| Senin, 14 Januari 2008 | SEMARANG |
Liburan Sekolah, Lori Diserbu PengunjungAMBARAWA - Belum dibenahinya jalur rel kereta uap bergerigi di Desa Kelurahan, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang, yang terkena dampak longsor, 4 Januari lalu, menyebabkan pendapatan sewa kereta wisata ini terancam turun. Sebab, pengunjung dikhawatirkan tidak puas jika hanya menikmati jalur Ambarawa-Desa Kelurahan sekitar 7,5 kilometer. Mestinya penumpang menuntaskan perjalanan Ambarawa hingga Bedono sejauh 10 kilometer. Sementara pihak kereta api menarik tiket yang sama, meski perjalanan kereta kuno berkapasitas 80 orang ini tidak menempuh perjalanan hingga tuntas. ''Sewa kereta uap berbahan bakar kayu ini Rp 3,25 juta pulang pergi Ambarawa-Bedono. Tapi, karena ada ruas rel gerigi yang terganggu longsor, terpaksa jalur hanya sampai Desa Kelurahan atau belakang RM Boga Makmur,'' kata Kepala Stasiun Ambarawa Suhardjono, Minggu (13/1). Jika gangguan longsor di jalur rel tidak segera dibenahi, pendapatan 2008 akan turun. Menurut dia, petugas Daops IV Semarang saat ini masih berkonsentrasi membenahi rel Cepu-Bojonegoro yang terganggu banjir beberapa waktu lalu. Suhardjono menjelaskan, pada 1-13 Januari 2008 ada tiga reservasi naik kereta uap satu-satunya di Indonesia ini. Pada 4 Januari rombongan dari Jakarta harus puas sampai di titik sebelum longsor, karena jika perjalanan dilanjutkan sangat berbahaya. Ada juga rombongan yang belum mendapat kepastian jadwal berangkat, karena rel di lokasi longsor belum dibetulkan. Dijejali pengunjung Ia menjelaskan, sepanjang 2007 jumlah penyewa kereta uap ada 178 kelompok dan terbanyak Oktober sebanyak 24 kali. Sedangkan kereta lori bermesin Corolla 1973 dan berbahan bakar bensin, 444 kali sewa. ''Jumlah pengunjung Museum Kereta Api Ambarawa tahun 2007 sebanyak 29.314 orang,'' terang Suhardjono. Dari target Rp 658,9 juta tahun lalu dapat direalisasi Rp 929,3 juta. Dibandingkan dengan 2006, jumlah pengunjung 27.636 orang. Dari sisi pendapatan, pada 2006 terwujud Rp 986,8 juta dari target Rp 949,1 juta. ''Pendapatan 2006 memang lebih banyak daripada 2007. Sebab, pada 2007 terpengaruh bencana alam,'' tegas dia. Pendapatan terbanyak biasanya saat liburan sekolah seperti saat ini. Seperti kereta lori jurusan Ambarawa-Tuntang, Minggu kemarin diserbu pengunjung. Bahkan, untuk satu angkutan kemarin, kereta yang mestinya berisi 50 tempat duduk, dijejali 60-an orang. ''Sekali angkut biayanya Rp 150.000, ditanggung para penumpang secara rombongan. Meski penumpang sedikit, bayarnya juga segitu,'' ungkap Suhardjono. Dibandingkan dengan hari biasa, pada liburan sekolah kali ini jumlah pengunjung meningkat tajam hingga lima kali lipat. (H14-37) |