logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 11 Januari 2008 WACANA
Line

TAJUK RENCANA

Tetap Menjaga Produktivitas di Bulan Sura

Jumat pagi ini memasuki hari kedua Bulan Sura1941 Saka Jawa, atau Bulan Muharam 1429 Hijriah. Bagi orang Jawa, bulan ini sering disebut sebagai bulan penuh pantangan. Di bulan bulan seperti ini masyarakat tidak boleh melakukan aktivitas-aktivitas seperti misalnya punya hajat mantu, mendirikan atau pun memindahkan rumah, atau pun kerja besar lainnya. Masyarakat Jawa menyebutnya sebagai ora ilok, artinya tidak pantas untuk dilakukan. Sebaliknya masyarakat diminta untuk melakukan ritual yang bersifat penataan ke dalam diri pribadi dalam bentuk-bentuk perenungan, pembersihan diri, menata kembali hati nurani, juga mengendalikan nafsu-nafsu tidak baik.

Menata kesadaran diri itu sangat penting mengingat dalam satu tahun ada 12 bulan, dan selama masa itu kita telah bekerja keras untuk memenuhi segala kebutuhan hidup. Dalam perjalanan satu tahun itu tentu ada perbuatan yang disengaja atau tidak disengaja melanggar batas-batas norma, atau pun agama yang bisa menjadikan hidup dalam kecacatan. Maka dibutuhkan "istirahat" sejenak untuk mengatasi rasa capek yang berlebihan, mengambil nafas sejenak atau pun menata kembali rute yang akan ditempuh kemudian. Atau pun sekadar mengambil air untuk mengatasi rasa lelah, haus atau pun untuk menyegarkan kembali agar tubuh fisik dan mental selalu terjaga baik.

Tetapi bulan Sura yang penuh makna itu seringkali diartikan secara dangkal oleh sebagian besar masyarakat Jawa. Bulan pembersihan diri yang sebenarnya lebih ditujukan untuk merenungkan kembali keberadaan manusia agar tetap terjaga "kebersihannya" di hadapan Tuhan dimaknai dengan ritus kungkum di air sungai, mata air atau pun sendang pada malam menjelang 1 Sura. Kungkum sebenarnya hanyalah ritus simbolik bahwa manusia sedang memasuki bulan "bersih diri" sehingga badan fisik perlu dimandikan. Karena pemahaman yang dangkal seperti itu, maka orang merasa belum "sreg" manakala tidak melakukan upacara seperti itu Sebuah salah kaprah tetapi berlangsung tanpa sikap kritis.

Karena bulan Sura dikategorikan sebagai bulan perenungan, maka sebaiknya dihindarkan dari hiruk pikuk nafsu karena kedua hal itu tidak bisa diberlangsungkan bersamaan. Salah tafsir kembali terjadi, sehingga orang tidak melakukan sesuatu sama sekali. Masyarakat takut kalau larangan itu dilanggar bisa mendatangkan mala petaka. Sementara itu, larangan tersebut lebih berbobot sebagai "tembung jare" atau "kalimat katanya" , katanya begini, katanya bisa begitu, dan seterusnya tanpa pernah dilakukan kajian kritis terhadap makna yang ada di balik itu semua. Tanpa disadari, larangan-larangan tersebut sebenarnya adalah teror dalam bentuk lain. Orang ditakut-takuti tanpa pernah diberi ruang untuk berpikir jernih.

Maka, sebaiknya jika memang bulan Sura tetap dianggap sebagai bulan perenungan, bulan untuk menata diri dalam keberadaannya sebagai hamba tentu akan lebih baik manakala dipahami sebagai waktu untuk menjaga dan mengendalikan empat nafsu yakni nafsu amarah, supiyah, aluamah, mutmainah. Dengan menjaga empat nafsu itu maka sebagai hamba akan semakin jelas keberadaan dan kesadarannya dalam rangka dari mana dan mau ke mana. Dan, manakala empat nafsu itu tidak terjaga maka dalam kehidupannya manusia akan masuk sebagai "manungsa muspra", yakni keberadaannya tidak ada artinya, kecuali hanya untuk menambah ramainya dunia saja.

Lebih dari itu seharusnya bulan seperti ini akan menjadikan kehidupan lebih baik karena jagat akan dipenuhi oleh doa-doa orang yang merenung. Setiap manusia Jawa akan bertanya kembali kepada hati nurani tentang kesadaran keberadaannya, sehingga akan menemukan jalan kembali yang benar.Merenung seharusnya tidak mengurangi produktivitas, karena merenung akan selalu menghasilkan keberadaan lebih baik dari sebelumnya. Jika merenung tidak menghasilkan apa-apa, maka hanya akan diberi makna melamun. Merenung berarti hidup berkesadaran. Dari sanalah masyarakat akan menuju keadaan lebih baik, dan akan lebih baik juga kesadarannya.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA