| Senin, 14 Januari 2008 | EKONOMI |
Pelabuhan Perlu DirevitalisasiSOLO-Dalam era globalisasi, harus ada pelabuhan berkelas internasional atau pelabuhan utama dibeberapa titik, yang diproyeksikan menjadi pintu penting bagi kontak perdagangan dengan beberapa negara. Namun demikian, bukan berarti di setiap daerah harus ada pelabuhannya, apalagi bila jarak antarpelabuhan terlalu dekat dan volume perdagangannya masih relatif kecil. "Sebab, pada dasarnya keberadaan pelabuhan itu untuk mengefisiensikan perdagangan sehingga harga barang tidak semahal bila pemindahan menggunakan moda transportasi lain," kata General Manager Pelabuhan Tanjung Intan (Pelindo III) Cilacap Jateng, Didiek Harijanto di Solo, baru-baru ini. Melihat kondisi yang ada, menurut dia, perlu dilakukan seleksi dan revitalisasi dipelbagai pelabuhan di Tanah Air. Dengan begitu akan diperoleh peta pelabuhan yang memiliki daya saing serta efisiensi tinggi. "Pada gilirannya akan didapat manfaat optimal dari transportasi laut, perdagangan, ekspor-impor dan jasa kepelabuhan lainnya." Mantan Manager Pelayanan Terminal Cabang Tanjung Perak Surabaya ini mengungkapkan setiap pelabuhan di bawah BUMN sebenarnya memiliki kekuatan dan kapasitas yang demikian beragam. Selain itu, potensi barang yang juga bermacam-macam. Pelabuhan-pelabuhan itu tersebar di sejumlah pulau yang membentuk jaringan transportasi dan perdagangan. Namun jaringan itu belum maksimal. Karena itu, guna mendapatkan jaringan yang kuat, paling tidak diperlukan langkah sebagai berikut di lingkungan Pelindo III, yakni melakukan seleksi terhadap sejumlah pelabuhan, sehingga Pelindo III hanya akan mengelola pelabuhan yang memang mempunyai potensi tinggi. Kemudian, pembatasan jumlah pelabuhan untuk perdagangan langsung ke luar negeri. Dalam kaitan ini, pembatasan dikaitkan dengan potensi dan keragaman barang di pelabuhan. Misalnya, untuk Pelindo III, pelabuhan yang masuk kategori ini adalah Tanjung Perak untuk peti kemas dan curah, serta Tanjung Emas, Kota Baru dan Tanjung Intan. Sedangkan Benoa khusus pariwisata. Sementara itu, pelabuhan yang tidak berakses bagi pintu perdagangan internasional diarahkan sebagai pendukung pelabuhan terbuka agar terdapat kosentrasi volume yang cukup tinggi untuk diangkut ke luar negeri. "Selain itu diperlukan pemberdayaan SDM serta penerapan prinsip good corporate governance (GCG)," katanya. (san-59) |