| Senin, 14 Januari 2008 | SEMARANG |
Warga Lakukan Fogging SwadayaBANYUMANIK-Dinas Kesehatan Kota (DKK) dinilai tidak sigap melakukan langkah antisipasi terhadap wabah Demam Berdarah Dengue (DBD). Penilaian itu muncul, menyusul lambatnya respons DKK atas permintaan masyarakat, untuk melakukan fogging di daerah yang memiliki penderita DBD. Setidaknya, begitulah penilaian warga RW 02 Kelurahan Sumurboto Kecamatan Banyumanik. Warga merasa kecewa atas tidak responsifnya DKK terhadap laporan mereka. Untuk mencegah meluasnya wabah DBD di tempat tinggal mereka, kemarin, warga melakukan fogging swadaya. Sekitar sepekan lalu, DBD merenggut nyawa seorang warga, yakni Muh Jodi Anugrah Perdana (9), putra Joko Setyono-warga Tanjungsari RT 02 RW 02 Sumurboto. Hingga saat ini, jumlah penderita DBD di wilayah itu tercatat enam orang, termasuk adik Jodi, Lidya Nurul Fatimah Zahra (empat tahun lima bulan). Mereka dirawat di sejumlah rumah sakit di Kota Semarang. Ketua RT 02 RW 02 Wargito menjelaskan, sebelumnya dia telah melaporkan persoalan itu kepada pihak kelurahan agar ditindaklanjuti ke DKK. Namun, hingga kemarin tidak ada tindakan apa pun dari DKK. Warga khawatir, jika tidak dilakukan penanganan secepatnya, wabah DBD akan kian meluas. ''Daripada menunggu terlalu lama, dan kemudian membawa dampak yang tidak diinginkan, warga melakukan fogging swadaya,'' ujar Wargito. Jumiyati, warga Sumurboto lainnya mengatakan, juga mengaku kecewa pada kinerja DKK dalam penanganan DBD. Terlebih, anaknya yang bernama Istiana Keisha Dewi Murwati (3) juga menjadi korban penyakit tersebut. Walaupun sudah pulang dari RS Elisabeth, hingga kemarin, kondisi kesehatan Keisha belum pulih benar. (H9,H22-41) |