logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 12 Januari 2008 NASIONAL
Line

Sang Jenderal Besar Soeharto (1)

Senantiasa Diselimuti Dunia Mistik


Dalam kehidupannya, Soeharto tak lepas dari nilai-nilai filosofi Jawa. Ia memang terlahir dari lingkup tradisi Jawa yang sangat kental. Laku prihatin berupa puasa dan semedi biasa ia lakoni. Berkaitan itu masyarakat, khususnya di Jawa, selalu mengaitkan mantan penguasa Orde Baru tersebut dengan dunia mistik.

ADALAH sang ibu, Sukirah yang berperan besar menorehkan ajaran kejawen. Konon, setelah melahirkan Soeharto, Sukirah sempat menghilang selama 40 hari lamanya. Tak ada yang tahu ke mana dia pergi. Setelah pulang ia mengaku bertapa untuk masa depan anaknya yang baru dilahirkannya itu.

Saat menjadi presiden, filosofi itu tik ia tanggalkan. Ia menjalankan kepemimpinannya berdasar tradisi Jawa. Salah satu ciri utama filosofi Jawa yang benar-benar dihayati Soeharto adalah penghormatan terhadap harmoni dan keselarasan hubungan antara manusia dan alam semesta. Dalam menjaga harmonisasi dengan alam, banyak sekali upacara yang dipertahankan oleh Soeharto.

Soeharto percaya dengan mempraktikkan upacara-upacara itu, ia akan memperoleh kebijaksanaan dan harmoni. Ia begitu konsisten menyelenggarakan selamatan, upacara tradisional, baik pada upacara kelahiran, ulang tahun, pernikahan, maupun acara kematian. Itu semua dilakukan agar terjadi keseimbangan.

Bukan hanya dalam kehidupan pribadi dan keluarga Soeharto melaksanakan upacara-upacara kejawen. Dalam menjalankan roda pemerintahan yang dipimpinnya selama tiga dekade, ia juga menerapkannya. Untuk kepentingan dan momen apapun upacara itu dilaksanakan, terdapat satu prinsip utama yang diyakini Soeharto, yaitu harmonisasi.

Dalam konteks kekuasaan, istilah harmonisasi yang dipahami Soeharto sebenarnya tidak berkonotasi pada keselarasan dan kebijaksanaan, melainkan lebih bernuansa pada tindakan-tindakan mempertahankan kekuasaan meskipun harus menempuh jalan kekerasan. Harmonisasi dalam kosa kata pemerintahan Orde Baru juga bermakna penertiban, pendisiplinan, pencekalan dan pembredelan, penculikan, bahkan pembunuhan. Itulah mengapa, upacara-upacara kejawen yang dilakukan Soeharto bagi kelangsungan kekuasaannya jauh dari nuansa keluhuran dan keadiluhungan budaya, tapi lebih bersifat magis-metafisis-pragmatis.

Soeharto sendiri mendapatkan pendalaman pada dunia mistis dari Kiai Daryatmo, seorang guru agama dan mistik Jawa. Dari kiai ini, Soeharto muda mendapat pengetahuan tentang pengobatan, tentang laku, dan tentang semedi. Dalam bukunya, Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya, nama Daryatmo disebut-sebut.

Soeharto mengakui Daryatmo banyak memberi inspirasi dalam perjalanan hidupnya. Bahkan sampai menjadi presiden. Mantan Menteri Penerangan Mashuri bahkan pernah menuturkan, setiap bulan sedikitnya satu kali, Soeharto datang menemui Daryatmo untuk minta petunjuk.

Ritual mistis yang dijalani Soeharto adalah bersemedi atau bertapa di tempat-tempat keramat atau wingit.

Sumber yang pernah mendampingi pria berjuluk The Smiling General itu melakukan laku mistis mengungkapkan, Gunung Lawu jadi tempat favorit Soeharto. Gunung Lawu memang merupakan salah satu pusat kekuatan mistik di Jawa

Selain Lawu, tempat favorit Soeharto bersemedi adalah tempat keramat di Gunung Srandil, Dieng, danau Pacitan, dan sebuah gua di Cilacap. Paranormal Permadi, Adjikosoemo, dan sejarawan MT Arifin membenarkan tempat-tempat itu merupakan tempat yang sering dipakai semedi Soeharto.

Tak hanya bertapa di tempat keramat, Soeharto sering melakukan ritual berendam diri dalam air atau dalam kepercayaan Jawa disebut tapa kungkum. Tapa kungkum itu dilakukan Soeharto sejak muda bahkan ketika sudah menjabat presiden.

Tempat-tempat yang sering digunakan kungkum Soeharto adalah Petilasan Panembahan Senopati di Dlepih, Tirtomoyo, Wonogiri. Pelaku kebatinan yang cukup akrab dengan almarhum Ny Tien Soeharto menuturkan, tempat tersebut sering dikunjungi Soeharto sejak muda hingga menjelang menjabat presiden.

Sedangkan di saat menjadi Pangdam Diponegoro, tempat kungkum Soeharto adalah di Kaligarang, Semarang. Di tempat Soeharto dulu sering kungkum itu, sekarang dibangun sebuah monumen yang disebut Tugu Soeharto.

Setelah menjadi presiden, Soeharto masih sering menjalani ritual itu. Lokasi yang dipilih adalah sebuah tempat di Bogor. Tempat itu bukan lagi lokasi terbuka karena sudah didirikan sebuah bangunan rumah. Rumah ini dimiliki Almarhum Pak Sudjono Humardani, salah satu penasehat spiritual Soeharto.

Tapa kungkum dipercaya tidak hanya berefek secara mistis. Namun juga membangun kekuatan fisik agar lebih kuat dan tahan terhadap serangan penyakit. Seseorang yang rajin melakoninya akan menjadi lebih sehat.

Ia akan memiliki kesehatan organ pernapasan yang tangguh serta tidak mudah lelah meskipun sudah dalam kondisi tua.

Selain laku mistis, putra Sukirah dan Kertorejo itu juga senang mengoleksi pusaka untuk menambah kekuatannya. Salah satu pusaka yang dipinjam Soeharto untuk menambah kekuatannya adalah pusaka andalan Kraton Solo.

Dan tidak hanya itu, Soeharto juga dipercayai memiliki "pendamping". Pendamping ini adalah salah satu Raja perempuan alam bawah laut. Dia adalah kakak seperguruan Nyai Roro Kidul.

Kentalnya nuansa magis dalam kehidupan Soeharto tak urung membuat orang selalu mereka-reka hal-hal mistis dengan apa yang terjadi pada diri Soeharto. Saat akan lengser dari kedudukannya sebagai presiden banyak penanda alam yang sebenarnya telah muncul.

Hilangnya konde sang istri Siti Hartinah Soeharto sesaat setelah meninggal adalah pertanda lepasnya kekuasaan yang digenggam. Kehebatan Soeharto, kata banyak paranormal, terletak pada konde Bu Tien. Selama ini, Bu Tien yang menjadi perantara turunnya wangsit-wangsit penting, karena dia yang secara genetik memiliki garis keturunan dari raja-raja Jawa. Saat konde itu hilang, secara mistik Soeharto tak lagi memiliki legitimasi.

Tanda-tanda berakhirnya kekuasaan Soeharto kian nyata saat palu yang diketukkan Harmoko (Ketua MPR waktu itu) untuk mengesahkan pengangkatan kembali Soeharto sebagai presiden Indonesia periode 1998-2003 pada Sidang Umum MPR 1998 patah menjadi dua. Palu yang patah, begitu tafsir banyak paranormal, adalah simbol bakal berakhirnya kekuasaan Soeharto. Dan terbukti, pada 21 Mei 1998, Soeharto dipaksa melepaskan kekuasaannya, meskipun pendapat yang mengatakan bahwa lengser keprabonnya Soeharto disebabkan oleh konde Bu Tien yang hilang dan palu yang patah belum tentu benar.

Dan kini saat mantan Presiden Soeharto berada di rumah sakit lagi, hal-hal mistis pun kembali menyelubunginya. Salah satunya, sakit Soeharto dikaitkan dengan longsornya Gunung Lawu.

Salah seorang paranormal Prof Limbad (Mbah Lim) menduga umur Soeharto tidak akan lama lagi. Menurut Mbah Lim, tanda-tanda alam memperlihatkan tahun ini akan menjadi tahun terakhir bagi pria kelahiran Kemusuk, Argomulyo, Yogyakarta, 8 Juni 1921 tersebut.

Pertanda alam yang dimaksud Mbah Lim, salah satunya adalah adanya longsor di Tawangmangu, Karanganyar, di lereng Gunung Lawu, pada 26 Desember lalu yang mengakibatkan puluhan orang tewas. Meluapnya Bengawan Solo juga direka-reka sebagai penanda serupa.

Benar tidaknya, hanya Tuhan yang tahu. Tapi dalam Babad Tanah Jawi tercatat, tiga abad lalu ketika Sultan Agung mangkat gunung bergemuruh.

Beberapa hari setelah Mao Zedong meninggal, Negeri Cina diguncang gempa hebat. Beberapa saat sehabis Nehru wafat, Sungai Gangga konon meluap. (Nash/berbagai sumber-09)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA