logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 12 Januari 2008 SALA
Line

Subo Suko Wonosraten

PMI Datangkan Watsan

SOLO- Kebutuhan air bersih masih menjadi permasalahan di berbagai wilayah pascabencana banjir di Solo dan sekitarnya. Masyarakat yang masih kesulitan untuk mendapatkan air bersih, antara lain adalah di Kecamatan Jebres.

Instalasi pengolahan air bersih PDAM di wilayah itu rusak dan hingga kini belum bisa digunakan, sementara sumber air (sumur) yang ada belum bisa dimanfaatkan. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, PMI Kota Solo mendatangkan tim water sanitasion (watsan) dengan peralatannya untuk memproduksi dan mendistribusikan air bersih di wilayah yang terkena banjir.

Peralatan yang didatangkan dari Aceh itu semula untuk penyediaan kebutuhan air bersih korban gempa tsunami. Peralatan itu sumbangan dari PMI Spanyol. Menurut Ketua PMI dokter H Titis Wahyuono, tim watsan mampu memproduksi dan mendistribusi air bersih 16.000 liter per hari. (G8-50)

122 Hektare Sawah Puso

KARANGANYAR- Akibat banjir yang menimpa wilayah Karanganyar, bersamaan dengan tanah longsor pekan lalu, seluas 122 hektare lahan sawah dinyatakan puso. Seluruh bibit yang mulai tumbuh subur, habis terendam dan hanyut terkena banjir.

''Kalau total lahan yang terkena banjir seluruhnya 295 hektare. Namun yang benar-benar tidak bisa diselamatkan 122 hektare. Selain terendam air, juga karena ada sebagian kecil yang tertimbun tanah longsor,'' kata Kepala Dinas Pertanian Karanganyar, Ruhanto, kemarin.

Dia mengatakan, sisanya masih bisa dipertahankan dan dipelihara agar tidak sampai mati. Lahan lainnya berupa tanaman kacang, ketela, jagung, dan palawija lainnya, yang juga ikut rusak. Namun jumlahnya tidak seberapa luas dibandingkan lahan padi.(an-42)

Talut Rontok 30 Meter

KLATEN - Talut Kali Dengkeng di hulu Bengawan Solo, tepatnya di Dusun Jetakan, Desa Bawak, Kecamatan Cawas, Klaten rontok akibat tergerus air sungai dalam sepekan terakhir. Talut itu ambrol sepanjang 30 meter dengan tinggi 15 meter. Penduduk Desa Bawak dan Cawas pun khawatir bakal terjadi banjir yang akan merendam kota Kecamatan Cawas. ''Kalau banjir, aktivitas kota kecamatan bisa lumpuh. Sebab, air Kali Dengkeng saat ini sangat deras,'' ujar Ketua RT 1 Dusun Jetakan, Sri Widodo, Jumat (11/1).

Tembok talut mulai ambrol saat hujan deras turun pada 30 Desember lalu. Semakin lama, tembok semakin tergerus karena dihangam arus banjir besar dari beberapa anak sungai yang menyatu di Bengawan Solo. Sebagian tembok terbelah, lalu lepas dari tanah. Sebagian lainnya rontok dan hanyut. Untung, ada tanaman keras di tepir sungai, sehingga rumah warga di sekitar terselamatkan.(H34-58)

Jatah Minyak Dikurangi

BOYOLALI - Sejumlah ibu rumah tangga di Kabupaten Boyolali terpaksa kembali memakai kayu bakar dan arang kayu untuk memasak sehari-hari, gara-gara minyak tanah langka belakangan ini. Mereka heran, mengapa minyak tanah sudah langka padahal konversi minyak tanah ke gas elpiji baru akan dilakukan Maret mendatang.

Sri Sayekti (45), warga Dukuh Jetak, Desa Jembungan, Kecamatan Banyudono mengaku mulai kesulitan memperoleh minyak tanah dalam dua pekan terakhir. Kalau pun minyak bisa didapatkan, harga di tingkat pengecer sudah 3.000/liter.

Kelangkaan minyak tanah, menurut para pemilik pangkalan, disebabkan oleh berkurangnya pasokan dari agen. Menurut Sridadi, pemilik pangkalan di Dukuh Kwojowetan, Desa Jembungan, pasokan berkurang 25 persen lebih. Dia biasanya mendapat jatah dua kali seminggu. Yaitu, Selasa 2.000 liter dan Jumat 3.000 liter. Namun, kini pasokan dikurangi menjadi 1.400 liter dan 1.800 liter.(G10-58)

Jalan ke Giribangun Diperbaiki

KARANGANYAR- Makin kritisnya mantan Presiden Soeharto berimbas ke Karanganyar dan Solo. Sejak Selasa lalu, berbagai persiapan sudah dilakukan. Rapat koordinasi digelar, diikuti wakil dari Pemkot Solo, Pemkab Karanganyar, pengurus kompleks makam Giribangun, dan pengurus di Ndalem Kalitan. Rapat digelar lagi untuk pemantapan di Ruang Podang Kantor Setda Karanganyar, Rabu lalu.

Menurut Wakil Bupati, Sri Sadoyo, rapat sekadar bagi-bagi tugas jika memang akhirnya takdir itu datang. Meski demikian, dia menegaskan, semuanya hanya antisipasi, sebab datangnya waktu bukan menjadi kuasa manusia, melainkan Tuhan yang berkehendak.

''Sekarang ini kami konsentrasi memperbaiki jalan menuju Astana Giribangun yang terkena longsor sampai tinggal separonya. Kalau setiap hari selalu digunakan lalu lintas warga, dan nanti semakin rusak, kan berisiko. Sebab, suatu saat akan banyak tamu datang,'' kata dia.(an-42)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA