logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 11 Januari 2008 WACANA
Line

Surat Pembaca

Kasus Hukum Soeharto

Awal tahun 2008 merupakan sejarah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara selepas kemerdekaan Indonesia 1945. Hal ini merupakan jalan tumbuhkembangnya dinamika kehidupan di era kemerdekaan dan keseimbangan dalam menegakkan keadilan hukum, seperti yang hangat kali ini yaitu kasus bekas penguasa Orba, Soeharto.

Banyak komentar tentang statusnya yang kurang mencerminkan budaya bangsa dan sering dicap rapuh para penegak hukum. Tanpa ada dukungan spiritual yang berada dalam wadah kejiwaannya maka banyak kasus pelanggaran kini terus bergulir. Tampaknya hal ini malah merugikan pihak Pak Harto yang seakan dicemari oleh masa 32 tahun dalam mengawal pembangunan bangsa.

Kepastian dan ketetapan oleh petinggi penegak hukum yang labil seakan menebar air tuba di bumi Nusantara dan nampaknya sudah menjadi aib. Dari sisi kegagalan dalam mengatasi kasus besar menurut saya yang awam, apa yang dituduhkan kepada Pak Harto selama ini tidak memiliki dasar akurat, hanya sebuah skenario.

Lihat kasus itu mulai dari Presiden Habibie, Gus Dur, Megawati hingga SBY. Hal ini menandakan Soeharto memang sakti. Bukan sakti karena kebal hukum atau tak bisa disentuh hukum tapi jangankan para penegak hukum mampu membuktikan kesalahannya, mewujudkan bentuk dakwaan saja belum ada buktinya.

Bebeda dengan kasus Tommy yang kesalahannya dapat dibuktikan secara hukum sehingga akhirnya menjadi terpidana. Keluarga Cendana menyadari dan merupakan kebesaran keluarga menghadapi masalah tersebut tanpa menggunakan kekuatan kekuasaannya. Demikian juga sekiranya Soeharto bersalah.

Mungkin para petinggi tak mampu menjatuhkan vonis, tapi gerak alam secara global dan serentak akan menuntutnya seperti saat kelengseran Soeharto demi cinta tanah air dan penerapan hukum. Mari hayati kasus ini yang bisa menentukan citra bangsa di mata internasional. Dalam kasus Soeharto, saya memprediksi apa yang dituduhkan tidak akan membawa hasil.

Beliau akan menang dan bebas dari segala tuntutan hukum tanpa ada embel-embel memaafkan karena hukum tidak pernah berpihak pada kata maaf. Hukum memiliki sifat kepastian yaitu berada di sisi keadilan yang sebenar-benarnya. Semoga pihak yang berwenang bekerja ekstra cepat karena sangat menentukan pemerintahan yang tangguh, bersih dan berwibawa.

Harapan saya para pemimpin seyogianya mencontoh keteladanan pemimpin pendahulunya yang cinta terhadap orang bawah dan mengupayakan secara serius program pembangunan demi kesejahteraan rakyat.

Saefudin Zuhri

Karangsari 43 RT 2/RW 5 Karanganyar, Pekalongan.

Tentang BPR Arta Setia

Berkaitan tulisan saaya di Surat Pembaca 5 Januari 2008 tentang BPR Arta Setia'', dengan tulus saya mohon maaf. Setelah diadakan klarifikasi ternyata tidak benar nasabah dirugikan hingga saya anggap masalah ini sudah selesai.

Sugino

Kalipawon RT1/RW 5, Ambarawa.

***

Soal Kartu Mentari

PT Indosat Cabang Tegal mengucapkan terima kasih atas keluhan yang disampaikan Bapak Slamet Makhdor di Dukuhmaja RT 1/RW 1 Songgom Brebes di Surat Pembaca 2 Januari 2008 berkaitan dengan penggunaan fasilitas freetalk 5 jam yang memotong pulsa pada 12 Desember 2007.

Kami telah mengunjungi beliau dan setelah mengadakan pengecekan, ternyata terpotongnya pulsa pada jam freetalk tersebut karena beliau gunakan untuk panggilan ke nomor selain Indosat dan masalahnya telah terselesaikan dengan baik.

Untuk pelanggan Mentari yang punya permasalahan sama, bisa langsung menanyakan dan menyelesaikan ke kantor Pelayanan Indosat Jl Mayjen Sutoyo 42 Tegal. Kami tetap menerima saran dan masukan demi peningkatan kualitas pelayanan terhadap para pelanggan.

Indosat Cabang Tegal

Hotline 0283-325 555.

***

Terima Kasih ADA

Saya dan keluarga 27 Desember 2007 belanja di toko ADA Sediabudi Semarang untuk membeli beberapa stel baju anak. Setelah sampai di rumah, baru sadar ternyata kasir salah dengan menghitung dobel salah satu baju sehingga saya balik lagi untuk mengurus.

Ternyata di luar perkiraan, karyawati bagian baju anak menyambut dengan ramah dan kooperatif. Tanpa menunggu lama masalah tersebut diselesaikan dengan baik dan penuh kekeluargaan. Saya merasa nyaman belanja di swalayan ini.

Ratnaningsih

JI Gaharu Raya 14, Semarang

***

Menjelang Pilihan

Calon Derita Paranoid

Setiap menjelang pilkada entah itu pilkades, pilbup/pilwakot, pilgub atau pilpres maka banyak orang kehilangan jati diri. Bagaimana tidak, terutama para calon akan mengalami paranoid yang teramat sangat bahkan saking takutnya sampai-sampai tidak bisa tidur. Kalau kondisinya sudah seperti ini siapa yang diuntungkan. tentu saja dokter ahli jiwa, toko jamu, apotek bahkan juga paranormal.

Kenapa calon ketakutan, sebab bagi yang menjabat takut kursinya tergeser dan bagi yang belum khawatir ambisinya tak kesampaian. Padahal semuanya sudah keluar modal ratusan jut abahkan sampai miliaran rupiah. Ada banyak kejadian calon mengadakan ritual aneh dengan tidak tidur di rumah selama 40 malam.

Alasannya saat itu banyak santet bertebaran di atas rumah. Ada juga yang mandi 7 bunga dan air dari 7 mata air. Yang lebih mengherankan tiap malam keliling rumah dengan telanjang. Woow dasar gila. Ya, pilkada memang bisa bikin orang jadi tergila-gila dan akhirnya jadi gila beneran apalagi bagi yang gagal. Bagaimana tidak stres, sudah habis miliaran rupiah terkadang tanah/rumah ikut terjual.

Bagi calon berkantong tebal strategi politik yang dipakai dengan kampanye terselubung dan mencuri start. Calon pemimpin yang mencuri start bisa diartikan sebagai prajurit takut kalah sebelum bertanding. Calon pemimpin seperti itu wajib tidak dipilih. Apa jadinya kalau pemimpin yang dipilih hanyalah seorang pecundang.

Agus Setyanto (085257054781)

Jl. Zebra Tengah II/3, Semarang .

***

Kobarkan Optimisme

Usia saya saat ini genap 82 tahun, ikut menegakkan NKRI tahun 1945. Saat perjuangan pascaproklamasi meski persenjataan pemuda pejuang hanya bambu runcing dan senapan usang, toh mampu melawan Belanda sehingga imperalis/kapitalis lenyap dari muka bumi Indonesia. Saya dan kawan-kawan optimistis pasti menang meski banyak korban berjatuhan.

Pada era pemerintahan Soekarno, optimisme tetap menyala untuk persatuan bangsa dan pembangunan dalam karakter bangsa dengan cita-cita setinggi langit. Saya juga tetap optimistis meski saat itu dalam kondisi kekurangan dan kemiskinan. Bung Karno masih bisa menumbuhkan demokrasi tapi bukan demokrasi liberal di mana suara ditentukan oleh uang.

Sayang Bung Karno yang bercita-cita begitu agung ditumbangkan oleh bangsanya sendiri yang didalangi kapitalis dan imperalis serta antek-anteknya. Apa salah Bung Karno?. Apa dia mengkhianati bangsanya atau menjual negara untuk memperoleh kekayaan pribadinya.

Padahal dalam situasi dan kondisi yang tidak kondusif, Bung Karno menciptakan demokrasi terpimpin yang kemudian dicela dan dianggap diktator. Datang kemudian demokrasi Soeharto, Pancasila yang mengorbankan berjuta rakyat yang dipenjara atau dibuang ke P Buru dalam 32 tahun berkuasa. Demokrasi Soeharto dilaksanakan dengan moncong meriam dan bedil. KTP yang OT, BT dan surat bersih diri dan bersih lingkungan merupakan demokrasi tirani.

Hanya segelintir orang saja yang menikmati. Sedang yang tidak pro dikejar-kejar. KKN, korupsi, akal-akalan meraja-lela, rakyat didzalimi, kemiskinan dan kebodohan makin meningkat.

Reformasi yang diagung-agungkan sesudah Soeharto jatuh, sampai sekarang tidak membawa hasil memuaskan. Tahun 2012 bisa-bisa Indonesia akan ambruk jika mental pemimpin bangsa masih begini terus. Itulah yang membuat saya pesimistis. Tetapi Merah Putih tetap akan menjadi simbul kepercayaan dan Pancasila sebagi pelita. Ini yang masih bisa menjadikan saya optimistis.

Bung Karno pernah bilang, jangan sekali-kali menjadi bangsa kintel yang hanya melembung di kandangnya sendiri tapi di luar kandang menjadi kerdil sehingga diledek dan mendapat cengiran oleh bangsa lain dan bisa dicekoki dengan uang. Mari kobarkan optimisme dan jangan terlambat serta tidak tahu arah lagi. Satu-satunya obor adalah Pancasila.

Bambang Poernomo

Jl Raya 36 Kranggan, Temanggung.

***

Air PDAM Demak, Kotor

Sehabis bayar rekening, saya melihat spanduk di depan pintu masuk yang isinya PDAM akan mengutamakan K3 (kualitas, kuantitas dan kontinuitas) kepada pelanggan. Saya memberi masukan sbb: di perumahan Wonosalam Asri kemarau lalu air ledeng mengalir lancar, namun sekarang justru tidak mengalir.

Setelah pukul 09.00 ke atas baru air ledeng mengalir lagi. Padahal saudara saya yang tinggal di perumahan Nusa Indah yang letaknya lebih jauh, air ledeng mengalir lancar dari pagi, siang, sore sampai malam hari. Kedua, air yang mengalir deras terutama pada malam hari sangat kotor, warnanya kuning kecoklatan. Hal ini mungkin disebabkan ada kebocoran pipa ledeng di tengah jalan sehingga kotoran tanah masuk ke dalam pipa.

Bak mandi dalam waktu seminggu sudah kelihatan kotor. Meski disaring dengan filter yang sederhana, kelihatan sekali warna coklat pada bekas penyaringan. Saya berharap slogan yang terpampang, tidak hanya tanpa isi tetapi bisa direalisasi. Kualitas air agar menjadi jernih dan tidak kotor. Kuantitas, agar debit air yang mengalir bisa disesuaikan, pagi siang debitnya lebih banyak daripada malam hari.

Kontinuitas, agar air ledeng yang mengalir bisa lancar tidak macet mengalir macet mengalir. Satu lagi yang saya sampaikan, pada saat listrik padam maka air ledeng pun ikut mati mungkin bisa diupayakan pembangkit listrik selain PLN, misalnya genset.

AF Fakhruddin SH

Jl Sunan Muria 25 Perum

Wonosalam Asri, Demak

***

Ijazah Jadi Jaminan

Iklan di harian ini beberapa waktu lalu memuat lowongan kerja pada lembaga keuangan syariah berbadan hukum koperasi di Semarang. Saya melamar karena pernah mengikuti latihan singkat Bank Syariah. Hanya dalam waktu kurang dari seminggu, saya ditelepon untuk mengikuti tes tertulis dan wawancara.

Akhir wawancara, managernya mengatakan saya memenuhi kualifikasi dan bisa mulai kerja sesudah Lebaran. Pada 29 Oktober 2007 saya dapat panggilan untuk kerja dan harus menyerahkan ijazah asli sebagai jaminan. Ketika baru kerja dua minggu, saya dapat panggilan di perusahan lain dan setelah berdiskusi dengan orang tua, saya mengundurkan diri dari lembaga keuangan syariah.

Di tempat lama gajinya kecil (Rp 400 ribu untuk lulusan S1 sedang di perusahaan lain menawari gaji cukup tinggi. Tanggal 12 November 2007 saya mengundurkan diri dan meminta ijazah asli, tapi saya harus membayar Rp 500 ribu (fotokopi terlampir) sebagai kompensasi sekaligus untuk menebus ijazah asli.

Saya tidak habis pikir karena ketika wawancara, manager tidak mengatakan hal ini apalagi saya belum menandatangani kontrak kerja. Yang membuat heran, hal ini dilakukan oleh lembaga keuangan syariah. Saya imbau kepada pembaca agar berhati-hati menerima tawaran kerja. Tanyakan terlebih dulu aturan mengenai ketenagakerjaan, apalagi bila ijazah asli di tahan sebagai jaminan serta lebih teliti membaca kontrak kerja agar kejadian ini tidak terulang lagi.

Sukma Putrawan SE

Jl Tlogo Poso 1A Pelebon, Semarang

***

Mohon Pinjaman

Kepada Bapak Isnoto di Jl Singotoro 5 Semarang yang menulis di Surat Pembaca baru-baru ini, saya punya tetangga yang memprihatinkan tapi jujur, kuat iman dan pantang putus asa. Betapa tidak, Ibu Wahyuni ini miskin, menanggung ibu dan adik perempuan yang dua-duanya pernah stres dan tidak normal. Suaminya pergi dengan wanita lain membawa anak semata wayangnya.

Sanak famili menjauh tak mengakui dan rumahnya mengontrak hingga 3 kali pindah yang berarti banyak persoalan dan kendala. Salah satunya adaptasi dengan lingkungan baru yang kebanyakan menghina, sinis dan menganggap rendah. Apalagi yang sukses, kaya dengan keluarga lengkap dan normal.

Semiskin dan sesusah apa pun kalau punya keluarga normal masih bisa berbagi pikiran. Saya tak mampu menolong selain membuat surat pembaca ini. Mungkin saya lebih beruntung walau sama-sama miskin tapi punya keluarga normal. Untungnya di antara kenelangsaan Ibu Wahyuni masih mempunyai pensiun dan bisa jualan makanan.

Ibu Wahyuni berharap Bapak Isnoto dan pembaca peduli dan mau memberi bantuan pinjaman lunak jangka panjang bunga ringan yang akan dicicil tiap bulan. Semuanya hitam di atas putih di depan notaris agar bisa membeli gubug bambu hak milik sendiri sehingga tidak pindah lagi. Mohon hubungi 0813 9259 3253 atau alamat saya.

Sumarsih

Krikil RT 4/RW 7 Walitelon, Temanggung

***

Mencari Buku

Berbahasa Jawa

Sejalan diberlakukannya kurikulum baru di mana ada pelajaran bahasa Jawa maka pondok bacaku menjadi kebanjiran pengunjung yang ingin membaca novel cerita berbahasa Jawa. Mereka mencari buku-buku tersebut dalam rangka tugas dari gurunya. Saya telah mencari ke pelosok Kota Semarang tapi hanya menemukan beberapa buku saja.

Melihat kenyataan ini saya bergumam, apakah bahasa Jawa akan hilang ditelan zaman. Jawabnya saya serahkan kepada para ahli bahasa untuk memberi penjelasan. Semoga kenyataan ini segera mendapat tanggapan dari para pengarang bahasa Jawa. Saya mengharap kepada yang mengetahui di mana penjual buku berbahasa Jawa agar memberi informasi. Saya bersyukur kalau ada yang ikhlas dan rela dengan pengertian untuk kepentingan anak bangsa mau menyumbangkan bukunya dan saya siap menjemputnya. Demikian ungkapan keprihatinan terhadap hilangnya koleksi bahasa ibu yaitu bahasa Jawa dan semoga mendapat tanggapan para tokoh bahasa serta pencinta anak bangsa.

Parmanto SH MHum

Jl Meranti Raya 301, Semarang

***

Pipa PDAM Bocor

Lima puluh persen penyebab hilangnya air PDAM karena umur meteran sudah tua, sedang 50 persen lainnya karena pipa bocor, salah mencatat meteran sampai pencurian," kata Direktur PDAM Ungaran belum lama ini. Sebenarnya bukan cuma PDAM saja yang rugi tapi pelanggan juga mempunyai daftar panjang keluhan sekaligus kerugian. Misalnya air keluar icrit-icrit atau hanya angin saja, air keluar tidak lancar, stop kran dol dan lainnyal

Tentang meteran air bukan monopoli meteran tua saja rusak tapi yang baru juga bisa sama. Saya ingat di lingkungan rumah pascapemasangan sambungan baru, yang pertama keluar bukan air bening dan jernih tapi berwarna krem seperti kopi susu ditambah potongan rumput. Kondisi ini juga berpotensi membut dol meteran air walau masih baru. Para pekerja penggali kabel telepon juga perlu diberi rambu-rambu. Bila perlu ada petugas pengawasnya karena sering pipa air bocor terkena pacul mereka. Padahal bila asal tambal saja kemungkinan air bocor sangat besar.

Noor Rofiq

Jl Wamena V/228-229, Ungaran

***

Penulis SP = Pemulung?

Cucu saya yang kuliah pascasarjana jurusan ilmu politik mengatakan, penulis surat pembaca fungsinya sama dengan pemulung. Lihat pemulung mencari baran rongsokan yang masih layak jual di tong sampah, untuk didaur ulang. Sedang penulis SP mencari kasus kotor seperti pelanggaran hukum, HAM, perampasan hak rakyat atau perbuatan asosial dan kriminal lainnya.

Setelah dianalisa dan kemudian kasusnya ditulis di koran. Bedanya pada motivasi, pemulung mencari keuntungan materi untuk biaya hidup sekeluarga, sementara para penulis SP ingin ada kesamaan pandang antara pemerintah dengan para wakil rakyat dan pejabat pelayan publik.

Bahwa tujuan bernegara adalah menciptakan masyarakat yang adil sejahtera dan setiap orang harus tunduk dan memauhi hukum. Generasi muda seumur cucu saya yang kelahiran tahun 1975-an memang idealis, sesuai pendidikan dan pandangannya yang belum terinfeksi oleh virus partai politik.

Saya tidak menyangka penulis SP disamakan dengan pemulung. Idealisnya mereka memang harus banyak mencari, melihat, membaca apa saja yang terjadi di masyarakat, yang menurut hati nuraninya tidak sesuai kelumrahan atau menyimpang dari kebiasaan tatanan masyarakat berbudaya.

Memang benar sebagian besar tulisan berisi kritik dari akar rumput, artinya tidak ada motif politik atau mencari keuntungan apa pun karena penulisnya tergerak hati agar masalahnya menjadi perhatian, syukur ditindaklanjuti oleh lembaga terkait. Bagi sebagian besar pembaca, tanpa kolom ini, koran jadi tidak sedap seperti masakan kurang garam.

Saya tidak ingin ini disebut profesi, sebab kalau dalam profesi setidaknya punya kode etik seperti halnya wartawan. Padahal para penulis SP umumnya hanya karena hobi, dimuat syukur tidak pun no problem. Model tulisannya pun bermacam ada yang emosional dengan "keakuannya", ada yang tidak pernah lupa menyitir pendapat pakar.

Namun juga ada yang sekadar menyuguhkan tulisan apa adanya dengan bahasa akar rumput. Beda dengan kolom wacana yang memang disediakan untuk para pakar di bidangnya. Namun paling tidak menjadi rantai pengikat antara kolom Tajuk Rencana, Sirpong dan kolom SP. Semoga Suara Merdeka tetap eksis dengan kolom SP.

Sudarjo

Jl S Parman 61, Purwokerto

***

Jangan Putus Asa

Semua orang pasti pernah mengalami kegagalan. Banyak yang merenung, meratapi nasib dan akhirnya mundur karena merasa segalanya telah tamat. Padahal semua keberhasilan dan kesuksesan pasti dicapai dengan perjuangan. Jangan mengenal kata kalah dan menyerah sebelum cita-cita tercapai jika sesuatu yang diperjuangkan punya prospek bagus untuk masa depan.

Maju terus pantang mundur dan jangan patah semangat. Jadikan penghalang sebagai tantangan. Bergerak maju pakai semua jurus dan kecerdikan untuk dapat mengalahkan penghalang. Seperti jika ada masalah, hadapi dengan tenang serta jangan panik. Putus asa adalah musuh terbesar untuk meraih keberhasilan.

Panik adalah hambatan untuk mendapatkan jalan terbaik, malah kesalahan demi kesalahan akan didapatkan. Berpikir jernih, tidak mudah marah karena datangnya masalah yang mungkin silih berganti. Tetap jadikan semua persoalan kehidupan sebagai latihan agar makin kuat dan percaya diri. Kalau persoalan dibayangkan demikian besar, maka kekuatan kita akan kecil, loyo, lemah.

Andreas Adhy Aryanto(EI)

Jl Hayam Wuruk 62, Purwodadi


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA