| Sabtu, 12 Januari 2008 | WACANA |
Surat PembacaHutan Cepu-ku MalangJika pernah melewati kawasan hutan jati di Kabupaten Blora khususnya sebelah timur antara Jepon sampai Cepu, sejauh mata memandang saat ini yang ada hanyalah gundulnya hutan karena penebangan liar dan pencurian. Menyedihkan. Dulu waktu saya kecil kalau mau ke Cepu mulai dari Kecamatan Jepon, Jiken, Sambong sampai Cepu pemandangan di kanan-kiri sejauh 36 km yang terlihat teduhnya hutan jati yang begitu lebat. Perjalanan dari Blora ke Cepu terasa sangat nyaman dan sejuk tanpa terasa panas sedikit pun. Namun sekarang situasi dan kondisinya sungguh berbeda 180 derajad. Panas, gersang karena hutan 95% rusak akibat penjarahan. Siapa pelakunya, jawabnya semua orang tentu tahu. Namun tak satu pun yang berani bicara. Sebagai orang asli Blora saya paham betul pelaku penjarahan, siapa lagi kalau bukan para oknum didukung para cukong. Merusak dan menjarah hutan dalam radius ratusan hektare tentu bukan sembarang orang bisa melakukan, kalau tidak dengan sistematis dan terorganisasi. Penduduk sekitar hutan dengan peralatan manual dan seadanya jelas tak mungkin. Jangankan kok menjarah, penduduk di sekitar hutan dilarang keras mengambil rencek/kayu kecil. Ini berbeda dengan para pencuri berseragam yang profesional. Cara kerja penjarah modern ini menggunakan alat berat dan hasil dari menebang kayu langsung masuk kontainer setelah diberi surat jalan oleh "oknum petugas". Kalau mau jujur, seandainya hasil hutan jati di Kabupaten Blora dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat sekitar tentu saja orang Blora akan kaya. Namun kenyataannya sebagian besar penduduk yang tinggal di pinggiran hutan jati mayoritas miskin. Lantas apa tindakan aparat mengatasi illegal logging ini?. Ada segelintir tersangka yang ditangkap untuk selanjutnya diproses ke meja hijau. Tetapi diproses untuk dilepas dan sampai sekarang kasusnya dipetieskan. Kalau hutan sudah rusak parah dan tak bisa menyimpan air lagi bencana tinggal menunggu waktu. Bagaimana Bupati Blora dan jajarannya menyikapi hal ini? Agus Setyanto (085 257 054 781) Jl Zebra Tengah II/3, Semarang Sang Pemimpi ''ngguh berbisa sengatan sikap pesimis. Ia adalah hantu yang beracun. Sikap itu mengekstrapolasi sebuah kurva yang turun ke bawah dan akan terus turun hingga membuatku menjadi pribadi yang gelap dan picik". Kalimat tersebut adalah potongan paragraf dalam novel fenomenal yang inspiratif karangan Andrea Hirata berjudul Sang Pemimpi. Saya begitu "tersengat" membacanya. Andrea benar sekali. Di dalam kehidupan sehari-hari, saya termasuk orang yang tidak suka bertemu dengan orang pesimistis, kadang juga yang realistis. Sekali lagi saya sepakat dengan Andrea ketika dia menulis "...sikap realistis sesungguhnya mengandung bahaya sebab memiliki hubungan linear dengan perasaan pesimistis. Realistis tak lain adalah pedal rem yang sering menghambat harapan orang". Saya merasa tidak penting bila dalam hidup diisi ketakutan untuk bermimpi besar, ketidakpercayaan diri untuk menerima amanah besar dan ragu untuk mencoba hal besar yang ada di depan mata. Hidup hanya diisi semangat untuk hidup pada hari itu saja. Menjalani hidup begitu-begitu saja tanpa keberanian untuk bermimpi. Tanpa semangat untuk melakukan sesuatu yang besar. Ketika orang lain berkata: "Jangan bermimpi terlalu tinggi, nanti kalau tidak kesampaian jatuhnya sakit"., maka saya ingin sekali dapat menanggapi dengan mantap: "Ada apa dengan jatuh yang sakit. Bukankah ketika mulai belajar berjalan, sering sekali jatuh. Kalau pada waktu itu, menyerah dan tidak mau mencoba lagi, mungkin sampai saat ini tidak akan mampu berjalan. Saya ingin meyakinkan kepada diri sendiri, sesungguhnya jatuh atau gagal adalah hal biasa dalam kehidupan. Saya mengajak semua saja generasi muda bangsa untuk bersama menjadi orang yang optimistis, percaya diri dan berani untuk bermimpi besar. Tak ada ruginya bermimpi. Apalagi bermimpi termasuk salah satu dari sedikit perbuatan yang tidak dikenakan biaya sepeser pun alias gratis. Dwinanda Ardhu S Jl Dahlia I/D-316 Tembalang, Semarang *** Payung Hukum bagi Korban Tertimpa Pohon Trenyuh rasanya membaca berita para korban yang tertimpa pohon pada saat hujan, ramai-ramai menadatangi Bapak Wali Kota untuk minta santunan. Di negara maju hal itu tidak akan terjadi karena sudah ada payung hukumnya sehingga warga terlindungi. Bila terjadi peristiwa yang merugikan maka warga tinggal mengajukan tuntutan kepada pemerintah atas kelalaiannya. Bahkan di Hawai, ada petugas yang pekerjaannya mengambil buah kelapa di pantai agar tidak menjatuhi orang yang lewat di bawahnya. Seseorang sampai tertimpa pohon di jalan adalah bentuk kelalaian pemerintah dalam menjamin keselamatan warganya. Padahal salah satu kewajiban yang harus diemban pemerintah adalah menjaga keamanan warga. Nah di sini pemerintah sudah lalai karena tidak menjalankan pengawasan terhadap pohon-pohon yang membahayakan. Saya berharap peristiwa tersebut dapat mengetuk hati para wakil rakyat untuk segera memikirkan payung hukumnya agar warga terlindungi. Melalui aturan tersebut ada unsur yang mewajibkan pemerintah serius mengawasi pohon-pohon secara periodik. Warga yang tertimpa pohon tidak usah datang minta santunan, tapi akan otomatis menerima haknya sesuai aturan yang berlaku. Parmanto SH MHum Jl Meranti Raya 301, Semarang. *** Penulis SP = Pemulung? Cucu saya yang kuliah pascasarjana jurusan ilmu politik mengatakan, penulis surat pembaca fungsinya sama dengan pemulung. Lihat pemulung mencari barang rongsokan yang masih layak jual di tong sampah, untuk didaur ulang. Sedang penulis SP mencari kasus kotor seperti pelanggaran hukum, HAM, perampasan hak rakyat atau perbuatan asosial dan kriminal lainnya. Setelah dianalisa dan kemudian kasusnya ditulis di koran. Bedanya pada motivasi, pemulung mencari keuntungan materi untuk biaya hidup sekeluarga, sementara para penulis SP ingin ada kesamaan pandang antara pemerintah dengan para wakil rakyat dan pejabat pelayan publik. Bahwa tujuan bernegara adalah menciptakan masyarakat yang adil sejahtera dan setiap orang harus tunduk dan memauhi hukum. Generasi muda seumur cucu saya yang kelahiran tahun 1975-an memang idealis, sesuai pendidikan dan pandangannya yang belum terinfeksi oleh virus partai politik. Saya tidak menyangka penulis SP disamakan dengan pemulung. Idealisnya mereka memang harus banyak mencari, melihat, membaca apa saja yang terjadi di masyarakat, yang menurut hati nuraninya tidak sesuai kelumrahan atau menyimpang dari kebiasaan tatanan masyarakat berbudaya. Memang benar sebagian besar tulisan berisi kritik dari akar rumput, artinya tidak ada motif politik atau mencari keuntungan apa pun karena penulisnya tergerak hati agar masalahnya menjadi perhatian, syukur ditindaklanjuti oleh lembaga terkait. Bagi sebagian besar pembaca, tanpa kolom ini, koran jadi tidak sedap seperti masakan kurang garam. Saya tidak ingin ini disebut profesi, sebab kalau dalam profesi setidaknya punya kode etik seperti halnya wartawan. Padahal para penulis SP umumnya hanya karena hobi, dimuat syukur tidak pun no problem. Model tulisannya pun bermacam ada yang emosional dengan "keakuannya", ada yang tidak pernah lupa menyitir pendapat pakar. Namun juga ada yang sekadar menyuguhkan tulisan apa adanya dengan bahasa akar rumput. Beda dengan kolom wacana yang memang disediakan untuk para pakar di bidangnya. Namun paling tidak menjadi rantai pengikat antara kolom Tajuk Rencana, Sirpong dan kolom SP. Semoga Suara Merdeka tetap eksis dengan kolom SP. Sudarjo Jl S Parman 61, Purwokerto *** Jangan Putus Asa Semua orang pasti pernah mengalami kegagalan. Banyak yang merenung, meratapi nasib dan akhirnya mundur karena merasa segalanya telah tamat. Padahal semua keberhasilan dan kesuksesan pasti dicapai dengan perjuangan. Jangan mengenal kata kalah dan menyerah sebelum cita-cita tercapai jika sesuatu yang diperjuangkan punya prospek bagus untuk masa depan. Maju terus pantang mundur dan jangan patah semangat. Jadikan penghalang sebagai tantangan. Bergerak maju pakai semua jurus dan kecerdikan untuk dapat mengalahkan penghalang. Seperti jika ada masalah, hadapi dengan tenang serta jangan panik. Putus asa adalah musuh terbesar untuk meraih keberhasilan. Panik adalah hambatan untuk mendapatkan jalan terbaik, malah kesalahan demi kesalahan akan didapatkan. Berpikir jernih, tidak mudah marah karena datangnya masalah yang mungkin silih berganti. Tetap jadikan semua persoalan kehidupan sebagai latihan agar makin kuat dan percaya diri. Kalau persoalan dibayangkan demikian besar, maka kekuatan kita akan kecil, loyo, lemah. Andreas Adhy Aryanto(EI) Jl Hayam Wuruk 62, Purwodadi *** Pensiun, Masa Loyo ? Saya beberapa waktu lalu ikut Kirab Budaya di Solo mengawal mobil KONI yang mempromosikan Pekan Olahraga Provinsi Jateng 2009. Saat itu bisa bertemu dengan peserta kirab lain yaitu Perhimpunan Mantan Karyawan Balai Kota Solo. Walau sudah pensiunan mereka masih segar, penuh semangat. Saya pun mengenalkan komunitas Epistoholik Indonesia (EI) sambil merayu agar mereka bersedia terjun berkiprah dalam aktivitas menulis surat pembaca. Aktivitas ini menyehatkan otak dan membuat awet muda, begitu promosi saya, sambil membagi kartu nama. Promosi saya ternyata belum berhasil. Hemat saya, sayang bila potensi ratusan ribu atau jutaan kaum pensiunan yang ada di negeri ini tidak dioptimalkan, baik pengetahuan sampai kearifan yang terpendam pada dirinya justru di masa puncak aktualisasi sebagai individu yang merdeka. Adalah Dr Mary Furlong, pakar internet AS yang menaruh perhatian kepada kaum warga usia lanjut. Dia menemukan istilah bahasa Prancis, troisieme age (usia ketiga) untuk sebutan periode kehidupan saat seseorang bebas melakukan apa yang diinginkan. Periode usia pertama, seseorang berkembang sebagai pribadi. Periode usia kedua, mengejar karier dan membentuk keluarga. Di usia ketiga adalah usia pensiun di mana dirinya menjadi miliknya sendiri. Berbeda dari anggapan bahwa masa pensiun adalah saat diri tidak Iagi dibutuhkan, lalu menjadi apatis dan loyo. Sebenarnya masa pensiun merupakan waktu terbaik untuk mengembangkan kreativitas, terus belajar dan terus bereksplorasi. Fenomena di Amerika tentang warga usia lanjut yang tetap aktif dan terus belajar ditunjukkan dengan data bahwa pengguna iternet yang terbanyak justru berasal dari kelompok demografis usia 50-an ke atas. Alias kaum usia ketiga, para pensiunan. Bambang Haryanto (081329306300) Jl Kajen Timur 72, Wonogiri *** Ngeyel Tak Berprinsip Ngeyel adalah salah satu budaya bangsa yang kurang terpuji. Dalam bahasa Jawa diartikan tidak mau mengakui secara ksatria kesalahannya baik kecil maupun besar bahkan selalu ditutup-tutupi. Lebih konyol lagi mencari kambing hitam. Budaya ini berkembang sejak anak masih balita sampai dewasa dan lanjut usia dan para intelektual juga ikut-ikutan. Jika ada yang tidak benar selalu menutupi dengan bermacam alasan yang tidak masuk akal. Dari sifat konyol itu timbul kebohongan dan ngotot yang orang Jepang menyebut sebagai uso. Budaya tersebut tdak terlihat pada orang Jepang umumnya. Kesalahan sekecil apa pun dengan jujur mererka mengakui kesalahannya dengan ucapan gomen nasai shitsureshimasu. Pernah saya menulis di surat pembaca beberapa waktu lalu, orang Jepang bahkan berani mempertaruhkan nyawanya dengan cara harakiri/suduk selira yang diindikasikan menjurus pada kesalahan. Tapi di negeri ini kesalahan justru selalu ditutupi dengan cara lempar batu sembunyi tangan. Tidak ada orang yang mau mengakui kesalahannya secara ksatria. Apakah budaya ngeyel akan terus berlarut-larut dan akankah membawa jiwa besar atau malah kehancuran. Budaya agung bangsa yang adiluhung pelan-pelan akan lenyap. Mari pertahankan dan abadikan sejauh jiwa masih berpikir bersih. Apakah tidak malu dengan negata tetangga kalau kita dicap pembohong dan ngeyel. Stop budaya ngeyel, hidupkan budaya jujur. Bambang Poernomo Jl Raya 36 Kranggan, Temanggung. *** Tawarkan Lukisan Saya Wulan Kartika Ningrum, hobi menari dan melukis. Suami saya MG Budiono dan beberapa teman tergabung dalam Sanggar Wasesa (Wahana Seni Rupa Salatiga) yang saat ini bingung memasarkan lukisan hasil karya mereka. Saya menawarkan kepada siapa saja yang ingin memesan lukisan dengan harga terjangkau, mulai Rp 500.000 sampai Rp 3.000.000 (belum termasuk harga pigura). Di antara anggota Wasesa juga memiliki keterampilan lain seperti membuat taman, karangan bunga, sterofoam untuk dekorasi, merancang dan membuat pernak-pernik dekorasi. Hubungi saya di 0856 4119 1057 atau ke sanggar Jl Argodarmo I/3 ABC, Salatiga. Wulan Kartika Ningrum Menghijaukan Kembali Sebagai salah satu peserta penanaman 11.400 pohon di area perusahaan tekstil Apac Inti Bawen beberapa waktu yang lalu, saya melihat hal ini sebagai gerakan bagus meski sangat terlambat. Lewat satelit terlihat hutan hijau kita secara signifikan telah berubah menjadi gundul. Penyalahgunaan HPH dan illegal logging terjadi di mana-mana dengan memanfaatkan beking oknum aparat dan preman. Kenapa mesti mencuri di hutan sendiri, padahal kekayaan alam itu jatah anak cucu kelak. Berarti telah merampok hak mereka, apalagi hasil merampok tersebut untuk dipersiapkan bagi anak cucu. Secara tidak sadar mereka telah mencetak generasi perampok. Bukan tidak mungkin mereka kelak akan lebih ganas dan serakah lagi dibanding bapak atau kakeknya. Kadang banyak yang geram melihat polah tingkah gerombolan penebang liar. Lha mbok sekalian melebarkan sayapnya dengan membabat hutan Amazon yang masih sangat hijau itu. Dijamin dapat banyak kayu log yang tua dan besar-besar Jangan beraninya sama bangsa sendiri. Bangsa ini sudah sakit, jangan ditambah sakitnya Noor Rofiq Jl Wamena V/228-229, Ungaran *** Sekolah Gratis ? Pemerintah terus mengurangi subsidi BBM menuju penghapusan total dengan alasannya yang menikmati subsidi BBM adalah orang kaya. Kini banyak wacana yang muncul dari pemerintah daerah bersama DPRD yang ingin menggratiskan sekolah mulaii SD sampai SLTA. Anggaran pendidikan 20% saja belum dapat dipenuhi hingga rasanya berat bila sekolah digratiskan. Seandainya memng digratiskan, tentu ada yang dikorbankan yaitu mutu pendidikan, sebab untuk meningkatkan mutu pasti tidak lepas dari dana. Padahal pemerintah belum bisa memenuhi anggaran pendidikan 20%. Untuk memenuhi kebutuhan pendidikan masih mengharap bantuan hibah dari pihak luar. Oke, program sekolah gratis dapat diwujudkan tapi diperuntukkan bagi anak keluarga miskin, anak yatim piatu, anak jalanan, anak cacat dan yang bertempat tinggal di daerah terpencil. Namun jika untuk umum, anak keluarga kaya maka kasusnya seperti subsidi BBM. Si kaya turut menikmati. Semua harus sadar, pendidikan di negeri ini tertinggal jauh dibanding negara tetangga. Untuk mengejar ketertinggalan tersebut diperlukan waktu dan dana yang besar. Kemajuan suatu bangsa tidak mungkin dicapai tanpa pendidikan yang bermutu baik. Karena itu pemerintah sebaiknya memokuskan mutu dengan mewajibkan setiap sekolah menciptakan satu bidang unggulan yang disesuaikan dengan karakteristik sekolah. Unggulan bisa muncul dari olahraga, kesenian atau mata pelajaran lain sehingga nantinya lahir suatu slogan "Tiada Sekolah Tanpa Mutu''. Ali Farkan Pabelan RT 1/RW 1 Kab Semarang. |