| Jumat, 11 Januari 2008 | MURIA |
Bahan Bakar Kompor dari Kotoran SapiMasakan Tidak Berbau Apa punPEMANFAATAN feses (kotoran, Red) sapi untuk keperluan biogas bahan bakar kompor bagi warga Blora merupakan hal yang baru. Warga Kelurahan Bangkle, Kecamatan Blora, sejak akhir tahun lalu, baru mulai memanfaatkan kotoran sapi untuk bahan bakar kompor. Mereka yang melaksanakan program yang digagas Bagian Lingkungan Hidup (LH) Sekretariat Daerah (Setda) Blora itu, belum merasakan manfaat besar dengan adanya pemanfaatan biogas. Namun warga tersebut meyakini suatu saat nanti dengan berbagai pembenahan, biogas akan menggantikan minyak tanah yang selama ini digunakan untuk memasak di dapur. "Gasnya masih sedikit. Nyala api tidak bertahan lama, kira-kira hanya sampai 30 menit," ujar Sarmini (47), warga Jalan Veteran Gang Sentono, Kelurahan Bangkle. Dengan memasukkan tidak lebih dari dua ember kotoran sapi setiap hari, gas yang dihasilkan belum banyak. Sarmini mengatakan, hanya bisa memasok kotoran dari dua ekor sapi yang dimilikinya. Selama ini, biogas yang dihasilkan digunakan untuk memasak air ketika ingin membuat kopi atau teh. Selain itu, untuk menggoreng tempe dan masakan ringan lainnya. "Masakan tidak terpengaruh bau apa pun. Semuanya tak ubahnya seperti memasak di atas kompor minyak tanah," katanya. Proses pembuatan biogas itu diawali dengan memasukan feses sapi dan air dengan komposisi satu berbanding satu ke bak berukuran panjang 4,5 meter, lebar 1,2 meter dan kedalaman 1 meter. Di dalam bak tersebut terdapat kantong plastik yang berfungsi menampung feses dan air. Gas yang dihasilkan, selanjutnya disalurkan melalui selang ke kantong plastik lainnya. Dari sini biogas tersebut disalurkan ke kompor. Dengan pemantik dari korek, api biru menyala rata di kompor. "Nyala api tidak kalah kompor elpiji," tandas Sarmini. Suripah (45), warga Bangkle lain mengungkapkan, kotoran sapi yang biasa dibuang percuma kini bisa lebih bermanfaat bagi dirinya. Ibu tiga orang anak itu menyatakan, biasanya setiap hari menghabiskan satu setengah liter minyak tanah untuk memasak. Kehadiran biogas yang baru sekitar dua minggu di rumahnya itu telah mampu mengurangi penggunaan minyak tanah. Satu setengah liter minyak tanah yang dibelinya dengan harga Rp 4.200 kini bisa bertahan hingga dua hari. "Sedikit demi sedikit manfaat biogas ini terasa," katanya. Harga minyak tanah yang kerap melambung tinggi serta sulitnya mendapatkan kayu bakar untuk memasak di dapur, menjadi alasan utama bagi Suripah (45) warga Bangkle meminta kepada Pemkab untuk mengembangkan program biogas lebih luas lagi. Dia mendapatkan tambahan bahan baku feses sapi dari para tetangganya. Dengan bahan baku yang lebih banyak, dia menyakini gas yang dihasilkan juga lebih besar. Suripah tidak perlu khawatir bakal kehabisan pupuk kompos dari kotoran sapi. Sebab feses sapi tersebut masih bisa dimanfaatkan lagi menjadi pupuk kompos setelah gasnya diambil untuk keperluan memasak. Kepala Bagian Lingkungan Hidup (LH) Setda Blora, Suhadi Somoastro menyatakan, program biogas di tahun anggaran 2007 dilaksanakan di tujuh desa. Yakni Bangkle, Gagakan, Sendangwungu, Sukorejo, Bangsri, Sambong dan Sendangharjo. Pihaknya memberikan bantuan cuma-cuma kepada warga. Bantuan itu berupa seperangkat peralatan guna pemanfaatan feses sapi hingga dihasilkan gas dan nyala api untuk keperluan memasak. Seperangkat peralatan tersebut bernilai Rp 3,5 juta. Pihaknya akan melakukan evaluasi sebelumnya mengembangkan program biogas lebih serius lagi. (Abdul Muiz-76) |