| Jumat, 11 Januari 2008 | OLAHRAGA |
Gubernur Optimistis Tiga Besar
SEMARANG- Gubernur Ali Mufiz menyatakan optimistis kontingen Jateng mampu masuk tiga besar PON 2008. Persiapan yang matang hingga saat ini disebutnya sebagai modal besar untuk mencapai target tersebut. Pernyataan itu disampaikannya seusai menerima audiensi pengurus KONI Jateng di Kantor Gubernuran, Rabu (9/1). Tampak hadir Wakil Ketua Umum I KONI Soenjoto, Wakil Ketua Umum II Soegiyanto KS, Wakil Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi Mugiyo Hartono, Ketua Bidang Organisasi Benny Riyanto, dan beberapa pengurus lain. Gubernur mengatakan, modal lainnya selain pelaksanaan Pelatda Jangka Panjang (PJP) yang sudah terencana baik, juga penampilan sejumlah atlet andalan provinsi ini di SEA Games 2007. Atlet asal Jateng menyumbangkan 11 dari 56 medali emas yang diraih kontingen Indonesia. Hasil itu, lanjut Mufiz, mendapat apresiasi tinggi dari KONI Pusat. "Pelaksanaan Pelatda sentralisasi dimulai serentak Februari nanti. Puncak penampilan atlet diarahkan pada Juli nanti tepat saat pelaksanaan PON. Saya optimistis para atlet mampu berjuang maksimal sehingga mampu mengantarkan Jateng masuk tiga besar," katanya. Nonteknis Mufiz menjelaskan, audiensi juga membicarakan masalah nonteknis dalam pelaksanaan PON. Jateng harus mengantisipasi masalah itu agar penampilan para atlet tidak terganggu. "Nonteknis yang kami maksud di antaranya masalah makan, transportasi, dan akomodasi. Terlebih venue PON nanti tersebar di tujuh kabupaten yang lokasinya berjauhan. Oleh karena itu, KONI harus memikirkan problem tersebut mulai sekarang," jelasnya. Dia mengungkapkan beberapa kendala dalam mempersiapkan atlet. Pertama, penyesuaian tempat pertandingan. Para atlet nantinya harus menyesuaikan diri dengan tempat minimal satu pekan sebelum pertandingan. Kedua, perizinan atlet dalam mengikuti Pelatda dan PON. Mulai Februari, praktis para atlet harus berkonsentrasi latihan terpusat sehingga perlu mendapat izin dari sekolah atau tempat kerja. Namun, Mufiz berjanji pemerintah provinsi akan berupaya membantu memberi kemudahan perizinan sehingga mereka bisa fokus dalam berlatih. "Peralatan juga masih menjadi kendala. Selain beberapa cabang belum memiliki peralatan lengkap, atlet juga perlu menyesuaikan dengan alat sehingga tak kaget pada saatnya bertanding di PON," tandasnya. (H32-78) |