logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 14 Januari 2008 NASIONAL
Line

Membaik, Soeharto Tetap Kritis

  • Otak dan Pencernaan Masih Berfungsi

BESUK SOEHARTO: Mantan perdana menteri Singapura Lee Kuan Yew melambaikan tangan kepada wartawan seusai menjenguk mantan presiden Soeharto, di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP), Jakarta, Minggu (13/1). Selama sekitar 15 menit Lee membesuk sahabat dekatnya yang masih terbaring dalam keadaan tidak sadar tersebut.(30)

JAKARTA - Kondisi mantan Presiden Soeharto, hingga semalam dilaporkan semakin membaik. Meski demikian, kondisinya tetap kritis, dengan sejumlah alat bantu kesehatan menempel pada tubuhnya.

Salah satu anggota tim dokter kepresidenan Waldimar Simanjutak, ahli penyakit dalam mengatakan, semuanya membaik. ''Tensinya bagus, sekitar 120-an. Hb-nya juga bagus, 11,1,'' kata dia di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP), semalam. Dia berharap, kondisi membaik tersebut akan bertahan. Hal senada disampaikan anggota tim dokter yang lain, Christian A Johanes. Menurut dia, meski masih kritis, banyak perbaikan-perbaikan.

''Mudah-mudahan kondisi ini bisa bertahan sampai besok pagi (hari ini-Red). Perbaikan itu seperti Hb naik, tensi naik, cairan sudah banyak yang dikeluarkan, paru-paru yang tadinya membengkak sudah sangat berkurang,'' papar dia.

Dia mengatakan, meski ditidurkan, sudah ada respons saat Soeharto dibangunkan pada pergantian obat. ''Jantung juga ada perbaikan. Ventilator masih dipasang, namun sudah bernapas spontan,'' tandasnya.

Anggota tim dokter yang lain, Djoko Rahardjo juga menyebutkan, pada pukul 18.30, dengan tekanan darah Soeharto 120/60. ''Ya mudah-mudahan semakin membaik,'' kata dia.

Sebelumnya, kondisi Soeharto dinyatakan memburuk, bahkan lebih buruk dari hari sebelumnya (Sabtu, 12/1). Djoko mengatakan, tim dokter memperkirakan kesembuhan Soeharto 50:50. ''Bisa sembuh, dan bisa juga meninggal dunia,'' ujarnya.

Tim dokter menyatakan, pencopotan alat bantu kesehatan yang dipasang di tubuh Soeharto belum dapat ditentukan. Alat bantu tersebut dipasang di tiga organ tubuh Soeharto yang sudah tidak berfungsi yakni ginjal, jantung, dan alat pernapasan. ''Kami belum dapat menentukan kapan alat bantu kesehatan tersebut dicabut,'' ujar Djoko.

Sementara menurut Ketua Tim Dokter Kepresidenan Mardjo Soebiandono, pihaknya akan mencabut alat bantu kesehatan jika benar-benar tidak berfungsi. ''Kalau sudah tidak berfungsi buat apa dipasang,'' tandasnya.

Menurutnya, organ tubuh Soeharto yang masih berfungsi adalah otak dan pencernaan. Suhu tubuhnya 30-38 derajat celcius. ''Kita hanya dapat berdoa semoga Tuhan mengabulkan agar Soeharto sembuh,'' kata Mardjo.

Lee Jenguk Soeharto

Sementara itu, mantan PM Singapura Lee Kuan Yeuw menjenguk mantan Soeharto di RSPP, kemarin. Lee tiba pukul 11.37, ditemani Duta Besar Singapura untuk Indonesia dengan menggunakan sedan Mercedes Benz nomor polisi CD 67 01.

Usai menjenguk Soeharto, Moerdiono yang turut menemani Lee mengatakan, mantan PM itu merupakan sahabat lama Soeharto. ''Beliau (Lee) mengatakan kepada saya, bahwa dia teringat persahabatan dengan Pak Harto sudah 30 tahun,'' katanya.

