| Jumat, 11 Januari 2008 | NASIONAL |
Soeharto Kritis Lagi
JAKARTA- Kesehatan mantan Presiden Soeharto dalam dua hari terakhir kembali memburuk, di antaranya terlihat dari kadar hemoglobin (Hb) yang naik turun. ''Kemarin, kadar Hb-nya naik dari 7,9 gram persen menjadi 10,6 gram persen,'' kata Ketua Tim Dokter Kepresidenan Mardjo Soebiandono, Kamis (10/1). Menurut dia, kenaikan kadar Hb tersebut diakibatkan adanya transfusi darah. Sedangkan tekanan darah berkisar 110-120/50 mmHg. Namun, berdasarkan foto paru-paru, terlihat penumpukan cairan bertambah, sehingga fungsi paru-paru masih terganggu. Sampai kemarin, Soeharto masih tergantung pada peralatan medis dan obat-obatan. Bila kondisinya mulai membaik, tim dokter akan mengurangi penggunaan obat-obatan tersebut. Namun atas kondisi seperti itu, Mardjo menyangkal bila Soeharto dalam kondisi gawat. Dia menyebut kondisi mantan Soeharto sebagai kritis. Karena itu, demi kepentingan percepatan kesembuhan, tim dokter masih membatasi kunjungan pembesuk. ''Kondisi Pak Harto masih kritis, tetapi tidak gawat. Sebab kalau gawat bisa terjadi pendarahan. Kritisnya masih menyangkut fungsi jantung dan ginjal yang tidak baik,'' katanya. Menurut mantan Menteri Sekretaris Negara Moerdiono, meski dengan kondisi seperti itu, Soeharto masih dapat tertawa. Apalagi jika putri pertamanya Siti Hardianti Indra Rukmana atau Mbak Tutut bercanda tentang kedatangan dirinya. ''Bila saya menengok, Mbak Tutut bilang pada beliau. Pak, ini dokter Moer datang. Jika sudah begitu Pak Harto tertawa. Mbak Tutut nambahin, ini kan dokter sekaligus satpam. Pak Harto tertawa lagi,'' ujar Moerdiono yang dari pertama Soeharto dirawat selalu membesuk tiap hari. Menurut dia, Soeharto selalu meminta tempat tidurnya diarahkan ke kiblat, agar shalat. Padahal, dirinya sudah dibertitahu jika orang yang sakit tidak diharuskan tidur menghadap kiblat untuk shalat. ''Tapi beliau tetap minta diarahkan ke arah kiblat.'' Mardjo mengatakan, sejak dirawat Jumat lalu, tim dokter telah mengeluarkan cairan dalam tubuh Soeharto sebanyak 3.880 cc, dengan kecepatan 50 cc per jam. Akibat masih adanya tumpukan cairan di paru-paru, tim dokter belum bisa memasang alat pacu jantung Cardiac Resynchronization Therapy (CRT), karena kondisi yang tidak memungkinkan. Dia menjelaskan, pemasangan alat pacu bertujuan untuk mensinkronkan fungsi serta gerakan bilik kanan dan bilik kiri jantung. Pemasangan alat itu tidak hanya mengacu pada naiknya kadar sel darah merah atau Hb. ''Tapi karena masih adanya penumpukan cairan pada paru-parunya pascatransfusi, sehingga CRT belum bisa dipasang. Pemasangan CRT masih harus menunggu kondisi optimal,'' katanya. Menteri Kesehatan (Menkes) DR dr Siti Fadilah Supari SpJP (K) di Klaten menjelaskan, pemasangan CRT ke jantung Soeharto sebenarnya tak banyak membantu. Setelah pemasangan kondisinya bisa lebih baik, tapi tak bisa pulih 100 persen. Butuh waktu sekitar dua jam untuk pemasangan, tapi itu akan sangat berat bagi Soeharto yang sudah memakai CVVH atau Continuous Veno-Venuos Hemofiltration, yakni alternatif pengganti hemodialisis pada pasien dengan komplikasi dan dalam keadaan kritis. CVVH merupakan kombinasi antara hemodialisis (cuci darah) dengan ultrafiltrasi. Menkes mengatakan hingga kemarin, kondisi Soeharto belum membaik. Tim dokter yang beranggota 40 orang masih berupaya untuk menyembuhkan. ''Masih butuh perjuangan panjang, mengingat fungsi ginjal dan jantungan sudah tidak begitu baik. Apa yang jadi kebutuhan akan dipenuhi, kami akan memaksimalkan upaya untuk memulihkan kondisinya,'' kata Menkes. Mardjo juga mengatakan, secara umum kondisi penguasa Orde Baru tersebut masih labil. Bahkan, pernafasan Soeharto belum sepenuhnya baik, disertai dengan adanya keluhan sesak nafas. Sebelumnya, Mardjo mengatakan fungsi ginjal Soeharto masih menurun. Dia berharap, dengan buang air kecil sebanyak-banyaknya, fungsi ginjal tersebut kembali membaik. Membesuk Sementar itu, kuasa hukum Soeharto OC Kaligis mengatakan, saat datang membesuk, mantan penguasa Orde Baru itu sedang dijaga Bambang Trihatmojo. Adapun anak Soeharto lainnya, Mamiek dan Mbak Tutut tidur. Dia bisa melihat penguasa Orde baru tersebut dari jarak sekitar dua meter. Sekitar pukul 16.30, menantu Soeharto yang ramai dibicarakan akibat isu perceraian dengan Bambang Trihatmodjo, Halimah, datang ke rumah sakit. Dua jam kemudian, Sigit Harjojudanto, menyusul ke rumah sakit. Seperti biasanya, keluarga Soeharto tersebut datang dari pintu belakang, dekat kamar mayat. Sama seperti Halimah, Sigit juga tidak banyak berkomentar ketika ditanya wartawan. Ketua MPR Hidayat Nur Wahid bersama rombongan dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) datang ke RSPP. Atas saran dokter, dia tidak bisa bertemu langsung dengan Soeharto. ''Saya ditemui putri beliau, Mbak Titiek, yang menceritakan perkembangan Pak harto hari ini,'' ujarnya. Menurut Hidayat, pro kontra kelanjutan perkara hukum Soeharto harus segera diakhiri lewat jalur hukum. Mantan presiden kedua Indonesia itu, harus segera dinyatakan bersalah atau tidak, untuk kepentingan bangsa Indonesia yang lebih luas. ''Sangat baik bagi kelauarga, Pak Harto, rakyat, dan negara, bila status hukum beliau segera dituntaskan, dan segera selesai, sehingga beliau pun jadi nyaman dengan status hukum yang pasti.'' Dia menambahakan, sepanjang Ketetapan MPR yang memerintahkan agar negara mengusut KKN Soeharto dan kroninya, tidak dicabut, maka pro dan kontra tersebut akan masih berlangsung. ''Masalahnya siapa yang mencabut, karena MPR sekarang tidak diberi kewenangan oleh MPR periode yang lalu, untuk membuat Tap MPR yang bersifat pengaturan. Mencabut itu bagian dari pengaturan,'' kata dia. Menurutnya, Tap MPR tersebut, tidak lagi berlaku bila perintah di dalam Tap MPR itu sudah dilaksanakan. ''Jadi orientasi utama adalah melaksanakan Tap MPR itu.'' Mantan Ketua Umum DPP Partai Golkar Akbar Tanjung kemarin juga datang menjenguk. Akbar tiba di RS Pusat Pertamina Jl Kiai Maja, Jakarta Selatan sekitar pukul 19.00. Dia mengaku tidak bertemu langsung dengan Soeharto. (J21,F5,dtc-46,48) | ||||