| Jumat, 11 Januari 2008 | SALA |
Meski Dilarang, 200-an Orang Nekat Mendaki Gunung LawuKARANGANYAR - Saat malam 1 Suro lalu, Suara Merdeka yang memantau lokasi pendakian mencatat sekitar 200-an orang nekat melakukan pendakian ke puncak Lawu. Mereka tidak lagi ditarik retribusi oleh Perhutani seperti biasanya. Bahkan mereka tidak perlu meminta izin, karena Perhutani memang tidak mengizinkan. Hanya, di bawah terlihat beberapa Anak Gunung Lawu (AGL) yang terdiri atas para pemuda sekitar kaki gunung berjaga-jaga dan siaga. Mereka memantau terus para pendaki, sembari berpesan agar berhati-hati. ''Kami siaga jika ada sesuatu. Kami tahu Perhutani masih melarang. Tapi ini sekadar tanggung jawab moral kami selaku pemelihara lingkungan Lawu. Jadi kami akan tetap siaga dan membantu jika pendaki mengalami kesulitan,'' kata Slamet, salah satu AGL. Beruntung Rabu malam itu cuaca cerah dan tidak turun huja, sehingga pendakian tidak terlalu berbahaya. Sore hari, jumlah pendaki masih di bawah 20 orang. Namun menjelang tengah malam, jumlah mereka mulai banyak. Sungguhpun demikian, dibandingkan tahun lalu, jumlah pendaki sangat sedikit. ''Saat 1 Suro 2007 lalu, pendaki hampir 1.500 orang. Sekarang paling 200-an. Sangat sedikit. Mungkin mereka masih takut setelah ada larangan karena bencana,'' kata dia. Tetap Dilarang Perhutani Jateng tetap tidak merekomendasikan lokasi wisata milik BUMN itu dibuka. Larangan itu berlaku sampai batas waktu yang belum bisa ditentukan. ''Kami tetap pada keputusan semula, untuk sementara menutup lokasi wisata. Paling tidak selama kondisi masih rawan bencana seperti sekarang. Jika ada yang nekat, risiko tanggung sendiri,'' kata Suwarno, Kepala Biro Konservasi Perhutani Jateng, Rabu lalu. Sebagaimana diwartakan, puncak Lawu di Cemorokandang, Bumi Perkemahan, Taman Pringgondani, dan Hutan Bromo untuk sementara waktu ditutup untuk wisatawan. Sebab beberapa lokasi itu termasuk rawan terjadi bencana. Larangan itu diberlakukan mulai 1 Januari lalu. (SM, 4/1). Saat mendampingi anggota Komisi B DPRD Jateng menyaksikan lokasi bencana longsor, Suwarno didampingi Administratur Perhutani Lawu Utara Mohammad Iskak mengatakan, pihaknya belum bersedia merekomendasikan membuka tempat-tempat tersebut. ''Sangat rawan. Hujan masih selalu turun, lokasi itu rawan longsor dan sangat licin. Daripada berisiko tinggi, lebih baik sementara waktu tidak usah dipakai wisata dulu. Kalau Gerojogan Sewu, itu wewenang Perusahaan Daerah Jateng. Silakan saja. Tapi yang milik Perhutani ditutup dulu,'' kata dia. Tentang Garebeg Lawu yang digelar oleh Dinas Pariwisata Karanganyar selama bulan Suro, yang berlokasi di beberapa tempat wisata milik Perhutani, dia mengatakan, pihaknya tidak akan melarang. Tapi sebaiknya menghindari pemakaian tempat wisata di empat titik itu. ''Saya tidak menghalang-halangi event Garebeg Lawu itu. Tapi kalau menggunakan empat lokasi itu, kami tidak memberi rekomendasi. Kami tetap melarang karena berbahaya,'' kata dia. (an-63) |