Moerdino menambahkan, Lee mengatakan Soeharto memiliki peranan yang sangat besar dalam membawa perubahan dan menuju kemajuan Indonesia, Singapura, dan wilayah regional.

Saat ditemui Lee, lanjut Moerdiono, Soeharto dalam keadaan tidak sadar dan masih menggunakan alat bantu kesehatan. Selain dengan dirinya, Lee masuk ke ruangan perawatan ditemani Duta Besar Singapura untuk Indonesia beserta tiga putri Soeharto, Mbak Tutut, Titiek, dan Mamik.

''Pak Harto tidak dapat berkomunikasi dengan Lee. Kunjungan ini adalah kunjungan dari seorang sahabat dan dia mengaku prihatin melihat kondisi Pak Harto,'' ujarnya.

Ditanya, apakah Lee menawarkan bantuan dokter dari Singapura, Moerdiono mengaku tidak mendengar pembicaraan tersebut. Dia juga mengaku, tidak ada pembicaraan apakah Lee akan kembali menjenguk Soeharto. Lee berkunjung hanya sekitar 15 menit dan langsung terbang ke Singapuura.

Ketua Umum Partai Demokrat Hadi Utomo kemarin juga turut menjenguk di RSPP. Usai menjenguk sekitar pukul 17.00, dia mengatakan, kedatangannya tidak membawa pesan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). ''Saya datang sebagai ketua partai,'' ujarnya.

Bupati Karanganyar Rina Iriani yang juga menjenguk mengatakan, kedatangannya untuk mendoakan Soeharto. Rina tiba sekitar pukul 15.30 dan keluar dari RSPP pukul 16.50.

Soal kursi, tenda, dan sound system yang dipesan, kata dia, untuk sementara disimpan di halaman belakang kompleks bangunan Astana Giri Bangun. Dia bekum tahu kapan peralatan itu akan digunakan. Tentang kondisi Soeharto, dia mengatakan harus berpikir rasional apa pun yang terjadi.

Beberapa tokoh lainnya tampak menjenguk, antara lain Kapolri Jenderal Sutanto dan Kepala BIN Samsir Siregar.

Doa Bersama

Sementara itu, jama'ah Masjid Nurul Iman Kalitan semalam menggelar doa bersama. Doa bersama itu tidak seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, tetapi spontanitas oleh para jamaah usai salat magrib.

Menurut pengurus Takmir Masjid Nurul Iman, KH M Wuasam, jamaah setempat khususnya diajak berdoa untuk kesembuhan Pak Harto. "Selama kondisi Pak Harto masih seperti ini, jamaah di sini akan berdoa setelah salat magrib. Kalau memang sudah waktunya, biarlah beliau berpulang dengan khusnul khatimah. Namun sebaliknya, kalau Allah belum menghendaki, kami berdoa agar segera disembuhkan," katanya usai melakukan doa.

Secara umum, situasi di Ndalem Kalitan sepanjang Minggu siang hingga pukul 22.00 relatif tenang. Meski demikan, sejumlah anggota Poltabes Surakarta, terutama polwan terus berjaga. Ndalem Kalitan juga masih dinyatakan tertutup bagi umum.

Di kompleks bangunan berarsitektur khas Mangkunegaran itu, sampai semalam pun juga tidak tampak ada kegiatan persiapan menonjol. Yang terjadi hanyalah aktivitas para wartawan dan aparat keamanan yang bertugas di situ, bersama-sama memantau kondisi Pak Harto dari sebuah pesawat teve di pos penjagaan dekat pintu masuk Kalitan.

Hasil pantauan, di Bandara Adi Sumarmo hingga pukul 22.00 semalam, juga tidak tampak kegiatan menonjol. Berbagai persiapan yang dimungkinkan untuk mengantisipasi kemungkinan yang berkait dengan kondisi kritis Soeharto, tidak kelihatan. (J13,won,H46,H44,dtc-49,62)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA