| Jumat, 11 Januari 2008 | SEMARANG |
Pengurangan Minyak Tanah Tetap Dilakukan
SALATIGA- Pengurangan suplai minyak tanah yang dilakukan oleh pemerintah sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi. Dengan demikian tidak ada jalan lain penggunaan minyak tanah oleh masyarakat juga harus dikurangi secara bertahap. Adapun untuk kebutuhan memasak harus menggunakan bahan bakar gas elpiji, yang kini sudah beredar di masyarakat. Kabag Perekonomian Pemkot Salatiga Drs Sri Danudjo mengatakan, program konversi minyak tanah ke penggunaan gas elpiji sejalan dengan rencana pengurangan subsidi. Konversi itu, tidak lain bertujuan untuk pembatasan penggunaan minyak tanah, karena bahan bakar tersebut dinilai sudah sangat mahal. Di Salatiga terdapat sekitar 46 ribu keluarga. Sebanyak 36 ribu keluarga telah mendapatkan tabung gas elpiji 3 kg, kompor, dan perlengkapannya secara cuma-cuma. Seterusnya mereka diharapkan menggunakan gas untuk memasak. ''Meski sudah dikonversi, tetapi minyak tanah tidak langsung hilang. Tetapi suplainya akan dikurangi secara bertahap,'' terang Danudjo, kemarin. Sebagaimana diberitakan, warga mulai mengalami kelangkaan minyak tanah. Kelangkaan itu diduga akibat rencana pengurangan suplai bahan bakar itu mulai 11 Januari mendatang. Di sebuah pangkalan di sekitar Pasar Jetis Salatiga, diketahui harga minyak tanah telah naik drastis dari harga eceran Rp 2.400 menjadi Rp 3.200. Selama ini di Salatiga pasokan minyak tanah dilakukan oleh dua agen dengan jumlah masing-masing 20 ton/hari atau total 40 ton/hari. Jika penguranan sebesar 25 persen, maka jumlah pasokan di Salatiga menjadi 30 ton/hari. Pemilik Agen minyak tanah, H Bambang Soetopo mengatakan, jumlah pasokan 40 ton/hari minyak tanah di Salatiga sebenarnya masih kurang. Karena yang ideal adalah 50 ton/hari hingga 60 ton/hari. Kelangkaan minyak tanah sangat dipengaruhi oleh daerah sekitar, yakni Kabupaten Semarang. Sebab selama ini pembeli minyak tanah untuk kuota Salatiga, termasuk warga Kabupaten Semarang. Kayu Bakar Sementara itu, dampak kelangkaan minyak tanah sangat dirasakan oleh para perajin industri kecil. Mereka menilai penggunaan minyak tanah lebih murah daripada menggunakan gas elpiji. Karena tidak mampu membeli gas, dimungkinkan pula mereka beralih menggunakan kayu bakar atau arang, jika minyak tanah sudah tidak ada di pasaran. Perajin kripik paru, Sutrisno (44) mengungkapkan, masih menggunakan minyak tanah sebagai bahan bakar untuk menggoreng bahan baku paru menjadi kripik. Namun jika minyak tanah sudah tidak ada, akan kembali menggunakan kayu bakar atau arang seperti dulu lagi. (H2-16) |