| Jumat, 11 Januari 2008 | BANYUMAS |
Keong Mas Serang 67 Ha Tanaman PadiBANYUMAS-Tanaman padi seluas 67 hektare di wilayah Banyumas terserang hama keong mas. Tanaman yang terserang merupakan tanaman muda yang baru dipindah dari pesemaian dengan usia antara 5 - 15 hari. Serangan hama keong atau siput murbei itu tersebar di empat kabupaten. Yaitu Kabupaten Cilacap 41 Ha, Banyumas 15 Ha, Purbalingga tujuh hektar dan Kabupaten Banjarnegara empat ha. Kepala Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit (LPHP)/Brigade Proteksi Tanaman Wilayah Banyumas, Suryo Banendro kemarin menjelaskan, tingkat serangan hama keong mas itu pada tingkatan rendah hingga sedang. ''Tanaman padi yang diserang hama itu semuanya tanaman usia muda, antara 5-15 hari. Kalau padi yang usianya sudah lebih dari 25 hari, aman dari serangan keong mas,'' jelasnya. Dia menambahkan, hujan deras yang menyebabkan meluapnya sejumlah sungai dan sawah tergenang, menjadi pemicu meluasnya serangan hama itu. Saat terjadi luapan, keong ikut terbawa masuk ke sawah. Meski sawah tak diairi, keong mas mampu bertapa di dalam lumpur pada kedalaman 15-20 cm selama empat hingga enam bulan. Ketika sawah diairi untuk ditanami, keong mas keluar dari pertapaannya untuk bertelur. Satu keong dewasa bisa bertelur tiga hingga empat kelompok. Satu kelompok bisa berisi 500 - 800 butir telur. Pada awal Januari yang merupakan puncak musim tanam, keong mas bermunculan. Tanaman padi di sawah yang baru ditanam menjadi makanan empuk hama itu. ''Keong mas hanya memakan tanaman yang masih muda karena batang dan daunnya belum mengeras. Tanaman padi muda yang diserang hama itu, daunnya patah. Tanaman tak bisa tumbuh karena batangnya dimakan. Tanaman padi usia 25 hari ke atas tak dimakan karena batangnya sudah mengeras,'' jelasnya. Suryo mengatakan, dengan munculnya hama keong mas tersebut, LPHP bersama Dinas Pertanian di empat kabupaten, bersama petani telah bersama-sama melakukan pengendalian hama. Pengendalian dilakukan dengan cara mengambil keong mas dari persawahan. Keong mas tersebut bisa dimanfaatkan sebagai campuran pakan bebek. Tapi ada juga keong tersebut dikumpulkan lalu dilindas hingga mati. Untuk memudahkan pengambilan keong di sawah, petani bisa membuat jebakan di petak sawah yang ukurannya satu meterpersegi. Pada lubang jebakan diberi daun keladi sebagai pakan yang sangat disukai keong. Setelah terkumpul, keong langsung diambil. Bisa juga menggunakan jaring pada saluran air, sehingga keong yang terbawa arus air tak masuk ke sawah. ''Ada juga yang menggunakan bahan kimia berupa pestisida. Bisa juga dengan cara nonkimia yaitu buah pinang ditumbuk lalu ditebarkan ke sawah. Air yang tercampur pinang tersebut membuat iritasi pada keong sampai akhirnya mati,'' terangnya. Pengendalian terhadap telurnya juga bisa dilakukan agar telur tak menetas menjadi keong dewasa. Caranya dengan membuat ajir (trucuk) bambu yag dipasang di tepi sawah. Ajir bambu itu akan menjadi tempat bertelur keong mas. Keong mas tak mungkin bertelur di tempat basah. Setelah ajir penuh dengan telur, bisa diambil lalu ditenggelamkan. Telur keong mas kalau kena air tak bisa menetas karena busuk. Menurut dia cara pengendalian keong mas itu telah ditularkan kepada petani lewat petugas pengamat hama di lapangan. Kalau hama itu muncul, petani sudah bisa mengetahui cara pengendaliannya.(G23-55) |