logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 14 Januari 2008 KEDU & DIY
Line

Mengajari Anak untuk Menjaga Lingkungan

  • Oleh Agung PW

BENCANA banjir dan tanah longsor bukan semata-mata gejala alam namun dapat pula akibat ulah manusia. Lihat saja pembabatan hutan secara serampangan, pembuatan rumah-rumah di bantaran sungai, pembuangan sampah di mana saja terutama sungai dan saluran air.

''Akibatnya, bencana tak dapat dihindari dan semua baru terbuka ketika musibah sudah terjadi, sesal kemudian tak berguna,'' tandas Martanti EL selaku Koordinator Program Ketahanan Keluarga SOS Desa Taruna Indonesia-DIY ketika memberikan sosialisasi dan bantuan program trauma healing untuk anak-anak korban bencana di Jateng dan DIY.

Program tersebut merupakan kerja bareng dengan Tagana DIY dan London School. Selama beberapa hari anak-anak khususnya di DIY dan sekitarnya yang menjadi korban bencana longsor ataupun banjir melakukan berbagai kegiatan.

Salah satunya permainan edukatif yang ceria, menyemangati, penuh kehangatan, kekompakan, menumbuhkan keberanian, dan saling menolong antara anak-anak korban banjir dan tanah longsor.

Mereka juga memperoleh pengetahuan mengenai pentingnya menjaga lingkungan, tidak membuang sampah di sembarang tempat. Sebungkus permen saja misalnya jika dibuang oleh 1.000 anak setiap hari selama 10 tahun maka akan sanggup menjebol dam penahan air hujan. Penuhnya sampah akan memampetkan saluran pengairannya. Bungkus permen hendaknya dibuang di kantong saku dan kalau sudah menemukan bak sampah barulah dibuang di situ.

''Contoh kecil seperti ini jika terus dimulai dan dikembangkan mulai dari usia kanak-kanak, akan muncul kesadaran secara menyeluruh akan pentingnya menjaga lingkungan dapat menyelamatkan jiwa manusia di kemudian hari,'' tandas dia.

Penuh Canda

Proses trauma healing dan sosialisasi berjalan penuh canda, tidak tegang karena diselingi permainan, cerita-cerita humor, dan kegiatan menarik lainnya. Orang tua yang mengantar anak-anak juga ikut menyimak karena pemahaman tentang lingkungan dan bencana harus diketahui semua pihak.

Martanti menilai, program tersebut berhasil membantu anak-anak mengatasi ketakutannya terhadap suara-suara gemuruh, reruntuhan tanah ataupun air bah dan hujan deras. Harapannya kerja sama ini dapat ditindaklanjuti di tingkat nasional oleh Departemen Sosial ataupun instansi yang menangani secara langsung penanganan pemulihan pascabencana khususnya untuk anak-anak. Pada kesempatan itu digelar pula pengobatan medis dan pemberian energi reiki serta logistik susu, bubur bayi, beras, mi instan, air minum, biskuit, baju, peralatan sekolah.

Sebagian besar diarahkan ke Gunungkidul, Lapangan Manahan, dan Pasar Kliwon Solo; Desa Sambungmacan dan Plupuh di Sragen; lereng Tawangmangu di Karanganyar; Mojolaban, Sukoharjo hingga Ngawi.

''Kerja sama ini dilakukan sepenuhnya atas kesadaran kesetiakawanan sosial di antara sesama rakyat Indonesia yang tengah ditimpa bencana. Kami bahu-membahu menolong tanggap darurat atau emergency response dalam penanganan evakuasi dan pengedropan logistik kepada korban longsor dan banjir Bengawan Solo,'' tandas dia. (70)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA