logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 11 Januari 2008 WACANA
Line

Melestarikan Haji Mabrur

  • Oleh Muslich Shabir

SELASA, 25 Desember 2007 lalu, kelompok terbang pertama (kloter 1) jamaah haji Indonesia yang berjumlah sekitar 210.000 orang sudah mulai tiba kembali di Tanah Air setelah 39 hari berada di Tanah Suci menjadi tamu Allah. Kita ikut berdoa semoga mereka semua mendapatkan predikat haji mabrur.

Haji mabrur adalah haji yang dilaksanakan dengan niat karena Allah semata, dengan biaya yang halal dan mengerjakan segala ketentuan berhaji dengan sempurna. Haji itu tidak dicampuri dengan perbuatan dosa, sunyi dari riya dan tidak dinodai dengan kata-kata kotor (rafats), perbuatan yang melanggar aturan (fusuq) dan tidak berbantah-bantahan (jidal).

Lawan dari haji mabrur adalah haji mardud, yakni haji yang dibiayai dengan dana yang tidak halal dan yang biasa dimakan juga dari hasil yang haram.

Ketika orang yang seperti itu mengucapkan talbiyah, Allah menjawabnya: "Tidak ada labbaik dan tidak ada keberuntungan atasmu karena apa yang kamu makan dan apa yang kamu pakai itu haram, sedangkan hajimu mardud (ditolak)."

Haji mabrur merupakan hasil maksimal yang didambakan oleh setiap anggota jamaah haji, karena haji seperti itu menjamin pelakunya untuk masuk surga.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad dinyatakan bahwa haji mabrur itu tidak ada balasan lain kecuali surga, dan kemabruran haji tersebut ditandai dengan memberikan makan dan menyebarkan kedamaian.

Kemabruran haji yang telah diperoleh oleh setiap anggota jamaah itu harus selalu dijaga supaya benar-benar bisa mencapai husnul khatimah ketika sakaratul maut.

Pelestarian kemabruran haji itu bisa dikelompokkan dalam tiga dimensi, yaitu kepribadian, ubudiyah, dan kehidupan sosial kemasyarakatan.

Haji memang mempunyai tujuan yang sangat mulia, yaitu berupa tazkiyatun nafs, penyuci hati dan pendekat hamba kepada tuhannya. Haji mabrur akan memengaruhi orang yang menyandangnya untuk selalu berhati bersih dan berakhlak terpuji.

Imam al-Ghazali menjelaskan, pada diri manusia terdapat empat macam sifat, yaitu sifat sabuiyah (binatang buas), bahimiyah (binatang), syaithaniyah (setan) dan rabbaniyah (ketuhanan). Dia akan bisa mengelola keempat sifat itu secara proporsional dengan didominasi oleh sifat rabbaniyah.

Dengan demikian, dia akan selalu meninggalkan akhlak yang tercela. Dia tinggalkan semua perbuatan yang menyimpang dari hukum, baik hukum Allah maupun hukum negara. Dia jauhi semua yang haram, bahkan yang syubhat sekali pun.

Apabila dia seorang pedagang, maka akan berdagang dengan jujur. Apabila dia seorang pejabat, maka akan menjalankan amanah itu dengan sebaik-baiknya dan menjauhi perbuatan korupsi sekecil apa pun; begitu seterusnya.

Dalam masalah ubudiyah, setiap penyandang predikat haji mabrur selalu meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadahnya, khususunya dalam hal shalat, zakat, puasa, dan membaca Alquran. Bila selama di Tanah Suci -baik ketika di Makkah maupun di Madinah- begitu semangat untuk melaksanakan shalat jamaah di masjid, bahkan hampir tidak ada shalat yang tidak dilaksanakan dengan berjamaah, maka sekembalinya dari Baitullah, kebiasaan yang baik itu perlu dilanjutkan.

Setiap penyandang haji yang mabrur tentu akan melaksanakan shalat wajib lima waktu itu tepat pada waktunya, bahkan ditambah dengan shalat-shalat sunah. Dia selalu rajin ke masjid, sebagaimana yang dia lakukan selama di Tanah Suci. Tidaklah pantas, bila seseorang yang sudah melaksanakan ibadah haji tidak pernah kelihatan di masjid.

Bila kekayaan dan penghasilan penyandang haji mabrur sudah mencapai satu nishab, maka dia keluarkan zakatnya sesuai dengan aturan yang berlaku. Dia sadar bahwa zakat merupakan hak fakir miskin, sehingga bila tidak menunaikannya berarti telah merampas hak mereka.

Di samping itu, dan bagi mereka yang kekayaan dan penghasilannya belum sampai nishab, dia banyak berinfak dan bersedekah. Demikian pula dalam ibadah-ibadah yang lain, seperti puasa sunah dan membaca Alquran, selalu ditingkatkan.

Kaitannya dengan kehidupan sosial kemasyarakatan, penyandang haji mabrur meningkatkan kepeduliannya terhadap masyarakat sekitar dan lingkungan.

Dia sangat memperhatikan keadaan kaum duafa, orang-orang yang dalam keadaan kurang beruntung, dengan bantuan-bantuan yang kongkret. Dia juga tidak pernah merusak lingkungan, tapi justru memeliharanya dengan sungguh-sungguh.

Pendek kata, sekembalinya dari Tanah Suci, orang yang menyandang predikat haji mabrur memulai hidupnya dengan lembaran baru. Dengan membawa haji mabrur, kepribadiannya menjadi semakin kokoh dan imannya semakin tebal. Da tingkatkan kualitas dan kuantitas ibadahnya, baik yang wajib maupun yang sunah.

Dia tingkatkan dalam beramar makruf dan nahi munkar. Dia jauhi apa-apa yang haram, bahkan yang syubhat sekali pun. Dia perbaiki hubungan dengan sesama manusia, dan lebih peduli terhadap kehidupan sekitarnya, terutama kepada fakir miskin dan kaum lemah yang memerlukan uluran tangan. (68)

-- Prof Dr H Muslich Shabir MA, dosen IAIN Walisongo Semarang.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA