logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 14 Januari 2008 NASIONAL
Line

Meneladani Resi Kuru Bisma

SEPEKAN lebih mantan presiden RI Soeharto dirawat di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) Jakarta Pusat. Sejumlah mantan pejabat tinggi negara di era Orde Baru maupun petinggi sekarang, dari Wapres Jusuf Kalla sampai Bupati Karanganyar Rina Iriani membesuknya.

Namun di antara hiruk pikuk pembesuk yang datang, hanya mantan Wakil Ketua DPR Zaenal Ma'arif yang secara berani mengirimkan surat kepada keluarga Pak Harto. Isinya, saran agar Pak Harto meneladani tokoh pewayangan Resi Kuru Bisma dalam filosofi Jawa yang juga sering dijadikan pedoman.

Pertimbangan Zaenal mengingat kondisi dan usia Pak Harto menjelang 87 tahun. Kondisi kesehatan mengalami penurunan drastis hampir selama sepekan terakhir. Upaya medis yang dilakukan tim dokter nampaknya hanya untuk menghambat penurunan kondisi kesehatan, bukan memulihkan.

Dari catatan, dalam 10 tahun terakhir Pak Harto bolak-balik masuk rumah sakit. Setelah lengser dari Presiden, pertama kali masuk rumah sakit pada 20 Juli 1999 karena stroke ringan. Pada 14 Agustus tahun yang sama, terkena pendarahan usus, sehingga harus kembali diperiksa ke RSPP. Pada 10 Agustus 2000, ia kembali menjalani pemeriksaan paru-paru.

Pak Harto kali pertama sakit serius pada 13 Juni 2001 karena jantungnya bermasalah, sehingga harus menjalani operasi di RS Jantung Harapan Kita untuk dipasangi alat pacu jantung permanen di tubuhnya.

Meski operasi berlangsung lancar dan dua hari kemudian sudah boleh keluar, sejak saat itu ia mulai kerap terlihat menggunakan kursi roda. Pada 17 Desember Pak Harto kembali masuk RSPP karena menderita radang paru, sesak napas dan panas.

26 April 2004, Pak Harto yang waktu itu berusia 83 tahun, mengalami gangguan pencernaan dan kelelahan setelah sehari sebelumnya berjalan kaki menaiki tanjakan sekitar 250 meter saat melakukan ziarah ke makam Ibu Tien Soeharto.

Setelah pendarahan pada ususnya mongering, pada 5 Mei tim dokter mengizinkannya meninggalkan RSPP. Namun pada 4 November, bertepatan dengan hari kedua Lebaran 2005, saluran pencernaannya kembali mengalami pendarahan, sehingga harus dirawat dua hari di rumah sakit. Pada 4 Mei 2006, Pak Harto kembali masuk RSPP. Hampir 10 hari Pak Harto dirawat. Kondisi terakhir Tim dokter menyatakan 50-50 persen kesempatan sembuh maupun tidaknya.

Zaenal menitipkan secarik surat yang berisi petuah kepada Soeharto dan keluarga besar. Tidak jauh dari kehidupan dan filosofi Jawa yang dipahami dan ditulis Pak Harto sendiri, Zaenal mengingatkan agar meneladani tokoh pewayangan Kuru Bisma menjelang akhir hayatnya.

Zaenal yang juga warga Solo, meyakini Pak Harto memiliki "pegangan" duniawi yang harus dilepas. Termasuk keinginan Pak Harto yang ingin meninggal di kediaman Jl Cendana, jika saatnya.

Berikut petikan surat Zaenal:

"...Berkenaan dengan sakitnya Jenderal HM Soeharto hampir pasti sebagian rakyat Indonesia akan selalu mendoakan kesembuhan beliau. Menurut Islam, usia beliau yang sudah 87 tahun, segala kesalahannya akan diampuni Allah SWT.

Dan beliau dalam beberapa tahun terakhir ini hampir pasti sudah tidak lagi memikirkan berbagai urusan yang menyangkut keduniaan. Maka, andaikan beliau mendapat karunia dari Allah berupa kesembuhan dan dapat kembali ke Cendana dengan sehat.

Berdasarkan falasafah Jawa yang ditulis Soeharto, serta juga contoh yang diberikan oleh cerita pewayangan Begawan Resi Kuru Bisma menjelang wafatnya. Begawan meminta agar seluruh hal yang melekat pada dirinya termasuk pakaian kebesaran dan anak panah untuk ditanggalkan.

Dan akhirnya si Begawan menghadap Tuhan dengan tenang, kami yakini pula beliau (Soeharto) pada dasarnya tidak menginginkan berbagai keduniaan yang melekat seperti dicontohkan Begawan Resi Bisma...."(A Adib-60)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA