| Senin, 14 Januari 2008 | BUDAYA |
Menembus Batas Dimensi WayangANEH, dalang pertunjukan wayang itu ada tiga. Oh tidak, lima malah karena di belakang layar masih ada dua dalang lagi. Dan lihatlah, bayangan wayang tak hanya muncul di belakang tapi juga terlihat dari depan layar. Meski rohnya tetap wayang purwa, wayang layar panjang berbeda. Paling tidak, mungkin akibat dari perangkatnya, terutama efek penempatan blencong dari dua arah yang saling berhadapan. Dari sana, dimensi wayang menjadi lebih luas, menembus batas dimensi konvensi wayang selama ini. Itulah yang terjadi ketika mahasiswa Jurusan Pedalangan ISI Surakarta melakukan penjelajahan estetika wayang. Di pendapa kampus tersebut, beberapa malam lalu, para dalang-dalang muda tersebut membabar sebuah lakon berjudul "Sepenggal Kisah Utari" "Ini murni karya mereka. Saya hanya mengarahkan saja. Lalu sedikit memberikan sentuhan pada iringannya," ujar B Subono, dosen jurusan tersebut. Sepintas, wayang layar panjang akan mengingatkan kita pada wayang sandosa, terutama ketika mendengarkan catur-nya yang lebih terasa dekat dengan dunia teater. Namun ternyata tidak sebab ada beberapa unsur yang kemudian lebih terasa "kaya warna" pada layar panjang. "Kalau wayang sandosa kan hanya memanfaatkan bayangan saja, layar panjang tidak. Sebab, selain bayangan, bagian layar depan juga tetap dimanfaatkan," tandas dia. Komunikatif Menurut dia, dengan format yang seperti itu, wayang diharapkan bisa lebih komunikatif, khususnya bagi mereka yang tak memiliki latar belakang budaya Jawa. Sebab, dengan memperluas dimensi wayang, sekat-sekat Jawa yang selama ini membatasi "orang luar" bisa dihilangkan. Lalu bagaimana dengan wayang purwa? Apakah masih kurang komunikatif? "Tolong ini jangan dimaknai sebagai upaya untuk mengabaikan pakem sebab kami tak mengatakan ini sebagai wayang purwa, tapi bentuk lain yang diilhami dari wayang purwa," tandas Subono. Ketika menyaksikan dari awal hingga akhir, sajian wayang berdurasi 1 jam itu memang terasa lebih komunikatif. Dari catur misalnya, tak hanya Jawa, nusantara juga mengerti karena menggunakan bahasa Indonesia. Juga dengan durasi yang lebih padat sehingga tak perlu menyita banyak waktu . (Wisnu Kisawa-45) |