yang lebih keras daripada burung master itu sendiri.

Agar memiliki suara tembakan dengan volume maksimal, Anda bisa menggunakan ciblek dan prenjak putih sebagai master. Bisa juga menggunakan love bird, karena burung master ini mempunyai suara khas ''cik.. cik.. cik.. cik..''. Semua jenis burung ini bisa dijadikan master bagi cendet, sehingga makin lengkaplah variasi ocehannya.

Bahkan suara serangga pun kerap dimanfaatkan untuk menambah variasi ocehan cendet. Khususnya suara jangkerik, karena bisa menambah dan memperindah variasi suaranya. Bisa juga suara belalang (cek.. cek.. kecek.. kecek..).

Untuk menjamin keberhasilan pemasteran, usahakan program ini dilakukan sedini mungkin. Idealnya mulai umur 20 hari. Pada saat tersebut, bakalan belum dapat meniru ocehan induknya, sehingga lebih mudah diisi suara-suara lain. Jika dimaster sejak dini, tingkat keberhasilannya bisa mencapai 100 persen. Tapi jika sudah dewasa, tingkat keberhasilan hanya sekitar 50 persen saja. (Sriyati-32)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA