| Sabtu, 12 Januari 2008 | WACANA |
Debat: Mahasiswa di Tengah Global WarmingTetap Optimistis
DI era generasi platinum yang muncul pada awal abad ke-21, masa depan bumi dihadapkan masalah krusial berupa perubahan iklim. Belakangan ini, suhu bumi terasa makin panas. Kita harus mampu memberi solusi terhadap problem pemanasan global, yang mampu meminimalkan emisi gas karbon yang menyebabkan efek rumah kaca. Penyebab utama global warming antara lain pembakaran bahan bakar fosil (batubara, minyak bumi, dan gas alam) yang melepas gas rumah kaca (GRK). Elemen GRK yang memberi kontribusi dominan bagi pemanasan global adalah karbondioksida (CO2) sebesar 82 persen, serta gas methan (CH4) sebesar 15 persen. Inti dari perubahan iklim adalah kegagalan sistem pasar dalam mengakomodasi masalah lingkungan, sehingga proses ekonomi meninggalkan persoalan serius seperti penipisan lapisan ozon, kehancuran keragaman hayati, dan perubahan iklim, serta memperburuk situasi kemiskinan. Sebuah analisis pakar menunjukkan, dampak perubahan iklim ekstrem di Indonesia sepanjang tahun 1981-1990 menyebabkan penurunan produksi pertanian rata-rata 100.000 ton/tahun per kabupaten. Bahkan periode tahun 1990 dan seterusnya diprediksi telah berlipat tiga kalinya. Dampaknya, ketahanan pangan dapat terancam. Meningkatnya suhu bumi telah menanduskan tanah, serta meningkatkan hama dan penyakit. Krisis pangan akan memicu problem yang harus ditangani serius, guna mencegah kelaparan sesuai dengan salah satu tujuan Millenium Development Goals (MDGs). Fakta-fakta ini patut diwaspadai, agar tak menimbulkan kerugian yang makin besar. Pemanasan bumi adalah milik bersama penduduk bumi. Kepentingan bersama ini perlu diselesaikan secara bersama pula, dengan action plan yang riil. Dengan spirit dan jiwa kekeluargaan di bumi, akan mudah terbentuk kesatuan global dan terbangun semangat gotong rotong yang bermuara kepada harmoni. Tidak ada alternatif lain bagi kita selain menyiapkan sejak dini dalam menghadapi dampak perubahan iklim global. Langkah prioritasnya adalah menyiapkan stakeholders untuk beradaptasi dengan perubahan iklim tersebut. Pada gilirannya, masyarakat harus bahu-membahu mewujudkan dunia yang ramah lingkungan. Mari kita hadapi bersama dinamika perubahan iklim global dengan tetap optimistis. (32) |