logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 14 Januari 2008 WACANA
Line

Surat Pembaca

Kesewenang-wenangan BTN

Saya nasabah BTN (Bank Tabungan Negara) yang ambil KPR di BSB Jatisari Permai Mijen Semarang sejak Juni 2004. Bulan Desember lalu saya berencana take over ke bank lain yang salah satu persyaratannya FC sertifikat. Karena memang sejak akad kredit sampai sekarang tidak pernah mendapatkan, maka saya mengajukan permohonan ke BTN.

Tetapi oleh BTN hanya memberi surat keterangan yang isinya sertifikat sedang jadi agunan di bank dan baru menyerahkan yang asli bila kreditnya telah lunas. Kejadian ini tidak hanya saya saja yang mengalami, tapi juga banyak nasabah lain di yang ingin take over. Surat keterangan tersebut ditolak oleh bank yang akan men-take over.

Mereka mengatakan harus ada FC sertifikat karena akan dicek lagi ke BPN (Badan Pertanahan Nasional). Saya SMS ke Bank BTN lagi, tetapi jawabannya sama dengan alasan untuk melindungi nasabah agar tidak terjadi penggandaan sertifikat oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Pertanyaan saya, bukankah sebagai nasabah berhak meminta hal tersebut dan bank berkewajiban memberikan.

Bukankah itu sebagai salah satu bentuk pelayanan bank terhadap nasabahnya. Ketika saya tanya, apakah bank menjamin tidak akan terjadi penggandaan sertifikat dengan memberlakukannya aturan seperti itu, beliau tidak bisa jawab dan jamin. Terjadinya penggandaan serifikat bukan hanya dari satu oknum saja, masih ada oknum lain yang terkait.

BTN bukan badan yang berhak mengeluarkan sertifikat sehingga jawaban itu hanya alasan saja untuk menutupi kedaaan sebenarnya . Menurut saya BTN hanya takut kehilangan nasabah agar tidak pindah ke bank lain. Cuma caranya yang sewenang-we-nang, bukan memberi pelayanan yang baik dan mau introspeksi diri (di bank lain bisa ).

Bolehkah kebijakan seperti itu dan di mana kebebasan nasabah memilih bank. Nasabah sampai pindah ke bank lain karena tawaran bunga lebih rendah juga agar dapat dana lebih banyak. Tidak mungkin melunasi utangnya terlebih dulu sekadar ingin dapatkan FC sertifikat. Mohon penjelasan jujur dan solusinya.

M Dimyatie MS AMd

Kp Kauman Barat 328A, Semarang

Usaha Tusuk Gigi

Masalah yang ada di masyarakat sampai saat ini adalah pengangguran. Untuk itu salah satunya dengan usaha membuka lapangan kerja misal bidang tusuk gigi. Bagi para pemilik modal baik berupa dana tunai mau pun pemilik tanaman bambu, kiranya bisa membuat kesepakatan kerja demi menjamin ketersediaan stok. Bagi yang tidak punya modal tetapi berniat untuk bekerja, bisa menjadi 'pasukan'' yang tugasnya memasarkan produk tusuk gigi baik dalam partai besar maupun eceran.

Ady Prasetyo (08156598840)

Perumda 5 RT 3/RW 3 Jati, Kudus.

***

Hilangnya Album

Foto Keluarga

Pepatah Belanda bilang, seekor sapi sering tidak menghargai nilai buntutnya sampai kehilangan buntut tersebut. Bagi diri saya, "buntut" itu adalah album foto keluarga. Ketika kakek-nenek dan orang tua meninggal maka album foto lama itu kehilangan nara sumber yang dapat mengungkap cerita dan momentum dari fotonya.

Kesalahan utama dari semua hal itu adalah keteledoran. Foto-foto yang ada, sering tidak disertai catatan baik tanggal, tempat mau pun peristiwa yang terekam. Hilangnya cerita dan momentum masa lalu juga dapat diakibatkan oleh teknologi, memudar warnanya atau meleleh karena lembab sehingga gambarnya hilang ketika dicoba dilepas dari plastik penutup album.

Kelembaban yang sama bisa terjadi pada klise atau film negatif sehingga gambarnya hilang sama sekali.

Merujuk pada kejadian fatal tersebut kiranya dapat diambil pelajaran. Pertama, walau merepotkan, setiap foto harus disertai catatan peristiwa baik tanggal dan pelakunya. Lebih baik bila setiap obyek foto menuliskan kesan tersendiri. Ini akan menjadi album cerita yang menarik beberapa puluh tahun ke depan.

Kedua, berkat kemajuan kamera digital, file foto dapat disimpan dalam bentuk digital pula misal di CD. Kopi dari CD tersebut bisa bagikan kepada yang bersangkutan. Semakin banyak yang memiliki album foto, semakin sedikit kehilangan catatan sejarah. Tapi saya heran kenapa sedikit yang mau berbagi album kenangan foto secara digital, padahal relatif murah dan meriah.

Bambang Haryanto (081329306300)

Jl Kajen Timur 72 Wonogiri 57612.

***

Pembabatan Pohon

Sebuah foto berita di harian ini beberapa waktu lalu cukup menggelitik saya untuk menanggapi yaitu tentang bagian banda jalan antara Sidareja-Karangpucung Kabupaten Cilacap yang mengalami longsor karena tanahnya Iabil. Akibatnya di beberapa titik badan jalan menyempit sehingga hanya dapat dilalui satu kendaraan roda empat saja.

Saya jadi teringat dengan surat pembaca yang saya tulis di harian ini 20 April 2004, yang intinya telah terjadi pemotongan pohon-pohon pelindung jalan secara sembarangan di sepanjang Sidareja-Karangpucung sekitar 20 km. Penebangan dilakukan pihak swasta dengan sepengetahun atau izin (oknum) petugas yang berwenang.

Motifnya diduga menyangkut kepentingan ekonomi dari kedua pihak tersebut. Jika penebangan pohon pelindung itu sebagai program peremajaan, jelas tidak benar. Peremajaan tanaman seharusnya didahului pengadaan tanaman pohon pengganti yang seimbang sampai umur dan ketinggian tertentu, baru dilakukan penebangan terhadap pohon tua.

Nah, akibat penebangan pohon pelindung secara sembarangan dua tahun lalu, kini terasa akibatnya. Tunggak dan akar dari bekas pohon tua kini melapuk dan membusuk sehingga struktur tanah di kiri-kanan jalan menjadi kendur, mudah longsor dan ambles di usim hujan. Sebaliknya di kemarau pemandangan sepenjang jalan tersebut gersang dan hawanya panas menyengat.

Kesimpulan, penebangan pohon pelindung yang tidak terencana apalagi hanya bermotif ekonomi, berakibat merusak kondisi lingkungan, di samping merugikan masyarakat dan pemerintah daerah.

Ratiman Sutardjo

Bulusari RT 1/RW 3 Gandrungmangu, Cilacap.

***

UPS Tegal, Bantulah

Saya menyayangkan terjadinya kemelut di Universitas Pancasakti Tegal (UPS). Sayang karena ironis, sebab di tengah upaya panjang dan makan banyak energi untuk bisa menegerikan diri, mereka justru terjebak dalam pertikaian internal. Pertikaian antarpengelola menunjukkan ketidaksolidan.

Saya tidak tahu apakah tingkat soliditas civitas academica (antara lain pengurus yayasan, dewan penyantun, rektor dan jajarannya, mahasiswa, alumni) juga merupakan persyaratan penegerian yang harus dipenuhi atau tidak. Tetapi kekacauan itu jelas tidak senapas, tidak menunjang, tidak kondusif dengan upaya peningkatan statusnya. Boleh jadi malah bisa mengganggu upaya tersebut.

Saya juga tidak tahu apakah yang diperebutkan dalam pertikaian tersebut lebih bernilai dan bermakna dibanding proyek besar berupa pencapaian status negeri yang sedang mereka upayakan. Tentu nilai dan makna tersebut harus diukur berdasarkan kepentingan UPS semata, bukan demi lainnya. Semua pihak harus arif, bijaksana dan cerdas dalam menuntaskan kasus tersebut.

Saya teringat semboyan bijak almamater Institut Teknologi Bandung (ITB) yaitu In Harmonia Progressio; konsisten mengupayakan kemajuan, peningkatan, perkembangan selalu dalam keharmonisan. Kemelut UPS musti harus segera diakhiri, karena merupakan aset penting.

Jika ternyata kekuatan internal belum mampu menyelesaikan, saya berharap bantuan pihak terkait antara lain: para pemangku kepentingan (stakeholder) yaitu civitas academica, Kopertis, Golkar, orang tua dan Pemkot. Kedua, para tokoh masyarakat dan pengusaha serta ketiga, perguruan tinggi lain misal Undip.

Beberapa daerah lain yang bukan ibukota provinsi sudah menikmati kebanggaan memiliki perguruan tinggi negeri. Tengoklah, Purwokerto punya Universitas Soedirman dan Malang dengan Universitas Brawijaya. Jika semua pihak terkait bersatu padu secara rukun, serius dan harmonis, maka UPS Tegal dapat segera menjadi universitas negeri.

Drs H Adji Nuswantoro BSc MM

Jl Kaliwiru II/27, Semarang

***

Untuk PB Djarum

Membaca iklan di harian ini mengenai kegembiraan PB Djarum Kudus atas prestasi yang diraih tim SEA Games di Thailand, saya salah satu pemerhati, pengamat, penggemar dan sekaligus pelaku olahraga bulutangkis mengucapkan selamat. PB Djarum Kudus antusias sekali atas tampilnya timnya sehingga menulis dalam iklan: "Selamat, Sapu bersih, Gemilang dan Terakhir Indonesia Tetap yang Terbaik".

Kalimat itu menurut saya masih ada tanda petiknya karena kalau diamati, event tersebut terbatas untuk negara Asia Tenggara sebanyak 10 negara serta hanya Indonesia dan Malaysia untuk tingkat dunia yang di perhitungkan. Kenyataan, peserta bulutangkis Indonesia yang paling dominan baik tunggal putra, ganda putra, ganda campuran dan ganda putri masuk 10 besar peringkat dunia.

Sedang dari Malaysia pesertanya lapis kedua. Karena itu saya ingin menyampaikan salut kepada PB Djarum Kudus yang begitu semangat baik moral maupun material dalam memajukan olahraga bulutangkis di Indonesia. Maju terus PB Djarum Kudus.

Hadi Sutikno

Sewaka RT 1/RW 7, Pemalang

***

Sweeping PLN

PLN beserta aparat sering melakukan sweeping LPJ (Lampu Penerangan Jalan) yang dianggap ilegal. Bagi masyarakat berpendidikan rendah, LPJ yang dipasang secara gotong-royong tersebut menganggap sebagai legal. Karena masyarakat setiap membayar rekening selalu terkena pajak penerangan jalan sebesar 10% dari total pembayaran.

PPJ memang pendapatan pemkab/pemkot, tapi mana realisasinya. Mereka tidak memasang lampu penerangan jalan sampai ke pelosok kampung. Yang saya sayangkan kenapa PLN kok cuma merazia di wilayah Desa Sukorejo.

Bahkan lampu yang terpasang di perempatan jalan RT 1/RW 5 Tlangu yang menuju ke mushala juga diputus. Padahal jika mengalami kerusakan yang memperbaiki justru dari DKP sendiri. Ilegalkah ini. Tolong PLN jangan cuma desa saya yang jadi sasaran, desa lain juga banyak.

Dharma Setyanto

Tlangu RT 1/RW 5 Sukorejo, Kendal

Pemdes Kendaldoyong

Setelah satu tahun terpilih pemimpin yang diinginkan masyarakat Desa Kendaldoyong Pemalang tapi sejumlah agenda dan PR masih setumpuk menanti untuk dikerjakan. Berangkat dari diskusi kecil yang sering saya lakukan dalam mengkritisi kemajuan desa, nampaknya belum memberi perubahan berarti baik pemberdayaan masyarakat maupun pembangunan secara fisik.

Banyaknya kucuran dana baik dari pemkab maupun dari pusat, terlihat kurang tersosialisasi kepada sehingga masyarakat tidak/belum memahami alokasi bantuan tersebut. Contoh konkret Alokasi Dana Desa (ADD) yang mendapatkan dana sekitar Rp 100 juta, apa yang sudah dikerjakan, banyak yang tidak tahu.

Saya sama sekali tidak mencurigai adanya praktik tidak terpuji tapi hanya ingin adanya transparansi penggunaan dana tersebut. Peran Badan Permusyawaratan Desa (BPD) yang saya harapkan bisa menjadi pilar ketiga dalam menyukseskan jalannya Pemdes Kendaldoyong ternyata hanya setuju dan yes.

PR yang cukup berat adalah pelaksanaan kucuran dana PNPM sebesar Rp 500 juta dengan tiga sasaran untuk dana fisik, sosial serta simpan-pinjam. Yang perlu dicermati adalah dana simpan-pinjam karena rawan konflik baik vertikal maupun horizontal. Semoga di tahun 2008 merupakan kebangkitan bersama warga Kendaldoyong untuk bisa mewarnai kemajuan desanya serta sikap profesional, tegas, jujur dan adil di jajaran pemdes.

Atik Meidiharto

Kendaldoyong RT 3/RW 2, Pemalang

***

Mohon Pekerjaan

Saya berulangkali mencoba mencari pekerjaan namun tidak ada yang mau menerima. Mungkin lantaran saya tamatan MAN dan tidak memiliki keahlian khusus kecuali kejujuran, ketekunan dan rasa tanggung jawab pada pekerjaan. Saya mengharap bantuan pembaca untuk memberikan pekerjaan.

Budiono (081802405581)

Gg Untung Suropati 7, Kendal

***

Bengawan Solo

Gesang sebagai pencipta Bengawan Solo rupanya tak mengharapkan penafsiran yang salah pada syair lagunya. Air mengalir sampai jauh...akhirnya ke...(pemukiman dulu sebelum ke laut). Bengawan Solo sebagai sungai telah banyak menghasilkan kesejahteraan. Salah satunya untuk irigasi sawah yang dinikmati petani.

Pasirnya ditambang penduduk sekitar dan pemilik modal. Belum lagi temuan perahu purbakala sebagai yang tentu sangat tinggi nilai historisnya. Juga tak boleh dilupakan "saudara tua" bangsa Jepang yang kangen lagu Bengawan Solo sehingga menyempatkan singgah ke tempat tinggal Gesang yang sederhana.

Namun sayang, akibat penyalahgunaan sungai sebagai pembuang akhir limbah industri maka pencari ikan tak dapat menghidupi keluarganya. Ditambah dengan limbah keluarga sebagai penyumbang besar sehingga Bengawan Solo kini tak seindah lagunya yaitu Bengawan Solo riwayatmu kini....

Agus Eko Santoso SE

Pondok R Patah Blok K1/21, Demak.

***

Software Hanacaraca

Zaman keemasan bahasa Jawa memang sudah lama berlalu. Dipungkiri atau tidak ini realita yang tengah terjadi di bumi Jawa. Realitanya memang demikian, banyak orang Jawa yang tidak mengenal bahasanya secara mendalam dan menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Bapak Mardiyanto (sekarang Mendagri) perlu diacungi jempol dengan upayanya menguri-uri bahasa ibu tersebut.

Caranya dengan memasukkan bahasa daerah tersebut kembali menjadi muatan lokal pendidikan dari SD, SMP hingga SMA. Ini merupakan langkah maju yang melegakan insan pemerhati dan pengembang bahasa Jawa dan ternyata mendapat respon baik oleh sivitas akademika dengan menambah Prodi Basa Jawa untuk memenuhi kebutuhan para guru bahasa Jawa.

Zaman memang sudah berganti dan tentunya perlu ada sistem pendidikan yang berbeda pula. Kalau sekarang ini semua system pedidikan telah memasuki era komputerisasi baik dalam segi pembelajaran, karya tulis, pelatihan serta tes untuk hampir semua mata pelajaran, tetapi kenapa pembelajaran bahasa Jawa terasa stagnan, berjalan di tempat.

Seharusnya respon dari Bapak Mardiyanto juga ditanggapi secara cepat pula. Menurut saya ada ide menarik yang bisa diterapkan yaitu pembuatan software Hanacaraka. Bisa dibayangkan ada berapa juta manusia terdidik yang akan menggunakan software ini jika direspon masyarakat. Seandainya pihak Microsoft mengetahui hal ini berapa banyak keuntungan yang akan diraih.

Berapa keuntungan para arkeolog baik dari Indonesia dan luar negeri yang akan dengan mudahnya menterjemahkan hanaacaraka ke bahasa mereka.

Tak ternilai tentunya. Kita mengerti banyak peninggalan budaya Jawa yang belum terpublikasikan secara luas karena masih dalam bentuk manuskrip huruf Jawa.

Adalah ide brilian untuk kemajuan bahasa ini agar tidak punah, terlebih lagi bagi siswa akan kembali menyenangi bahasa ibu karena ilmu bahasa ini tidak kuno lagi.

Banyak orang berpikir dan bercita-cita menumbuhkankembangkan bahasa ibu ini seperti bahasa Jepang dengan huruf Kanji-nya atau bahasa Arab dengan huruf Hijaiyah-nya serta Thailand dengan Tagalog-nya karena telah dimasukkan dalam sofware komputer.

Bahasa mereka telah mendunia dan hebatnya lagi masih banyak yang eksis karena menggunakan bahasa daerah mereka. Menurut saya, bukan alasan yang mesti membuat pesimistis karena bahasa Jawa bukan bahasa nasional. Tetapi mestinya pengalaman bangsa lain dalam mengembangkan bahasa mereka ke dalam era komputerisasi tersebut bisa menjadi ide.

Para programer dan pemerhati bisa bayangkan kalau keybord komputer saja ada huruf Hanacaraka-nya, tentu manusia intelektual Jawa bisa membaca dan mengerti hanacaraka bukan suatu angan-angan. Kalau ada yang memanfaatkan ide ini, saya berterima kasih.

Anton Yudha Asmara.

Jl Badak X/5, Semarang


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA